Keluarga Nepal Selamat di Rumah Tahan Banjir di Dhunge Bazaar
Banjir bandang menghantam Dhunge Bazaar, Nepal, pekan lalu, menyapu hampir seluruh wilayah dengan air, lumpur, dan puing-puing. Namun, sebuah rumah hijau milik keluarga Pyakurel tetap berdiri kokoh dan menjadi simbol keselamatan.
Rumah tersebut dikepung air hingga setinggi atap selama hampir dua jam saat keluarga Pyakurel terjebak di dalamnya. Meski pintu dan jendela jebol, bangunan beton bertulang itu tetap kokoh sehingga seluruh penghuni selamat tanpa luka.
Keluarga Pyakurel terdiri dari Prakash Pandey Pyakurel (45), istrinya, dua anak, dan orang tua mereka yang sudah lanjut usia, dilansir dari Detik iNET. Saat banjir datang, suami istri itu tengah berada di toko, sedangkan anak-anaknya sedang bersiap ke sekolah.
Keluarga itu tidak punya waktu mencari tempat aman dan akhirnya berlari kembali ke rumah untuk berlindung di lantai atas saat banjir menerjang.
"Kami sangat ketakutan. Kami sudah pasrah, merasa ini adalah akhir dari segalanya. Saya katakan kepada semua orang bahwa kita akan mati bersama-sama," ujar istri Pyakurel kepada Telegraph.
"Kami seperti diberi kehidupan kedua. Semua orang menyebut ini keajaiban. Kami sendiri masih tidak percaya bahwa kami selamat. Setelah melihat videonya, kami sungguh tidak habis pikir bagaimana kami bisa selamat," tambahnya.
Chhatra Bahadur Pyakurel (67), kakek dalam keluarga itu, baru saja mengantar cucunya ke halte bus saat banjir datang. Ia mengaku awalnya tidak tahu apakah mereka akan selamat, namun menyadari bahwa tak ada yang bisa mereka lakukan saat itu.
"Saya terus berpikir jika kami semua mati, siapa yang akan mengurusnya?" katanya. Anak laki-laki itu akhirnya aman karena sekolahnya berada di dataran lebih tinggi, dan keluarga berkumpul kembali sehari setelah banjir.
Setelah air surut sekitar satu jam, tetangga membantu keluarga turun menggunakan pipa logam sebagai tangga darurat. Pyakurel menduga rumah mereka selamat karena pilar bangunan tertancap dalam hingga ke lapisan batuan.
Ada pula teori bahwa gundukan bukit di jalur banjir membantu melindungi rumah tersebut. Rumah hijau itu kini menjadi landmark "tahan banjir" di Google Maps dan menarik pengunjung yang ingin melihatnya.
Meski bersyukur selamat, keluarga Pyakurel harus menerima kehilangan dokumen penting seperti sertifikat kewarganegaraan, paspor, dan sertifikat tanah yang hancur.
"Sekarang, semua habis," kata Pyakurel, namun yang terpenting mereka semua selamat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow