Mengupas Mitos dan Fakta Gigi Bungsu Menurut Ahli

Smallest Font
Largest Font

Tumbuhnya gigi bungsu atau geraham ketiga di usia remaja hingga dewasa muda sering kali memicu berbagai spekulasi di masyarakat. Sebagian anggapan dianggap sebagai kebenaran, padahal faktanya tidak selalu demikian.

Seperti dilansir dari Detik Health, beragam mitos tentang kecerdasan hingga keharusan mencabut gigi bungsu perlu diluruskan secara medis agar tidak menimbulkan pemahaman yang salah.

Salah satu anggapan populer menyebutkan bahwa semua orang pasti memiliki empat gigi bungsu. Fakta medis menunjukkan kondisi yang berbeda karena ada fenomena yang disebut agenesis.

Kondisi agenesis membuat satu atau beberapa benih gigi bungsu tidak pernah terbentuk. Alhasil, tidak semua orang akan memiliki empat gigi bungsu secara utuh di dalam mulutnya.

Nama wisdom tooth dalam bahasa Inggris juga kerap memunculkan mitos bahwa tumbuhnya gigi ini berkaitan dengan tingkat kecerdasan. Penamaan tersebut sebenarnya hanya merujuk pada rentang usia tumbuhnya di angka 17-25 tahun.

Pada rentang usia tersebut, seseorang dianggap mulai menginjak fase dewasa muda yang lebih bijaksana. Namun, secara biologis, pertumbuhan gigi bungsu tidak berkaitan sama sekali dengan kecerdasan seseorang.

Banyak pula yang percaya bahwa gigi bungsu yang tidak sakit berarti aman dan boleh dibiarkan. Pemahaman ini berisiko karena kondisi asimtomatik atau tanpa gejala belum tentu sepenuhnya bebas masalah.

Gigi bungsu impaksi yang tidak bergejala awal tetap berpotensi merusak gigi di sebelahnya. Pemantauan rutin lewat foto rontgen tetap diperlukan untuk mencegah munculnya kista atau infeksi fatal di kemudian hari.

Anggapan bahwa semua gigi bungsu wajib dicabut juga tidak sepenuhnya benar. Apabila tumbuh lurus, sejajar, dan memiliki cukup ruang di rahang, gigi tersebut aman untuk dipertahankan.

Tindakan pencabutan biasanya baru disarankan jika gigi mengalami pemicu infeksi, nyeri berulang, impaksi, atau merusak posisi gigi tetangga.

Rasa takut terhadap proses pencabutan atau odontektomi kerap dipicu oleh anggapan bahwa prosedurnya sangat menyakitkan. Padahal, tindakan medis dilakukan menggunakan pembiusan lokal sehingga pasien tidak merasakan nyeri saat operasi.

Sensasi tidak nyaman umumnya baru muncul setelah efek bius mereda dan tingkat keparahannya tergantung pada kerumitan posisi impaksi gigi. Dokter biasanya akan meresepkan obat pereda nyeri untuk mengendalikan kondisi tersebut.

Di sisi lain, anggapan bahwa gigi bungsu bisa bikin gigi depan berjejal justru merupakan sebuah fakta. Pertumbuhan yang miring dapat menekan susunan gigi lain sehingga memicu pergeseran.

Mengenai rentang usia tumbuh, angka 17-25 tahun bukan merupakan patokan mutlak bagi semua orang. Beberapa orang mengalaminya lebih cepat, lebih lambat, atau bahkan baru terdeteksi saat usia lanjut melalui pemeriksaan rontgen.

Keputusan untuk mencabut atau mempertahankan gigi bungsu sebaiknya selalu didasarkan pada hasil pemeriksaan medis menyeluruh oleh dokter gigi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed