Laba ADRO Tumbuh 76,8 Persen Menjadi 309 Juta Dolar

Smallest Font
Largest Font

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan lonjakan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 76,84 persen secara tahunan menjadi 309,37 juta dolar AS atau setara Rp5,49 triliun pada semester I-2026.

Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ditopang oleh kenaikan pendapatan usaha sebesar 16,50 persen menjadi 999,24 juta dolar AS, dari periode sama tahun sebelumnya senilai 857,6 juta dolar AS. Sementara itu, beban pokok pendapatan perseroan hanya naik tipis 0,55 persen menjadi 576,5 juta dolar AS, sehingga menghasilkan laba bruto sebesar 422,6 juta dolar AS.

Kinerja positif emiten pertambangan ini juga disokong oleh segmen jasa pertambangan yang membukukan laba bersih 63 juta dolar AS pada kuartal II-2026, berkat penurunan biaya bahan habis pakai dari 32 juta dolar AS menjadi 18 juta dolar AS. Di samping itu, anak usahanya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), turut mencatat kenaikan pendapatan 31,52 persen menjadi 583,88 juta dolar AS serta kenaikan laba bersih 23,97 persen menjadi 174,18 juta dolar AS.

Investment Analyst Stockbit Group, Theodorus Melvin menilai pencapaian laba perseroan pada separuh pertama tahun ini telah mencapai sekitar 50 persen dari estimasi konsensus tahun 2026.

"Pencapaian tersebut menjadi semakin menarik karena bisnis aluminium belum mencatatkan pendapatan sepanjang enam bulan pertama 2026. Segmen tersebut justru masih membukukan rugi bersih US$ 45 juta," tulis Melvin dalam ulasannya.

Melvin menjelaskan bahwa perseroan memiliki potensi katalis positif tambahan dari pengelolaan persediaan aluminium PT Kalimantan Aluminium Industry senilai 320 juta dolar AS pada akhir semester I-2026, serta tambahan pendapatan dividen dari PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar 34 juta dolar AS.

"Kinerja semester I juga mendapat tambahan dari pendapatan dividen sebesar US$ 34 juta dibandingkan tidak ada pendapatan serupa pada 1H25," ungkap Melvin.

Pengamat Pasar Modal dari Sekolah Saham Indonesia, Raden Bagus Bima menyampaikan bahwa lonjakan kinerja grup emiten pertambangan ini dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas pasar global pada awal tahun.

"Jelang akhir tahun biasanya sektor pertambangan ini dominan menguat karena kenaikan permintaan dan juga investor mulai mengakumulasi seiring potensi nilai dividen yang cukup besar," kata Raden.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menyebutkan faktor utama pendorong margin keuntungan emiten pertambangan tersebut.

"Sedangkan, ADMR mendapat manfaat ganda dari harga batubara metalurgi yang secara historis lebih premium, ditambah kenaikan volume produksi seiring permintaan industri baja global yang membaik," ungkap Abida.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyoroti pentingnya diversifikasi operasional bisnis perseroan di masa mendatang.

"Kunci Grup Alamtri hingga akhir 2026 bukan hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga meningkatkan kualitas laba melalui efisiensi, hilirisasi, diversifikasi komoditas, dan disiplin alokasi kapital," jelas Nafan.

Dari sisi neraca, total aset Alamtri Resources Indonesia tercatat naik 14,49 persen menjadi 7,8 miliar dolar AS per 30 Juni 2026, dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar 6,8 miliar dolar AS.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed