Kemendikdasmen Berangkatkan 50 Guru SMK Magang ke Jerman
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengirimkan sebanyak 50 guru SMK untuk mengikuti program magang di Jerman selama tiga bulan pada Selasa (1/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Langkah ini diambil guna meningkatkan kompetensi tenaga pendidik serta menyelaraskan standar pendidikan vokasi nasional dengan kebutuhan industri global.
Pemilihan Jerman sebagai lokasi magang didasari atas pertimbangan matang terkait kemajuan sistem pendidikan dan skala industri di negara tersebut. Pemerintah menilai model sekolah vokasi di Jerman sangat mapan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi terkini.
"Ya pertama, secara internasional memang Jerman ini Jerman, Swiss, Belanda ini kan memang memiliki model vocational school ya, berbeda dengan Amerika, Inggris, atau Australia," kata Tatang Muttaqin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen.
Kapasitas industri Jerman yang masif serta keaktifan negara tersebut dalam menciptakan produk-produk inovatif bernilai tinggi menjadi nilai tambah tersendiri dibandingkan negara Eropa lainnya.
"Bahkan mungkin setiap hari kita lihat, bahkan Ibu-ibu kalau masak pakai Bosch itu buatan Jerman gitu ya. Yang punya mobil pakai buatan Jerman. Yang naik motor juga sebagian yang elit-elit kan buatan Jerman," tutur Tatang Muttaqin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen.
Pemerintah merencanakan evaluasi berkala untuk memetakan kesiapan tenaga kerja di masa mendatang. Pengiriman pengajar ini menjadi langkah awal dari strategi jangka panjang pembenahan sistem vokasi tanah air.
"Tapi ini baru tahap pertama. Insyaallah nanti ke depan kita kembangkan lebih luas lagi karena tidak hanya kemajuan dari sisi industri dan juga pendidikan vokasinya, tapi juga bagaimana nanti dengan kebekerjaan luar negerinya," tutur Tatang Muttaqin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen.
Seluruh peserta magang merupakan guru ASN yang telah melalui proses penyaringan amat ketat. Pengawasan seleksi dilakukan secara presisi guna memastikan para pengajar mampu menyerap materi dan beradaptasi secara cepat selama di luar negeri.
"Mereka menyeleksi sangat ketat karena jumlahnya sangat sedikit dan juga agar lebih optimal bagaimana mereka betul-betul bisa menyerap pembelajaran dan juga menyerap praktik secara lebih baik. Dan di sinilah kita bisa melihat tadi mereka tidak hanya cepat memahami dalam konteks bahasa, dan yang kedua rata-rata juga relatif bukan hanya di bidangnya saja tapi juga relatif lebih muda gitu ya," kata Tatang Muttaqin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen.
Selama berada di Jerman, sebanyak 34 guru ditempatkan di Technical University (TU) of Dresden, sedangkan 16 guru sisanya berada di Festo Germany. Penguasaan budaya industri, termasuk tingkat kedisiplinan dan profesionalisme yang tinggi, menjadi fokus utama pembelajaran selain peningkatan keterampilan teknis.
"Nanti dengan mereka kembali dan bisa mengajar lebih baik dengan praktik lebih baik, maka lulusan juga akan memiliki kompetensi yang mendekati standar yang ada di industri-industri tadi dan juga di perguruan tinggi yangmemiliki vokasi khusus, yaitu di Jerman," kata Tatang Muttaqin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen.
Guna memastikan keberlanjutan program, sistem pengimbasan telah disiapkan oleh pemerintah. Para guru yang telah menyelesaikan program magang wajib membagikan pengetahuan serta pengalaman yang didapat kepada rekan sejawat di Indonesia.
"Jadi Ibu Bapak guru tuh bekerja, sehingga mereka tahu betul bahwa budaya industri itu harus begini gitu ya. Jadi bahwa di negara yang sebebas Jerman pun kedisiplinan, profesional," kata Tatang Muttaqin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow