OECD Rilis Hasil PISA 2025 Terkait Kemampuan Siswa Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) resmi merilis hasil riset Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang menguji kemampuan siswa usia 15 tahun di 91 negara, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (9/9/2026). Studi PISA 2025 melibatkan 760.000 siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi. Sebanyak 14.168 responden di antaranya merupakan siswa yang berasal dari 419 sekolah di seluruh wilayah Indonesia. Hasil penilaian PISA menunjukkan bahwa siswa Indonesia memiliki kecenderungan tinggi untuk melakukan riset lanjutan saat mempelajari hal baru, namun mereka tetap lebih mengandalkan akal sehat saat dihadapkan pada bukti lain.

"Ketika bukti dan common sense bergabung, akal sehat akan menang," ujar Andreas Schleicher, Direktur untuk Pendidikan dan Keterampilan OECD.

Schleicher menjelaskan bahwa fenomena serupa tidak hanya terjadi pada pelajar di Indonesia, tetapi juga ditemukan pada para siswa di Uzbekistan. Penggunaan akal sehat atau common sense mencakup pengetahuan dasar seperti prinsip bahwa seorang ayah adalah laki-laki, matahari berada di langit, atau tanaman tumbuh dari biji yang umumnya tidak tertulis eksplisit.

Kecenderungan siswa yang lebih memercayai akal sehat dibandingkan bukti ilmiah dinilai menjadi tantangan mendesak, terutama pada era perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). "Saya mengatakan ini karena ini sangat penting dalam dunia AI. AI adalah akal sehat.

Ia sangat fluid, sangat persuasif, sangat yakin. Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Itulah mengapa common sense tidak cukup," tegas Andreas Schleicher, Director for Education and Skills di OECD.

Dalam laporan PISA 2025, banyak siswa berasumsi bahwa jawaban AI yang terdengar meyakinkan pasti benar, sehingga sekolah diminta mendorong pembelajaran mandiri dan verifikasi klaim. "Kemampuan-kemampuan ini akan meningkatkan prestasi akademik serta menumbuhkan pemikiran kritis, kemampuan beradaptasi, dan ketangguhan, semuanya merupakan kualitas penting untuk meraih kesuksesan di perguruan tinggi maupun dunia kerja," tulis laporan tersebut. OECD menegaskan bahwa verifikasi informasi dan pemahaman atas algoritma serta bias daring menjadi kunci penting pembelajaran di sekolah saat ini.

"Siswa yang akan berhasil di era AI bukanlah mereka yang sekadar tahu cara memberikan perintah (prompt) kepada mesin, melainkan mereka yang tahu kapan harus memercayai AI," imbuh laporan tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed