Militer AS Akui Kekurangan Amunisi dan Kerugian Besar Akibat Perang Iran
Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengakui menghadapi kekurangan amunisi dan kerugian besar dalam perang melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari hingga 30 Juni 2026, menurut laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang dirilis pada 14 September 2026.
Operasi militer bernama "Operation Epic Fury" ini menelan biaya sekitar US$ 33,4 miliar (setara Rp 590,9 triliun), dengan penggunaan amunisi mencapai US$ 22,3 miliar (Rp 394,5 triliun) yang menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan hambatan pasokan ulang amunisi, menurut laporan Pentagon.
Laporan itu juga mencatat kerusakan signifikan pada armada militer AS, termasuk hancurnya empat jet tempur F-15, kerusakan satu jet tempur siluman F-35, tujuh pesawat tanker KC-135, dan 30 drone MQ-9 Reaper, seperti dilansir AFP dan CNN.
Presiden AS Donald Trump membantah kekhawatiran tersebut dan menegaskan kembali bahwa produksi senjata canggih terus berjalan tanpa henti.
"Senjata-senjata itu dikirimkan setiap hari kepada pasukan kita di Timur Tengah dan wilayah lainnya. Pabrik-pabrik perusahaan pertahanan kita beroperasi 24/7," ujar Trump melalui akun media sosial Truth Social-nya.
Namun, laporan media CNN menyebut kekurangan rudal jarak jauh dan rudal pencegat THAAD memengaruhi strategi militer AS, yang telah menggunakan hampir 80 persen stok rudal tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan serangan pertama dalam 24 jam perang menargetkan lebih dari 1.000 sasaran di Iran, namun serangan besar berkurang dalam bulan-bulan berikutnya.
Laporan Pentagon juga menyebutkan serangan Iran menghancurkan ratusan bangunan dan struktur di pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania selama konflik berlangsung.
Kerusakan tersebut tidak dimasukkan dalam estimasi biaya perang karena belum jelas apakah semua pangkalan akan dibangun kembali atau siapa yang akan menanggung biayanya.
Dua pakar militer AS, Kolonel Douglas Macgregor dan Dr. Ted Postol, menilai kemampuan Iran dalam menemukan dan menyerang sasaran bergerak di laut menunjukkan kemajuan signifikan dalam siklus intelijen dan operasionalnya.
Macgregor menyatakan, "Kemampuan Iran menghadapi kekuatan militer AS telah mengguncang anggapan lama mengenai keunggulan militer Amerika." Ia juga menyoroti keberhasilan rudal hipersonik Iran menembus pertahanan sekitar kapal induk AS.
Postol menambahkan, "Keberhasilan menyerang kapal bergerak dalam lingkungan pertahanan berlapis menunjukkan persoalan yang lebih luas daripada daya ledak rudal." Ia menyoroti kemungkinan peran satelit pengintai Tiongkok dan Rusia dalam menyediakan informasi bagi Iran.
Serangan Iran terhadap pangkalan militer AS menyebabkan perubahan signifikan dalam operasi CENTCOM, termasuk pemindahan personel dan aset dari lokasi yang semakin rentan serta penarikan helikopter medevac dari Irak dan Kuwait, yang memperpanjang waktu evakuasi medis.
Kerusakan parah juga terjadi di pusat regional Angkatan Laut AS di Bahrain, yang mempengaruhi rantai logistik maritim dan mengalihkan pusat logistik ke Pulau Diego Garcia di Samudra Hindia, memperpanjang siklus pengiriman pasokan menjadi 14 hingga 18 hari.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow