Serangan Iran Rusak 8 Jet Tempur AS di Yordania dan Gempur Kapal Tanker di Selat Hormuz

Smallest Font
Largest Font

Setidaknya delapan jet tempur F-15 Amerika Serikat mengalami kerusakan ringan akibat serangan Iran di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, pada Selasa malam hingga Rabu pagi. Selain itu, sebuah pesawat A-10 Thunderbolt juga terkena serangan dan kehilangan sayapnya, namun tidak ada korban jiwa dilaporkan dari pihak AS, menurut CBS News. Serangan ini terjadi menyusul serangan balasan AS terhadap lima kapal tanker Iran di Selat Hormuz yang dilakukan pada 8 September setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke kapal Angkatan Laut AS.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan AS memerintahkan awak kapal untuk meninggalkan kapal sebelum kapal-kapal tersebut dihancurkan agar tidak ada korban jiwa.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, "Iran terus berupaya menyerang kapal-kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan itu atau mencoba melakukan itu, mereka akan kehilangan kapal tanker. Dan saya pikir Anda akan melihat itu lagi hari ini." Pernyataan ini menegaskan ketegangan yang makin memanas antara kedua negara di wilayah tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap delapan kapal tanker, dua kapal perang, serta pangkalan AS di Yordania sebagai respons atas serangan AS. Dalam konteks ini, kemampuan rudal Iran menjadi sorotan. Analis menyebutkan bahwa Iran menggunakan rudal dengan teknologi pencari target yang memungkinkan menyerang sasaran bergerak seperti kapal perang AS.

John Caves, peneliti senior di Wisconsin Project on Nuclear Arms Control, mengatakan bahwa Iran sudah mengembangkan rudal seperti Qassem Bassir dan Khalij Fars yang dilengkapi teknologi pencari target untuk mengarahkan serangan secara presisi. Kemampuan ini menimbulkan kekhawatiran AS, terutama terkait kemungkinan dukungan teknologi dan intelijen dari Rusia atau China untuk membantu Iran melacak posisi kapal perang AS. John "Fozzie" Miller, mantan wakil laksamana Angkatan Laut AS, menilai kemampuan Iran menarget kapal perang AS meski upaya pengurangan kemampuan pengawasan lawan AS, merupakan ancaman serius.

Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, juru bicara IRGC, mengatakan kapal perang AS mundur sejauh 400 kilometer dari Selat Hormuz karena tekanan logistik dan moral yang berat.

Mohebbi menuturkan, "AS tentu tidak akan mampu mempertahankan situasi ini dalam waktu lama, karena mereka menghadapi penurunan kondisi yang parah, baik dari segi moral pasukan militernya di kawasan tersebut maupun kondisi senjata dan kapal perang mereka." Menurutnya, pengerahan kekuatan angkatan laut AS menghadapi beban logistik dan biaya operasional yang semakin berat menghadapi kemampuan pencegahan asimetris Iran.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed