Liverpool Ditahan Newcastle Saat Performa Isak dan Wirtz Disorot
Liverpool bermain imbang 2-2 saat bertandang ke markas Newcastle United di St. James' Park pada laga pembuka Premier League musim 2026/2027, Minggu (23/8/2026). Hasil ini mengundang sorotan tajam terhadap dua pemain termahal klub, Alexander Isak dan Florian Wirtz.
Dalam laga tersebut, Liverpool sempat dua kali tertinggal akibat gol Anthony Elanga pada menit kelima dan Joe Willock pada menit ke-57. Si Merah berhasil membalas melalui gol Cody Gakpo serta penalti Dominic Szoboszlai di masa perpanjangan waktu.
Menjalani laga melawan mantan klubnya, Isak tampil penuh dan melepaskan empat tembakan dengan dua di antaranya tepat sasaran. Penampilan penyerang asal Swedia tersebut langsung memicu kritik mendalam dari mantan striker Liverpool, Michael Owen.
"Saya mengalami banyak cedera sepanjang karier saya, jadi saya tahu betapa sulitnya untuk kembali dan Anda memang butuh sedikit waktu," kata Owen, dilansir dari Sportskeeda.
Owen menilai kesabaran publik Anfield terhadap pemain yang dibeli seharga 125 juta pound sterling itu telah habis.
"Kami telah memberinya waktu, semua orang telah memberinya waktu dan memahami hal itu. Namun, ia telah menyelesaikan musim, lalu ia pergi ke Piala Dunia, dan sekarang ia telah menjalani pramusim, lalu Anda berpikir, baiklah, sekarang kita mulai kehabisan alasan," tambahnya.
Sorotan lebih keras dilontarkan mantan bek Liverpool, Jamie Carragher. Ia menilai kebijakan transfer klub pada musim panas 2025 yang menghabiskan total 450 juta pound sterling untuk tujuh pemain terancam menjadi periode transfer terburuk dalam sejarah Liga Premier Inggris.
"Ini adalah pertandingan pertama di musim ini, tetapi kekhawatiran saya adalah bahwa periode transfer 12 bulan lalu bisa membuat Liverpool tertinggal satu atau dua tahun untuk memperbaiki keadaan," kata Carragher kepada ESPN.
Carragher menambahkan bahwa penurunan performa terus berlanjut di bawah pelatih anyar Andoni Iraola yang menggantikan Arne Slot.
"Ya, ini satu pertandingan di bawah kepemimpinan Andoni Iraola, tetapi kita berbicara tentang 12 bulan penampilan di bawah standar dari semua pemain tersebut kecuali Ekitike," ujarnya.
Ia pun memperingatkan dampak jangka panjang jika para pemain mahal tersebut gagal meningkatkan level permainan mereka.
"Jika keadaan ini tidak berubah dalam dua atau tiga bulan mendatang di bawah kepemimpinan Iraola, dan jika level para pemain ini tidak membaik, saya kira kita akan memandang periode itu sebagai, kemungkinan besar, periode transfer terburuk yang pernah kita saksikan dalam sejarah Liga Premier Inggris, ketika kita mempertimbangkan nilai transfer yang dilakukan untuk mendatangkan para pemain ini, dan apa dampaknya bagi Liverpool," lanjut Carragher.
Carragher mengingatkan kembali ekspektasi awal manajemen saat memboyong deretan bintang tersebut ke Anfield.
"Ide mendatangkan para pemain ini tidak sebatas agar mereka datang dan menjadi pemain-pemain bagus, melainkan tujuannya adalah membangun semacam dinasti kecil untuk Liverpool," katanya.
Ia menekankan status Liverpool yang memenangi gelar liga dua tahun lalu.
"Kita tidak boleh lupa bahwa Liverpool memenangi liga dua tahun lalu. Para pemain ini semestinya melakukan apa yang dilakukan Manchester City selama beberapa tahun terakhir, atau apa yang dilakukan Manchester United di masa lalu, ketika sebuah tim mampu memenangi gelar liga dua atau tiga kali dalam kurun 5 tahun," lanjut Carragher.
Secara khusus, Carragher juga menyoroti performa Wirtz yang didatangkan dengan nilai transfer mencapai 116 juta pound sterling.
"Gagasan yang mengatakan bahwa para pemain membutuhkan waktu setahun untuk beradaptasi dengan Liga Premier Inggris menurut saya sedikit banyak hanyalah mitos. Saya rasa tidak banyak contoh di mana hal itu terjadi," ucap Carragher.
Menurutnya, kontribusi Wirtz sejauh ini belum sebanding dengan harga pasarnya.
"Saya tidak berpikir kita menyaksikan penurunan performa yang besar. Saya kira apa yang kita lihat darinya selama setahun kemungkinan besar adalah level sebenarnya, yaitu seorang pesepak bola yang elegan dan rapi," katanya.
Ia menganggap nilai pasar gelandang asal Jerman itu jauh di bawah harga beli aslinya.
"Ia bukan pemain yang nilainya semestinya mencapai 110 juta pound sterling, melainkan seseorang yang mungkin nilainya semestinya sekitar 50 atau 60 juta pound sterling, kira-kira seperti itu. Pemain yang elegan dan rapi, dengan sentuhan yang luar biasa. Saya tidak yakin apa yang orang-orang harapkan darinya," tutur Carragher.
Sebelum pertandingan berlangsung, manajer Andoni Iraola telah menetapkan standar tinggi serta mengevaluasi kebugaran Isak yang sebelumnya menderita patah kaki dan hanya mencetak empat gol dari 22 laga.
"Saya pikir ini adalah musim yang sangat penting bagi Alexander. Dia tahu, pada akhirnya ada dua hal. Pertama adalah ketersediaan bermain, karena tanpa itu kami tidak bisa mendapatkan hal kedua, yaitu level performa," kata Iraola, dikutip dari Bola.com.
Iraola menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik sang penyerang agar tampil konsisten.
"Menurut saya, ini harus menjadi tujuan pertama kami, memastikan dia berada dalam kondisi yang baik untuk bisa selalu tersedia. Saya yakin jika kami mampu melakukan itu, dia akan tampil bagus karena dia sangat baik selama pramusim," lanjutnya.
Ia mengaku tetap optimis dengan potensi penyerang timnas Swedia tersebut.
"Jika kami bisa menjaganya dalam kondisi yang baik, dia akan mencetak gol dan menjadi ancaman. Saya tidak meragukan levelnya," tegas Iraola.
Mengenai Wirtz yang mencetak 15 kontribusi gol musim lalu, Iraola meminta pemain berusia 23 tahun itu untuk tampil lebih tenang di lapangan.
"Florian memahami permainan dengan sangat baik, baik ketika menguasai bola maupun tanpa bola. Dia memahami ruang yang harus ditempati, siapa yang menjaganya, bagaimana dia harus bergerak, dan bagaimana menyulitkan lawan," ulas Iraola kepada Men in Blazers.
Iraola memberikan petunjuk taktis agar pergerakan Wirtz bisa lebih efektif.
"Kadang-kadang dia terlalu tertarik pada bola karena ingin terlibat dan terus menyentuh bola. Terkadang saya harus mengatakan kepadanya untuk menjaga jarak, menunggu, dan sedikit lebih sabar agar permainan datang kepadanya. Setelah itu, dia bisa menyakiti lawan," lanjutnya.
Ia pun mengagumi gairah serta kebiasaan diskusinya bersama sang gelandang serang.
"Saya pikir dia mencintai permainan ini. Dia mengajukan pertanyaan yang tepat dan Anda bisa langsung merasakannya," tutur Iraola.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow