Kemampuan Membaca dan Matematika Siswa Global Turun di PISA 2025

Smallest Font
Largest Font

Kemampuan membaca dan matematika siswa di tingkat global dilaporkan mengalami penurunan tajam berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang diumumkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Data OECD menunjukkan sekitar 29 persen remaja berusia 15 tahun di negara-negara anggotanya memiliki tingkat kemampuan yang rendah dalam membaca, matematika, maupun sains. Sementara itu, performa siswa pada bidang sains tercatat relatif stabil sejak 2022 meski masih di bawah level satu dekade lalu.

"Hasil #OECDPISA yang baru menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan matematika terus mengalami penurunan, sementara kemampuan dalam bidang sains tetap relatif stabil sejak 2022, tetapi berada di bawah level satu dekade yang lalu," ungkap OECD Education Skills melalui akun media sosial resminya.

Penurunan fungsi akademik ini membuat siswa saat ini menghadapi kendala nyata dalam menyelesaikan tugas-tugas dasar harian, mulai dari memahami teks sederhana hingga menghitung rasio harga saat berbelanja. Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, menyoroti kemerosotan tajam pada keterampilan membaca kritis yang sangat dibutuhkan di era kecerdasan buatan.

"Terkait hasil kemampuan membaca, hal yang sangat mengkhawatirkan adalah adanya penurunan besar dan signifikan pada tingkat keberhasilan dalam tugas-tugas membaca yang paling krusial untuk era kecerdasan buatan (AI) saat ini: keterampilan seperti mengevaluasi informasi, berpikir kritis, dan memadukan berbagai bukti, yang semuanya menuntut ketelitian dalam membaca serta konsentrasi yang berkelanjutan," jelas Andreas Schleicher, Director for Education and Skills OECD.

Fenomena ini berbanding terbalik dengan kecenderungan siswa yang kini lebih sering menerapkan pola membaca secara terburu-buru hingga memicu kekeliruan jawaban.

"Sebaliknya, bentuk-bentuk 'membaca secara terburu-buru', di mana siswa memberikan jawaban cepat namun keliru, justru mengalami peningkatan," imbuhnya.

Perubahan gaya hidup akibat digitalisasi dan meningkatnya penggunaan layar ditengarai menjadi salah satu pemicu utama berkurangnya waktu untuk membaca secara mendalam. Di samping itu, tingkat ketidakhadiran siswa di sekolah juga meningkat pascapandemi COVID-19.

"Penurunan tajam dalam kemampuan membaca sangat mengkhawatirkan karena membaca merupakan pintu gerbang bagi sebagian besar proses pembelajaran akademis," tegas Andreas.

Kemampuan literasi dasar yang lemah terbukti berimbas langsung pada penguasaan materi pelajaran lain, mengingat pemahaman bahasa merupakan fondasi utama untuk menganalisis ilmu pengetahuan.

"Baik saat menyelesaikan soal aljabar, menganalisis sumber sejarah, maupun menafsirkan hasil eksperimen sains, siswa harus terlebih dahulu memahami bahasa. Semakin baik kemampuan membaca seorang siswa, semakin mudah pula mereka mengembangkan pengetahuan di berbagai bidang mata pelajaran," imbuhnya.

Meskipun penutupan sekolah saat pandemi berkontribusi pada tren kemerosotan performa akademik, analisis OECD menegaskan bahwa tren penurunan di berbagai negara sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum tahun 2020 akibat kelemahan adaptasi sistem pendidikan.

"Secara keseluruhan, data menunjukkan adanya kelemahan dalam cara bagaimana sistem pendidikan beradaptasi terhadap perubahan sosial, teknologi, dan ekonomi," ujarnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed