Ketua HPMPI Sebut Bisnis Pertamax di Pertashop Terpuruk dan Terancam Tutup

Smallest Font
Largest Font

Bisnis BBM nonsubsidi jenis Pertamax di Pertashop mengalami penurunan signifikan hingga 75%, menyebabkan ancaman tutup bagi usaha tersebut, kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI), Steven, dalam Rapat Audiensi dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Sebelum kenaikan harga BBM nonsubsidi, penjualan Pertamax di satu Pertashop mencapai sekitar 400 liter per hari, namun kini hanya sekitar 100 liter per hari. Penurunan volume ini disebabkan pelanggan beralih ke BBM subsidi karena perbedaan harga yang signifikan.

Steven menjelaskan bahwa disparitas harga menyebabkan kelayakan usaha menurun. "Maka, yang terjadi adalah disparitas itu menekan kelayakan usaha. Ada selisih harga, kemudian permintaan mulai bergeser dari produk nonsubsidi menjadi ke produk subsidi. Volume penjualan menurun, biaya per liter juga akan naik, dan juga outlet akan terancam tutup," ujar Steven.

Steven juga menyoroti penjualan BBM subsidi oleh pedagang eceran yang masih lebih murah dibandingkan harga Pertamax di Pertashop. Ia meminta DPR memberikan masukan kepada pemerintah untuk menertibkan penjual BBM eceran dan memanfaatkan jaringan Pertashop yang tersebar luas di daerah untuk penjualan BBM subsidi.

"Penertiban eceran. Karena sudah ada jaringan kami, Pimpinan, di seluruh wilayah pelosok Indonesia. Kenapa tidak dimanfaatkan?

Sebab kehadiran kami tentunya membawa hal-hal positif bagi daerah di mana kami berada. Harap ini menjadi pertimbangan, Pimpinan," ujar Steven.

Selain itu, Steven mengeluhkan kompleksitas perizinan yang semakin bertambah, yang berpotensi menghambat usaha Pertashop. Ia menjelaskan bahwa aturan terbaru mengubah kategori usaha Pertashop dari menengah rendah menjadi menengah tinggi, sehingga persyaratan perizinan bertambah banyak dan lebih rumit.

"Tapi di tahun 2026 ini, ada perubahan di mana skala usaha itu dari semula menengah rendah menjadi menengah tinggi. Itu mengakibatkan banyaknya tambahan atau berbedanya persyaratan perizinan yang harus kami urus. Ini juga masih terkendala, pimpinan," terang Steven.

Data dan informasi ini dilansir dari Detik Finance.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed