Kericuhan Unjuk Rasa RUU Perampasan Aset di Depan Gedung DPR Jakarta
Unjuk rasa menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset di depan Gedung DPR Jakarta berujung kericuhan pada Kamis malam, 27 Agustus 2026, yang melibatkan pembakaran pos polisi dan dua sepeda motor serta bentrokan massa di kawasan Slipi dan Pejompongan.
Kericuhan terjadi saat polisi membubarkan massa menggunakan meriam air dan gas air mata, sementara massa melempar batu, kayu, serta botol minuman ke arah gedung DPR, menurut laporan jurnalis BBC Indonesia Quin Pasaribu.
Asap tebal dari pembakaran dan gas air mata memenuhi lokasi, memaksa warga berlarian. Demonstran berasal dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa yang menuntut pengesahan RUU tersebut karena menilai banyak koruptor lolos tanpa pengembalian aset ke negara.
Seorang perwakilan massa dari Universitas BSI menyatakan, "RUU Perampasan Aset harus segera disahkan sesegera mungkin. Karena sudah sangat mengkhawatirkan, koruptor banyak yang lolos begitu saja," ujar perwakilan tersebut kepada BBC Indonesia.
Perwakilan massa menilai DPR takut mengesahkan RUU karena ketakutan aset mereka ikut disita. "Kita turun minta DPR supaya mengesahkan RUU Perampasan Aset. Kenapa DPR tidak mau mengesahkan? Mungkin DPR takut asetnya dirampas," tambahnya.
Kerugian negara akibat korupsi diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah, namun pengembalian uang negara sangat minim, memicu kemarahan publik yang ikut demonstrasi. Nina, warga 52 tahun, menyatakan, "Rakyat keburu miskin duluan, ketimbang koruptornya."
Warga sipil Fanya juga menyuarakan harapannya kepada pemerintah, "Sekali saja pak, sekali saja dengarkan suara kami, bisa tidak?"
Demonstran lainnya mengkritik penanganan bencana nasional, seperti karhutla dan gempa bumi di NTT. Anad, seorang perempuan berkebaya, mengatakan, "Saya seperti diludahi Presiden atas ketidakberdayaannya menangani karhutla dan bencana gempa bumi di NTT, betapa dia tak bisa memahami kegundahan rakyat selama ini," lapor Silvano Hajid dari BBC Indonesia.
Kerusuhan bertambah parah saat kericuhan meluas ke flyover Slipi sekitar pukul 22.30 WIB, dengan bentrokan antara massa aksi dan kelompok berikat kepala putih yang disertai suara tembakan senjata api dan letusan petasan.
Di Pejompongan, dua sepeda motor dan satu pos polisi dibakar oleh massa. Pengendara motor dengan pelat nomor luar daerah terlihat memprovokasi petugas di dekat gerbang Tol Pejompongan.
Akibat kericuhan ini, akses lalu lintas di Jalan Gatot Subroto dan Ruas Tol Dalam Kota ditutup total. Hingga Kamis malam, pihak kepolisian belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai jumlah korban atau penangkapan.
Di tempat berbeda, Front Mahasiswa Nasional memilih ikut Aksi Kamisan ke-922 di depan Istana Merdeka sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah. Ketua Umum FMN, Symphati Dimas, menyatakan, "Keberadaan kami di sini," sebelum orasinya terputus.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow