Kecanduan Video Pendek Picu Gangguan Otak hingga Kabut Pikiran

Smallest Font
Largest Font

Kebiasaan menyaksikan video pendek secara berulang di platform media sosial berisiko memicu kecanduan video pendek atau Short Video Addiction (SVA) yang berdampak buruk pada penurunan fungsi kognitif, gangguan tidur, hingga fenomena kabut pikiran (brain fog). Analisis terhadap 23 studi oleh Mona, A, et al dalam jurnal systematic review mengungkapkan kecanduan video pendek dapat merusak proses mental internal manusia, termasuk kemampuan mempersepsikan, mengingat, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. Riset tersebut menunjukkan bahwa kecanduan video vertikal berdurasi singkat dapat menghambat kontrol perhatian seseorang serta mengurangi kemampuan pengendalian diri yang memicu penggunaan adiktif dan impulsif.

Penggunaan video pendek yang berlebihan juga terbukti mengganggu pengambilan keputusan dengan meningkatkan sensitivitas terhadap imbalan instant, sekaligus memicu defisit memori, depresi, kecemasan, dan tingkat stres yang lebih tinggi.

Dampak lanjutan dari paparan layar dan stimulasi video singkat sebelum tidur dijelaskan oleh pakar psikologi klinis Vuong Nguyen Toan Thien. "Anda terus menggunakan ponsel bukan karena membutuhkan video berikutnya, tetapi untuk mempertahankan kebebasan dan rasa memiliki atas hidup Anda," ujar Thien dilansir dari VnExpress.

Ia menjelaskan bahwa kebiasaan menunda waktu tidur demi menikmati waktu pribadi atau revenge sleep procrastination memperparah kondisi brain fog pada pagi hari. Kombinasi paparan cahaya terang layar yang menekan hormon melatonin dan paparan konten cepat membuat otak berada dalam kondisi terus waspada, sehingga memicu kelelahan mental, penurunan kecepatan respons, serta kelalaian detail saat bekerja.

Penelitian dari Harvard Medical School dalam jurnal PNAS turut mengonfirmasi bahwa penggunaan layar sebelum tidur merusak kualitas tidur dalam tahap N3 serta menurunkan tingkat kewaspadaan dan daya ingat jangka pendek. Thien menyarankan penanganan bertahap untuk memulihkan fungsi otak dan kualitas tidur pengguna. "Otak tidak lelah karena terlalu banyak digunakan, tetapi karena jarang diberi kesempatan untuk benar-benar beristirahat," ungkap Thien.

Langkah penanganan yang disarankan mencakup pembatasan waktu aplikasi, penurunan tingkat kecerahan layar, pengalihan ke aktivitas tenang 45 menit sebelum tidur, serta menjauhkan ponsel dari area tempat tidur.

Selain berdampak medis pada kognisi otak, lonjakan popularitas video pendek merubah lanskap konsumsi informasi secara global. Laporan Digital News Report 2026 yang diterbitkan Reuters Institute for the Study of Journalism mencatat 64 persen masyarakat Indonesia mengakses berita melalui platform media sosial dan pesan singkat. Penggunaan TikTok untuk mencari berita di Indonesia telah melampaui angka 40 persen, meningkat dibanding angka 34 persen pada 2025 dan 29 persen pada 2024. Secara global, Reuters Institute mencatat 44 persen responden berusia 18 hingga 24 tahun menjadikan platform video pendek dan media sosial sebagai kanal utama berita, sementara total konsumsi video sosial dunia naik dari 52 persen pada 2020 menjadi 65 persen pada 2025.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed