Mahasiswa Umsura Galang Bantuan untuk Korban Bencana NTT
Sebanyak 3.185 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menggelar aksi kepedulian dengan mengumpulkan bantuan berupa boneka, popok, dan pembalut untuk korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin (14/9/2026).
Aksi simbolik yang berlangsung di halaman kampus tersebut digelar dalam pembukaan Masa Ta'aruf Mahasiswa (Mastama), Orientasi Pendidikan (Ordik), dan Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau MOX 2026. Seluruh logistik yang terkumpul akan disalurkan melalui Lazismu Jawa Timur untuk memenuhi kebutuhan spesifik kelompok rentan di lokasi pengungsian.
Rektor Umsura Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., memberangkatkan pula tim relawan Aksi Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) yang terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan untuk bertugas selama satu bulan di NTT.
"Kepedulian dan rasa empati kami, seluruh warga kampus, termasuk mahasiswa baru, terhadap musibah bencana alam yang terjadi di NTT, khususnya gempa, sangat besar," kata Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Ia menyampaikan bahwa penanganan dampak bencana memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.
"Kami ingin, meskipun berada dalam suasana bencana, anak-anak di sana tetap memiliki nuansa terhibur dan bisa bermain selayaknya anak-anak," ujar Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Mundakir menjelaskan pengumpulan perlengkapan kebersihan diri ditujukan guna menjaga martabat serta kesehatan wanita selama masa darurat.
"Begitu pula dengan kebutuhan pampers dan pembalut. Itu merupakan bentuk perhatian kami terhadap kebutuhan ibu-ibu. Proses biologis dan reproduksi perempuan tentu tetap berjalan, termasuk di tengah situasi bencana," kata Prof.
Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Di samping menyalurkan perlengkapan fisik, pihaknya mengajak masyarakat mendoakan keselamatan para korban serta awak kapal KM Virgo yang hilang kontak dan jurnalis peliput erupsi Gunung Krakatau.
"Tentu, semua ini menjadi bagian dari persoalan yang perlu kita sikapi bersama," kata Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Ia menuturkan bahwa dukungan spiritual menjadi elemen krusial dalam menghadapi rentetan musibah.
"Selain menyalurkan dan mengekspresikan rasa empati, sebagai umat beragama kita juga perlu berdoa agar musibah-musibah yang terjadi segera berakhir. Semoga mereka yang terdampak diberikan kekuatan, kesabaran, dan yang terbaik oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa Ta'ala," kata Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Program penerjunan mahasiswa ke area terdampak bencana ini sekaligus dialokasikan kampus sebagai penyetaraan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
"Di Umsura memang membuka open recruitment Aksi Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) untuk NTT, jadi yang diberangkatkan nanti dari beragam jurusan dan tentu kegiatan ini akan dikonversikan sebagai agenda KKN," kata Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Berdasarkan data penanganan bencana NTT, tercatat 136 orang menjadi korban jiwa dengan 88 di antaranya meninggal dunia usai mendapat perawatan medis, serta 102.384 unit rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat.
"Perempuan memiliki kebutuhan biologis yang tetap berlangsung dalam bencana. Menstruasi, kehamilan, persalinan, menyusui, dan kebutuhan kesehatan reproduksi tidak berhenti ketika terjadi bencana," ujar Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Terbatasnya fasilitas sanitasi dan ruang privasi di pengungsian berpotensi menurunkan tingkat keamanan serta kesehatan perempuan.
"Pembalut dan popok seharusnya masuk dalam bantuan dasar korban bencana, termasuk di NTT. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut kesehatan, kebersihan, martabat, dan perlindungan kelompok rentan," ucap Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Kehilangan tempat tinggal dan rutinitas harian turut memicu trauma psikologis pada anak-anak korban bencana.
"Dalam konteks psikologi kebencanaan, boneka dapat menjadi bagian dari dukungan psikososial. Boneka bisa menjadi media bagi anak untuk bercerita, bermain peran, memproyeksikan rasa takut atau marah, membuat cerita tentang bencana, atau sekadar memeluk ketika merasa cemas," jelas Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
Penanganan bencana diharapkan dapat menerapkan pola distribusi bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus tiap kelompok rentan.
"Perlindungan terhadap perempuan dan anak harus menjadi bagian dari setiap tahapan penanganan bencana, mulai dari kondisi darurat hingga proses pemulihan. Dalam situasi bencana, perempuan dan anak merupakan kelompok rentan yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam setiap tahapan penanganan agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran," pungkas Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., Rektor Umsura.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow