Kemenkes Siagakan 1.243 Faskes Antisipasi Dampak Erupsi Anak Krakatau

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Kesehatan RI meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan di empat provinsi pascaerupsi Gunung Anak Krakatau pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB. Langkah ini diambil guna mengantisipasi gangguan kesehatan pada 23,36 juta jiwa yang terdampak paparan abu vulkanik, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Pemantauan kualitas udara serta kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan terus ditingkatkan menyusul potensi bahaya abu vulkanik terhadap saluran pernapasan. Wilayah yang berada dalam jangkauan sebaran abu meliputi Lampung, Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

"Kami memastikan sistem pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi dampak erupsi, terutama gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Pemantauan dilakukan secara berkala dan kami meminta fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus gangguan pernapasan," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, di Jakarta (7/9/2026).

Sebagai bentuk mitigasi kedaruratan, otoritas kesehatan telah memobilisasi ratusan sarana medis serta ribuan personel bantuan di 20 kabupaten dan kota terdampak. Fasilitas ini disiapkan untuk merespons potensi lonjakan pasien akibat dampak paparan material erupsi.

"Bantuan logistik kesehatan juga telah dimobilisasi, antara lain lebih dari 100.000 masker N95 dan masker medis, ribuan kacamata goggle, obat-obatan dan alat kesehatan secara gratis ke daerah terdampak paling parah di Lampung, Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta," ujar Aji.

Operasional Public Safety Center (PSC) 119 beserta Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) turut disiagakan penuh di seluruh wilayah terdampak. Langkah tersebut mencakup penyediaan armada ambulans, pos pelayanan kesehatan mendadak, serta penyediaan rumah sakit rujukan.

Kemenkes mencatat adanya kenaikan tren kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat akibat sebaran partikel halus PM2,5. Kendati demikian, temuan kasus pneumonia hingga saat ini belum menunjukkan pola lonjakan yang merata di seluruh daerah.

"Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi paparan, terutama kelompok rentan. Apabila mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan kesehatan setelah terpapar abu, segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan," ujar Aji.

Perhatian khusus diberikan kepada populasi rentan seperti bayi, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Warga diimbau tetap beraktivitas di dalam ruangan, menutup akses udara luar, serta menggunakan pelindung standar seperti masker N95 atau goggles jika terpaksa keluar rumah.

"Yang paling penting adalah masyarakat tidak panik, tetap mengikuti informasi resmi, mengurangi paparan abu, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan. Kemenkes bersama pemerintah daerah dan lintas sektor akan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan," ujar Aji.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed