Lionel Messi Catat Sejarah Tampil di Final Piala Dunia 2026

Smallest Font
Largest Font

Penyerang tim nasional Argentina Lionel Messi mengukir sejarah baru dalam sepak bola putra dengan tampil pada pertandingan final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol di Stadion New York New Jersey, Minggu, 19 Juli 2026.

Kehadiran kapten berusia 39 tahun tersebut di lapangan menjadikannya sebagai pemain kedua sepanjang sejarah yang mampu bermain dalam tiga laga final Piala Dunia putra, menyamai rekor legenda Brasil Cafu yang melakukannya berturut-turut pada 1994 hingga 2002.

Pertandingan puncak ini diproyeksikan bakal disaksikan oleh 1,8 miliar penonton di seluruh dunia, dengan sekitar 80.000 suporter menghadiri langsung stadion yang berada di East Rutherford, New Jersey tersebut, demikian dilansir dari Atlantic Council.

Sebelumnya, Messi melakoni final pertamanya pada 2014 saat Argentina kalah 1-0 dari Jerman di Stadion Maracana, sebelum akhirnya berhasil membawa Albiceleste meraih gelar juara pada Piala Dunia 2022 di Qatar setelah menumbangkan Prancis lewat adu penalti.

Hingga laga semifinal, penyerang Inter Miami ini telah mencetak delapan gol dari tujuh pertandingan sepanjang turnamen di Amerika Utara, serta menyumbang dua umpan menentukan saat Argentina menang 2-1 atas Inggris di babak semifinal.

Catatan tersebut membuat Messi kini mengoleksi total 12 umpan gol di Piala Dunia, dengan 10 di antaranya tercipta pada babak gugur yang merupakan angka tertinggi dalam sejarah kompetisi berdasarkan data BBC.

Masa depan Messi bersama tim nasional pun memicu spekulasi mengenai kemungkinan dirinya bertahan hingga Piala Dunia 2030, di mana Argentina dijadwalkan menjadi salah satu tuan rumah untuk laga pembuka seratus tahun kompetisi tersebut.

Mengenai kelanjutan karier sang kapten, pakar sepak bola Spanyol Guillem Balague menilai bahwa hasrat bertanding yang tinggi akan membuat sang pemain tetap bertahan di tim nasional untuk waktu yang lebih lama.

"Even if you hear it is the end, I doubt it but we'll see. I just see him with the national side, simply because he enjoys it," kata Guillem Balague, Pakar Sepak Bola Spanyol.

Balague juga menambahkan analisis mengenai fisik sang pemain yang dinilai masih mampu menyelesaikan pertandingan panjang meskipun gaya bermainnya kini sudah jauh berubah menjadi lebih taktis.

"I don't see him being at Inter Miami in the MLS, still performing and then saying that's it and he's going to play out the rest of his career with Inter Miami," ujar Guillem Balague, Pakar Sepak Bola Spanyol.

Statistik pergerakan menunjukkan Messi mampu menyelesaikan pertandingan berdurasi 120 menit, di mana pada laga melawan Tanjung Verde ia menjelajah jarak 6,5 kilometer dengan 62 persen di antaranya dilakukan dengan berjalan kaki.

"I feel that he hasn't said the last word yet," tutur Guillem Balague, Pakar Sepak Bola Spanyol.

Di sisi lain, pelatih kepala Argentina Lionel Scaloni menyatakan rasa bangganya terhadap pencapaian sang kapten dan menegaskan pentingnya menikmati sisa masa bermain sang legenda di atas lapangan.

"He is history, a legend. I feel proud, he is the best footballer the world has ever seen and reaching a final at 39 is something unbelievable - and that is why I said we must enjoy him," kata Lionel Scaloni, Pelatih Argentina.

Scaloni menyamakan situasi ini dengan kerinduan publik Argentina terhadap sosok mendiang Diego Maradona, sehingga keberadaan Messi saat ini harus benar-benar diapresiasi oleh seluruh pencinta sepak bola.

"With Diego Maradona, we still miss him but Messi is still with us so we must enjoy him," ucap Lionel Scaloni, Pelatih Argentina.

Kendati demikian, pihak manajemen tim nasional menegaskan belum ada pembicaraan formal mengenai kapan pemain bernomor punggung 10 itu akan memutuskan pensiun dari panggung internasional.

"I have no idea if this is Leo's last game, you will have to ask him. We haven't discussed it," ujar Lionel Scaloni, Pelatih Argentina.

Pernyataan ini kontras dengan komentar sang pemain sebelum laga final di Qatar empat tahun lalu, di mana ia sempat mengisyaratkan akan menyudahi perjalanannya di turnamen terbesar empat tahunan tersebut.

"I am very happy for finishing my journey in World Cups in a final, to play the last game in a final. That is really very gratifying," kata Lionel Messi, Kapten Argentina.

Saat itu, Messi menganggap jarak waktu menuju turnamen berikutnya terlalu jauh sehingga ia merasa tidak akan mampu berpartisipasi lagi pada edisi selanjutnya.

"There are a lot of years from this year to the next one. I don't think I will be able to do that. To finish this way is brilliant," tutur Lionel Messi, Kapten Argentina.

Namun, performa luar biasa di Amerika Utara mematahkan prediksi tersebut dan membawa Argentina berpeluang menjadi tim ketiga yang memenangkan Piala Dunia berturut-turut setelah Italia dan Brasil.

Jurnalis olahraga Jason Gay turut menyoroti bagaimana keunikan pergerakan tanpa bola dari Messi yang kerap mengecoh pertahanan lawan sebelum akhirnya memberikan dampaknya yang mematikan.

"Hasn't everyone seen enough?" tanya Jason Gay, Jurnalis Olahraga The Wall Street Journal.

Gay menambahkan bahwa laga final melawan Spanyol, yang merupakan tempat Messi tumbuh dan menimba ilmu sepak bola di akademi, merupakan sebuah takdir yang luar biasa bagi seorang pemain besar.

"Messi’s the goaty-goat goat, hooves down, blow the whistle, game over. Argentina’s mega upcoming showdown versus Spain—Messi’s former home, academy and cathedral—is nothing less than a goat’s destiny," tulis Jason Gay, Jurnalis Olahraga The Wall Street Journal.

Pengamat sepak bola tersebut menyarankan penonton untuk jeli melihat bagaimana efisiensi gerakan, operan satu sentuhan, dan cara menggiring bola yang diperlihatkan sang pemain di lapangan.

"When you watch Messi on Sunday, watch him with the ball, but especially watch him without the ball. Watch him walk his famous walk—shoulders over, head down, like Linus looking for his blanket. Don’t be deceived.

He isn't checked out. He is waiting to strike. Watch his economy of motion, his one-touch passes, the way he can dribble in every direction as if possessed by a joystick," urai Jason Gay, Jurnalis Olahraga The Wall Street Journal.

Keberhasilan di New Jersey juga berpotensi menempatkan Messi sebagai kapten pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia sebanyak dua kali sepanjang sejarah sepak bola modern.

"He isn't in the World Cup conversation," tambah Jason Gay, Jurnalis Olahraga The Wall Street Journal.

Terlepas dari hasil akhir pertandingan melawan Spanyol, kontribusi besar sang pemain telah menempatkannya sebagai figur sentral yang mendominasi pembicaraan di panggung sepak bola global.

"He is the conversation," pungkas Jason Gay, Jurnalis Olahraga The Wall Street Journal.

Jika Argentina berhasil memenangkan laga ini, Messi juga akan mencatatkan diri sebagai pemain tertua kedua yang memenangkan Piala Dunia sebagai starter, berada di belakang mantan penjaga gawang Italia Dino Zoff.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed