The Fed Bersiap Naikkan Suku Bunga Utama Pertemuan September 2026
Federal Reserve diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75% hingga 4,00% dalam rapat Federal Open Market Committee pada Rabu, 16 September 2026. Langkah pengetatan kebijakan moneter ini diambil menyusul tingginya laju inflasi Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus level US$100 per barel akibat konflik di Timur Tengah.
Data Biro Statistik AS mencatat Indeks Harga Konsumen naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, yang didorong lonjakan harga bensin sebesar 3,9%. Sementara itu, inflasi tahunan AS bertahan di angka 3,4% atau masih berada di atas target sasaran bank sentral sebesar 2%. Sektor pasar keuangan melalui CME FedWatch Tool memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan telah melambung hingga 87% menjelang pengumuman resmi.
Rapat kali ini menjadi momen krusial bagi Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga atau meredam tekanan politik dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump secara terbuka berulang kali meminta agar suku bunga acuan dipangkas ke level terendah.
"Turunkan suku bunga atau saya akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang membuat kami mengalami defisit," ujar Donald Trump, Presiden AS.
Tekanan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan media sosial, sebelum kembali menegaskan posisinya di hadapan media saat berkunjung ke Irlandia.
"Amerika Serikat seharusnya membayar suku bunga paling rendah di dunia," kata Donald Trump, Presiden AS.
Sikap keras Gedung Putih berbanding terbalik dengan dinamika di internal bank sentral yang kian condong pada opsi pengetatan. Sejumlah ekonom menilai Warsh berpotensi menggalang dukungan mayoritas dari para pejabat Fed untuk menaikkan suku bunga demi mempertahankan kredibilitas lembaga.
"Berikan kesempatan bagi inflasi untuk terus melandai," kata Christopher Waller, Gubernur Fed.
Pernyataan Waller yang disampaikan pada awal September tersebut sebelumnya mendukung penundaan pengetatan, namun rilis data inflasi Agustus yang melampaui perkiraan diyakini telah mengubah sudut pandangnya beserta pejabat Fed lainnya.
"Warsh juga harus berhati-hati dalam menyampaikan pandangannya jika tetap ingin menghindari petunjuk soal arah arah suku bunga ke depan," kata Oscar Munoz, Ekonom TD Securities.
Kondisi ekonomi pasar modal dan komoditas global bergerak responsif terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga ini. Harga minyak jenis Brent sempat menyentuh US$110 per barel dipicu gangguan pasokan di Selat Bab el-Mandeb, sementara indeks DXY merangkak naik dan menekan pasar saham serta mata uang negara berkembang.
"Bagi kami, cukup jelas bahwa pengetatan lebih lanjut masih mungkin dilakukan jika jika Fed memilih menaikkan suku bunga pada September. Akan menarik melihat bagaimana ketua Fed menghadapi situasi tersebut," ujar Oscar Munoz, Ekonom TD Securities.
Ekspektasi pengetatan moneter di Washington memicu kekhawatiran meluas di pasar finansial global. Para analis memperkirakan sinyal kebijakan lebih lanjut akan disampaikan langsung oleh Warsh pada konferensi pers seusai rapat.
"Pada akhirnya, peringatan keras ketua Fed mengenai inflasi dapat mengikis kredibilitas institusi jika tidak diikuti dengan tindakan nyata," ujar Michael Feroli, Ekonom JPMorgan.
Langkah tegas bank sentral dinilai sangat krusial untuk menjaga jangkar ekspektasi inflasi jangka panjang investor. Di sisi lain, kritikus menilai bahwa kenaikan suku bunga di tengah gejolak pasokan energi berisiko menekan pertumbuhan ekonomi lebih lambat.
"Ketua Warsh mungkin sudah terjebak dengan sikapnya yang terlalu mengikuti ekspektasi pasar. Jika suku bunga tidak dinaikkan ketika pasar sudah memperkirakannya, lalu kapan?" kata Derek Holt, Ekonom Scotiabank.
Keputusan akhir mengenai arah suku bunga acuan AS tersebut dijadwalkan akan diumumkan secara resmi pada pukul 14.00 waktu setempat setelah seluruh rangkaian rapat dua hari Fed selesai dilaksanakan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow