AfD Raih Kemenangan Bersejarah di Saxony-Anhalt tapi Gagal Mayoritas
Partai Alternative for Germany (AfD) meraih kemenangan bersejarah di negara bagian Saxony-Anhalt, Jerman timur, pada pemilu regional Minggu, dengan memperoleh 44% suara, namun gagal mendapatkan mayoritas mutlak di parlemen daerah. AfD berhasil merebut 39 dari 83 kursi di parlemen Saxony-Anhalt, hanya tertinggal tiga kursi dari mayoritas absolut yang dibutuhkan yakni 42 kursi, menurut hasil awal yang dilaporkan CNN dan media lain. Calon gubernur dari AfD, Ulrich Siegmund, menyatakan kemenangan ini sebagai momen bersejarah bagi daerah tersebut dan menegaskan bahwa rakyat ingin perubahan politik bersama AfD.
"Ini adalah momen bersejarah untuk wilayah kami yang indah. Rakyat dengan jelas menunjukkan mereka ingin perubahan politik. Dan yang terpenting, mereka ingin perubahan itu bersama kami," ujar Siegmund kepada CNN.
AfD mengkampanyekan agenda "remigrasi" yang bertujuan mengirim imigran non-Jerman kembali ke negara asal mereka, serta mendorong nilai-nilai tradisional di sekolah dan institusi budaya, membatasi imigrasi, serta mereformasi penyiaran publik. Siegmund juga menyatakan bahwa hasil pemilu ini memberikan mandat bagi partainya untuk kembali menjalankan "diplomasi yang masuk akal" dengan Rusia dan Amerika Serikat.
Kepemimpinan AfD, termasuk co-leader Alice Weidel, menegaskan bahwa partainya berjuang untuk kepentingan Jerman, bukan negara asing manapun, dan mengecam penolakan partai mainstream untuk berkoalisi dengan AfD yang mereka nilai "sangat tidak demokratis".
"Orang Jerman sudah muak dengan kebijakan yang dibuat bertentangan dengan kepentingan Jerman. Kami jelas maju dalam pemilu ini untuk mewakili kepentingan negara kami - bukan Ukraina atau negara lain," ujar Weidel kepada CNN.
Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang diketahui mendukung AfD, memposting hasil exit poll di media sosialnya, diikuti oleh Kirill Dmitriev, seorang pejabat dekat Presiden Putin, yang menyebut kemenangan AfD sebagai penghinaan terhadap koalisi pemerintah Jerman yang dianggap gagal. Semua partai utama di Jerman menolak bekerja sama dengan AfD yang diklasifikasikan sebagai partai ekstremis oleh intelijen Jerman, terutama karena retorika anti-Muslim dan anti-imigran. Siegmund menolak kemungkinan koalisi dengan partai kiri jauh Sahra Wagenknecht Alliance (BSW), yang juga lolos ambang batas parlemen 5%, dengan mengatakan BSW adalah bagian dari masalah, bukan solusi.
Namun, co-chair AfD, Tina Chrupalla, menyatakan mereka bersedia menjalin kerja sama dengan semua partai.
Hasil pemilu ini juga menjadi pukulan bagi partai Christian Democratic Union (CDU) pimpinan Kanselir Friedrich Merz yang kehilangan sekitar setengah dukungan pemilih di Saxony-Anhalt. Sven Schulze, menteri negara bagian CDU, menyatakan bahwa hasil itu adalah pesan jelas dari rakyat yang harus direspon. Weidel memperkirakan bahwa kekalahan ini dapat mempercepat keluarnya Merz dari jabatannya dan kemungkinan pemilihan umum federal sebelum Natal.
AfD dikenal mendukung Rusia dan menentang bantuan militer lebih lanjut bagi Ukraina, serta menginginkan pengusiran warga Ukraina dan Muslim tertentu. Namun, kebijakan luar negeri dan imigrasi bukan wewenang negara bagian.
Menurut analis Grégoire Roos dari Chatham House, AfD kemungkinan akan fokus pada isu budaya, pendidikan, dan keamanan lokal di Saxony-Anhalt. Weidel menyatakan bahwa jika berhasil di pemilu federal mendatang, AfD akan memotong pengeluaran tidak perlu, mengendalikan perbatasan, dan mendeportasi orang yang wajib meninggalkan Jerman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow