Kasus Keracunan Massal Program MBG Merebak di Berbagai Daerah
Ratusan siswa dan guru di berbagai wilayah Indonesia mengalami gejala keracunan makanan setelah menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pekan awal September 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan dan fasilitas medis setempat, peristiwa ini melanda puluhan sekolah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, hingga Aceh.
Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sebanyak 256 siswa dan guru SMPN 1 Kabuh dilaporkan mengalami diare, mual, serta pusing usai mengonsumsi makanan dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) Mangunan pada Rabu (2/9/2026). Sebanyak tujuh siswa harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kabuh karena mengalami dehidrasi dan kondisi lemas.
"Hari ini tadi sampel diambil, besok langsung dikirim ke Surabaya," kata Kepala Dinas Kesehatan Jombang Hexawan Tjahja Widada kepada wartawan saat menjelaskan pengiriman sampel hidangan berupa nasi, udang saus padang, tahu, dan tumis sayur ke laboratorium.
Dinas Kesehatan Jombang mengutamakan tindakan medis bagi seluruh korban sebelum melangkah ke proses penyelidikan penyedia makanan.
"Jadi setelah evakuasi untuk pasiennya, kita melakukan tindakan, yang menjadi acuan kita adalah pasiennya dulu. Jadi pasiennya ditangani dulu, sudah ter-cover semuanya, baru kita tunjuk tadi cek ke SPPG," ucap Hexawan Tjahja Widada.
Ia menambahkan bahwa gejala awal yang dirasakan para siswa sempat dikira masalah pencernaan biasa oleh warga.
"Jadi kejadiannya mulai dari kemarin, Rabu (2/9). Awalnya orang menganggap diare biasa, tetapi setelah datanya dikumpulkan ternyata jumlahnya banyak," kata Hexawan Tjahja Widada.
Pihak dinas menegaskan penanganan medis menjadi fokus utama mengingat jumlah kasus yang berpotensi terus berkembang.
"256 ini. Ya kan masih bergerak terus, nanti apakah ada yang masuk lagi di Puskesmas atau tidak," ucap Hexawan Tjahja Widada.
Mengenai kondisi pasien rawat inap di puskesmas, pihak medis memastikan keadaan para siswa mulai membaik.
"Yang tujuh ini kondisinya lemas. Sebetulnya kondisinya sudah bagus, paling rehidrasi saja. Mungkin besok sudah pulang," ujarnya.
Kejadian serupa juga dilaporkan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 725 murid dan 25 guru SMA Negeri 1 Lasem mengalami keluhan pusing dan mual massal pada Kamis (3/9/2026).
"Coba didata masing-masing ada berapa anak yang diare? Ternyata saat itu di on the spot ya, itu ada yang 20 orang, 31 orang dalam satu kelas sampai 33 kelas itu terkumpul 725 anak," kata Kepala SMA N 1 Lasem Juhartutik saat mendeskripsikan proses pendataan siswa di sekolahnya.
Juhartutik menambahkan bahwa deretan tenaga pengajar juga ikut terdampak gangguan pencernaan tersebut.
"Kemudian guru juga, coba nulis gurunya ada berapa? ada 25 yang benar-benar diare, mual, muntah, seperti itu," ucapnya.
Kasus keracunan skala besar lainnya terjadi di Sidoarjo dengan 664 korban, Tana Toraja sebanyak 172 orang, Kabupaten Agam mencapai 237 orang, serta Bener Meriah Aceh sebanyak 15 siswa. Bupati Tana Toraja Zadrak Tombeq menegaskan koordinasi medis tengah diprioritaskan.
"Kita sekarang ini fokus bagaimana supaya anak-anak kita yang, diduga ya, diduga korban, itu kita tangani dan sehat. Itu fokus kita sekarang," kata Zadrak Tombeq.
Di Bener Meriah, pihak kesehatan masih menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan kantin dan MBG. Plt Kepala Dinas Kesehatan Bener Meriah Riswandika Putra mengonfirmasi penanganan para pasien.
"Semua sudah tertangani dengan baik. Yang dirawat 15 orang. Jadi malam itu langsung pulang 10 orang, pagi ini lima orang," kata Riswandika Putra.
Ia mengingatkan kepastian penyebab kasus keracunan ini belum dapat disimpulkan secara sepihak.
"Indikasinya itu kan keracunan. Cuma kita belum berani memastikan akibat makanan MBG itu. Karena harus diuji lab dulu ya, baru boleh kita memberikan kepastian," ujarnya.
Menanggapi rentetan insiden ini, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menginstruksikan penghentian sementara fasilitas dapur penyedia MBG di wilayahnya.
"Demi keamanan, operasional dapur SPPG kita hentikan sementara. Amankan dan periksa seluruh prosesnya, termasuk sampel makanan,” ucap Mahyeldi Ansharullah.
Gubernur menegaskan bahwa penghentian tersebut berlaku hingga evaluasi menyeluruh selesai dilakukan.
“Setelah hasil pemeriksaan keluar dan dipastikan tidak ada pelanggaran atau persoalan yang membahayakan, baru operasional dapat dilanjutkan,” kata Mahyeldi Ansharullah.
Saat ini Badan Gizi Nasional bersama dinas kesehatan di tiap daerah telah menghentikan sementara operasional SPPG yang bermasalah untuk pengujian laboratorium menyeluruh.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow