Mandra Luruskan Sejarah Musik Tanji dan Soroti Pelestarian Budaya Betawi

Smallest Font
Largest Font

Seniman senior Mandra meluruskan kekeliruan istilah musik tradisional tanjidor dan menyatakan kekhawatirannya atas kelestarian budaya Betawi yang kian terkikis di tengah momentum perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 DKI Jakarta.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh bintang sinetron Si Doel Anak Sekolahan saat ditemui di Studio Trans 7, kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Minggu, 21 Juni 2026, seperti dilansir dari Detik Hot.

Mandra mengungkapkan bahwa penyebutan istilah tanjidor yang populer sejak era 1990-an sebenarnya keliru karena nama aslinya adalah tanji, sedangkan kata dor bermakna bodoran atau lawakan.

"Hal yang kayak begitu yang perlu dibenahi. Satu contoh macam seperti apa yang tadi situ billing, dengan adanya sebutan tanjidor. Ini yang perlu diluruskan. Tanjidor itu dengan sebutan yang salah," kata Mandra.

Kondisi salah kaprah ini dinilai telah berlangsung lama karena banyak masyarakat hingga pelaku seni Betawi sendiri yang kurang memahami sejarah dan istilah asli kesenian tersebut.

"Macam kayak bahasa kata panjak, anak wayang, kan kadang maaf ya, si senimannya sendiri banyak yang salah. Ya kadang-kadang itu ya senimannya sendiri aja nggak paham. Banyak," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa istilah populer itu awalnya booming akibat dialog dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, padahal ada urutan kesenian lain terkait tanji seperti jinong dan jipeng.

"Dor itu bodoran (lawakan). Kalau mungkin era sekarang tahunya... komika karena ada lawakannya," jelas Mandra.

Karena fenomena kekeliruan ini, pria berusia 59 tahun tersebut mengaku sering menerima kunjungan dari mahasiswa serta peneliti yang ingin mendalami sejarah kebudayaan Betawi secara utuh.

"Kayak tanjidor. Tanjidor nggak ada. Lo mesti tahu asal usul, kok kenapa bisa disebut tanjidor?

Lo kenalnya tahun berapa? Tanjidor tuh tahun berapa? 90-an mungkin, dengan kata bahasa tanjidor gara-gara Si Doel yang bilangnya tanjidor," bebernya.

Komedian kawakan ini juga sering berseloroh mengenai pihak-punya mengklaim kesenian Betawi tanpa bekal pengetahuan sejarah yang memadai.

"Kalau ada tanjidor berarti ada lagi sebenarnya. Ada jinong, ada jipeng. Itu kan urutannya si tanjidor.

Kalau lo dulu kenal cuma tanjidor doang, ya berarti ilmu lo baru sejengkal. Apalagi lo orang Betawi ngakunya, 'Saya punya tanjidor', ya udah... ya baru bangun tidur kali," pungkasnya sambil berkelakar.

Selain masalah pelurusan sejarah, Mandra menyuarakan kegelisahannya mengenai eksistensi identitas lokal Jakarta yang semakin terdesak oleh dominasi kebudayaan asing di kalangan generasi muda.

"Ya selalu punya harapan, punya keinginan yang ikhlas. Semoga budaya Betawi bisa jadi tuan rumah di tempatnya sendiri," kata Mandra.

Penurunan minat pemuda terhadap tradisi daerah membuat sang aktor khawatir warisan leluhur ini pada akhirnya hanya akan berakhir menjadi catatan sejarah masa lalu.

"Artinya kalau memang saat ini juga udah mulai terkikis dan anak-anak sekarang juga udah nggak respect seperti apa ya di era-era dulu, ya tidak menutup kemungkinan budaya seperti apa yang tadi saya bilang tinggal kenangan," ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana kecenderungan anak-anak zaman sekarang yang memperlihatkan ketertarikan lebih besar pada produk kebudayaan dari luar negeri.

"Because anak-anak kan lebih cinta dengan budaya luar. Satu contoh ya seperti nggak perlu saya sebutkan sebenarnya dengan kecenderungan beberapa budaya lain dan sebagainya," lanjutnya.

Mandra berharap ruang gerak kesenian tradisional Betawi maupun daerah lainnya di Indonesia tetap terjaga di tengah proses modernisasi yang masif.

"Yang jelas saya cuma selalu melontarkan harapan. Semoga budaya Betawi dan khususnya juga budaya yang lain ke depan jangan sampai nanti budaya tinggal kenangan," tuturnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menegaskan perlunya keterlibatan nyata dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, bukan sekadar komitmen di atas kertas.

"Pengembangan dalam hal ini sudah dilakukan oleh beberapa seniman dan budayawan. Tapi semata-mata nggak bisa dilakukan oleh para pelaku saja. Paling nggak jangan cukup dengan slogan, tapi harus ada tindakan," tegas Mandra.

Di sisi lain, sebagaimana dilansir dari Mediakompeten, Mandra mengapresiasi munculnya sekelompok generasi muda yang kreatif, mahir, dan terampil dalam membawakan musik serta tari Betawi.

"Ya kalau saya jelas saya terima positif. Bahkan tadi seperti saya bilang, pengembangan-pengembangan seni budaya Betawi ini malah yang dulu dilakukan cuma... anggaplah bahasanya orang sepuh gitu ya, malah saya bisa membuktikan sekarang dengan... dari mulai tari Betawi, musik-musik Betawi malah sekarang sudah dilakukan dengan generasi yang sekarang ini yang lebih canggih, lebih hebat, lebih terampil dengan anak-anak muda sekarang," kata Mandra.

Indikasi positif perkembangan ini tampak dari tingginya antusiasme serta kecerdasan anak-anak berusia dini di bawah 10 tahun yang mulai menunjukkan bakat seni.

"Karena animo untuk penari aja satu contoh, nggak sedikit sekarang. Artinya usia sampai yang bahasanya 10 tahun aja itu udah bisa... bisa kita lihat kecerdasannya masing-masing. Kira-kira gitu," ujarnya.

Meski senang dengan gairah pelestarian tersebut, komedian ini memilih membebaskan anak-anaknya dalam menentukan pilihan karier tanpa adanya paksaan.

"Kalau saya nggak. Ya si anak tadi kan kalau masih anak-anak ya, ya saya nggak tekankan. Tapi buat orang yang... ya adik-adik, anak-anak saya yang udah kuliah kan nggak perlu saya lontarkan, mungkin apa yang dia lihat itu yang mesti dia harus pegang," tuturnya.

Menurut pandangannya, rasa memiliki terhadap warisan kebudayaan daerah harus berakar dari kesadaran emosional yang murni tanpa intervensi orang lain.

"Seperti apa yang tadi saya bilang kan, ya kalau bicara masalah itu kan biasanya munculnya kan dari hati. Dari hati sendiri. Nggak perlu kita paksa dan lain sebagainya, nggak ada saya," ujarnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed