Kontroversi Makanan Bertekstur Aneh di AS Viral di TikTok

Smallest Font
Largest Font

Konten video makanan dengan tekstur tak lazim tengah ramai diperbincangkan di platform TikTok, khususnya di Amerika Serikat. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendalam dari masyarakat tentang kualitas dan keaslian makanan yang mereka konsumsi setiap hari.

Dilansir dari Detik Food, sejumlah warga AS membagikan rekaman yang memperlihatkan berbagai jenis makanan dengan sifat fisik yang mencurigakan. Di antaranya, es krim yang sulit meleleh meskipun disiram air panas, pisang dan cokelat yang sangat lentur, stroberi bertekstur mirip spons, keju yang tidak mencair di wajan panas, serta roti yang tak menyerap air.

Tidak hanya itu, ada pula video yang menunjukkan kentang yang terlihat normal dari luar, namun bagian dalamnya kosong setelah dimasak. Meskipun video-video tersebut tidak memberikan bukti konkret bahwa makanan-makanan itu palsu atau berbahaya, keanehan tekstur ini cukup memicu kegelisahan di kalangan netizen.

"Kami memahami mengapa video-video ini cepat menyebar luas. Isu ini sensitif karena banyak orang kehilangan kepercayaan terhadap asal-usul makanan yang mereka beli," ujar Justin dan Travis Maderia, CEO Lobster Boys, perusahaan penyedia makanan laut segar.

Di balik fenomena ini, praktik penggunaan bahan tambahan dan pengawet dalam industri makanan di AS memang sudah menjadi hal yang lumrah. Bahan-bahan tersebut digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari memperpanjang masa simpan, menjaga tekstur dan konsistensi produk, hingga memudahkan distribusi dan menekan biaya operasional.

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 2025 menunjukkan bahwa makanan ultra-proses (UPF) menyumbang rata-rata 55% dari total kalori yang dikonsumsi oleh warga AS berusia satu tahun ke atas selama periode Agustus 2021 hingga Agustus 2023. Angka ini bahkan mencapai 61,9% pada kelompok usia 1–18 tahun dan 53% pada orang dewasa berusia 19 tahun ke atas.

Perhatian juga tertuju pada sistem Generally Recognized as Safe (GRAS). Selama beberapa dekade, perusahaan di AS dapat menentukan sendiri bahwa suatu bahan makanan aman untuk dikonsumsi tanpa harus melalui peninjauan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA). Kini, pemerintah mengusulkan aturan baru yang mewajibkan perusahaan untuk memberitahukan pemerintah saat menggunakan bahan yang masuk ke dalam kategori GRAS.

Meskipun demikian, pakar nutrisi Rena Awada menegaskan bahwa tidak semua makanan olahan berdampak buruk. Produk seperti kacang kaleng dan sayuran beku, misalnya, tergolong makanan olahan yang tetap sehat untuk dikonsumsi.

Ahli gizi Jill Darminio pun menyarankan agar masyarakat lebih memperhatikan pola makan secara menyeluruh, termasuk porsi dan pembatasan konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed