Kanselir Merz dan CDU Terpukul Setelah AfD Menang di Sachsen-Anhalt
Kanselir Friedrich Merz dan partainya CDU mengalami guncangan besar setelah partai Alternatif untuk Jerman (AfD) menang dalam pemilu negara bagian Sachsen-Anhalt pada Minggu, 6 September 2026, di Jerman.
AfD memperoleh 44,5 persen suara, lebih dari dua kali lipat perolehan pada 2021, sementara CDU hanya mendapat 18,5 persen, menurut exit poll ARD yang dilansir Republika.
Hasil ini menimbulkan kekhawatiran di dalam negeri dan internasional, karena AfD dikenal menentang dukungan Jerman terhadap Ukraina dan memiliki kedekatan dengan pemerintah Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin, seperti diungkapkan oleh Merz dalam konferensi pers.
Kanselir Merz menyatakan, "Bukan hanya sesuatu yang berubah di Sachsen-Anhalt kemarin, tapi di seluruh Jerman. Ini akan berdampak, termasuk di panggung internasional." Ia juga menyayangkan bahwa 60 persen pemilih memilih partai yang mengabaikan supremasi hukum di Jerman, termasuk AfD, Partai Kiri, dan Aliansi Sahra Wagenknecht (BSW).
Merz menegaskan, "Di negara kita, nilai-nilai ini tidak bisa diperdebatkan. Kekuasaan diberikan, bukan direbut. Dan minoritas bukanlah musuh mayoritas." Ia menekankan pentingnya mempertahankan tatanan politik dan keterlibatan Jerman di Uni Eropa dan NATO.
Perdana Menteri Sachsen-Anhalt dari CDU, Sven Schulze, yang juga hadir, mengakui bahwa ketidakpuasan publik terhadap pemerintah Merz di Berlin memberi pukulan besar bagi partainya dalam pemilu ini.
Meski AfD tidak memperoleh mayoritas mutlak di parlemen negara bagian, selisih suara yang tipis menimbulkan spekulasi apakah anggota parlemen CDU di sana akan memilih Ulrich Siegmund dari AfD sebagai kepala pemerintahan, yang dapat mengancam posisi Merz sebagai kanselir dan ketua partai.
Merz tetap mempertahankan reformasi kontroversial pemerintahannya, termasuk perombakan sistem pensiun yang mendapat tentangan keras selama kampanye, meskipun Wakil Kanselir Lars Klingbeil dari SPD menyarankan evaluasi ulang reformasi tersebut.
Ulrich Siegmund, calon utama AfD di Sachsen-Anhalt, dalam konferensi pers menyindir media yang dianggapnya menampilkan AfD sebagai ancaman bagi demokrasi dan supremasi hukum.
Siegmund berkata, "Juga berkat kalian kami berhasil. Terima kasih banyak atas liputan yang luar biasa selama kampanye pemilu ini." Ia menegaskan bahwa jurang antara media dan realita warga di negara bagian itu sangat lebar.
Namun, Siegmund menghindari pertanyaan tentang kemungkinan membentuk pemerintahan tanpa mayoritas sendiri atau dukungan dari BSW. Ia mengaku ingin kekuasaan penuh, tapi menyadari tidak memilikinya.
AfD yang beraliran sayap kanan dan pro-Israel ini telah memenangkan pemilu negara bagian untuk pertama kalinya sejak era Nazi, menurut Republika. Partai ini dikenal anti-Islam dan menentang dukungan terhadap kelompok pro-Palestina.
AfD kerap mendapat pujian dari beberapa pejabat Israel atas penolakannya terhadap gerakan BDS dan Hizbullah di Jerman, meskipun beberapa anggota partai mengeluarkan pernyataan antisemit dan pandangan revisionis Holocaust.
Tokoh penting AfD, Alice Weidel, dikenal sebagai pemimpin yang unik karena gaya hidupnya yang berbeda dari mayoritas anggota partai, dengan hubungan sesama jenis dan latar belakang internasional. Ia pernah menyatakan, "Saya bukan queer; saya hanya menikah dengan seorang wanita yang sudah saya kenal selama 20 tahun."
Weidel berhasil memperbaiki citra AfD di mata sebagian pemilih meski partai tersebut semakin condong ke sayap kanan dalam isu imigrasi dan Islam, menurut analis politik Andreas Busch.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow