Kesepian Memicu Perubahan Fungsi Otak dan Dorongan Makan

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Hubungan sosial memiliki peran mendasar bagi kesehatan manusia yang sepadan dengan kebutuhan fisik dasar seperti makanan dan air. Dilansir dari Detik Health, perasaan terisolasi atau kesepian dapat mengaktifkan sinyal stres nyata yang memicu dampak panjang pada otak. Para ahli mengidentifikasi sejumlah perubahan biologis dan perilaku yang terjadi pada otak akibat rasa kesepian.

Riset yang dipublikasikan pada 2020 menunjukkan bahwa kesepian memicu respons saraf yang menyerupai kondisi saat seseorang merasa lapar. Eksperimen dilakukan terhadap 42 peserta yang menjalani isolasi selama 10 jam dan dilanjutkan dengan berpuasa selama 10 jam. Pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) mencatat aktivitas otak yang serupa antara rasa lapar dan kesepian.

Para ahli menilai respons tersebut merupakan upaya alami otak mendorong seseorang kembali membangun interaksi sosial.

Kesepian juga mendorong timbulnya mentalitas yang lebih pesimistis. Perubahan aktivitas pada lobus posterior memicu seseorang memusatkan perhatian pada aspek negatif dari suatu keadaan, sehingga menciptakan lingkaran setan yang memperburuk kondisi emosional.

Rasa takut akan penolakan berulang kerap memicu sikap agresif atau bermusuhan pada sebagian individu. Mekanisme pertahanan diri ini justru menjauhkan dukungan sosial yang sebetulnya mereka butuhkan. Dampak lain yang muncul adalah menurunnya tingkat kepercayaan kepada orang lain. Penelitian pada 2021 yang melibatkan 42 individu dengan kesepian berat dan 42 orang kelompok kontrol memperlihatkan perbedaan respons saat diberi tugas berbagi uang virtual.

Peserta yang mengalami kesepian membagikan dana lebih sedikit dan menunjukkan aktivitas lebih rendah pada area otak pembentuk rasa percaya. Analisis sampel darah serta air liur juga mengonfirmasi rendahnya produksi hormon oksitosin pada kelompok tersebut.

Penurunan Fungsi Kognitif

Kurangnya stimulasi sosial berisiko menurunkan kemampuan berpikir secara berkesinambungan. Sebuah studi terhadap 25 anggota ekspedisi kutub yang menjalani isolasi di Antartika selama 12 bulan mengonfirmasi hal ini.

Selama periode terisolasi, para peserta mengalami penyusutan volume materi abu-abu di area hipokampus dan talamus. Kondisi isolasi sosial dalam jangka panjang ini sekaligus meningkatkan risiko penyakit demensia di kemudian hari.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed