Klinik LIGHThouse Rilis Terapi Tirzepatide Atasi Obesitas dan Food Noise
Kondisi kelebihan berat badan yang berlangsung lama memicu gangguan biologis di otak dan memunculkan fenomena food noise. Tubuh akhirnya menganggap berat badan berlebih tersebut sebagai kondisi normal yang wajib dipertahankan.
Dampaknya, rasa lapar meningkat sementara rasa kenyang justru berkurang. Fenomena ini kerap berkaitan dengan terganggunya respons hormon incretin, seperti GLP-1 dan GIP, yang diproduksi usus untuk mengatur keseimbangan metabolik harian.
Guna mengatasi persoalan ini, LIGHThouse Clinic meluncurkan dua pilihan terapi berbasis tirzepatide, yakni TirzePen dan TirzeSlim. Dilansir dari Detik Health, langkah ini menjadi bagian dari pendekatan medis modern klinik tersebut dalam penanganan berat badan.
"Banyak orang merasa gagal menjalani diet bukan semata-mata karena kurang disiplin. Saat berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang melalui perubahan sinyal hormon dan mekanisme pengaturan nafsu makan di otak. Karena itu, pengelolaan berat badan perlu mempertimbangkan faktor tersebut," ujar dr. Guadelupe Maria Melissa, Medical Manager LIGHT Group.
"Terapi berbasis tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP yang bisa bertahan lebih lama kadar di tubuh. Keduanya berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang, sehingga pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise," imbuhnya.
dr. Guadelupe menambahkan bahwa terapi injeksi hanyalah satu bagian dari perjalanan, sebab terapi terbaik tidak berhenti pada injeksi saja. Keberhasilan jangka panjang tetap memerlukan pendekatan yang komprehensif dan pengaturan pola makan yang dipersonalisasi agar hasil yang dicapai dapat dipertahankan.
Di sisi lain, Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menjelaskan bahwa food noise kerap disalahartikan sebagai bentuk kurangnya kemauan atau disiplin saat diet. Padahal, dari sudut pandang psikologis, kondisi ini terhubung dengan faktor biologis, emosional, kebiasaan, hingga lingkungan.
"Pola pikir membentuk bagaimana seseorang bersikap dan membuat pilihan. Pola pikir dan hubungan dengan makanan yang tidak tepat dapat mempengaruhi pola makan yang juga tidak tepat. Pendekatan psikologis dibutuhkan untuk mengatasi pikiran, dorongan makan serta akar masalah makan yang tidak tepat." jelas Tara.
Program penanganan obesitas idealnya tidak cuma berfokus pada angka timbangan. Penanganan ini dipadukan dengan pendekatan perubahan perilaku dan edukasi nutrisi yang berkelanjutan melalui pendampingan ahli gizi serta psikolog.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow