PB PDGI Soroti Maraknya Fenomena Tambal Gigi Mandiri
Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia merespons maraknya fenomena masyarakat yang melakukan prosedur tambal gigi secara mandiri menggunakan bahan Do It Yourself yang dibeli dari marketplace online, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Praktik berbahaya tersebut memicu perhatian setelah seorang dokter gigi, Aprillya Sakila, menangani pasien yang mengalami pembengkakan dan peradangan gusi akibat nekat menambal giginya sendiri dengan produk yang tidak steril.
Kondisi medis pasien tersebut memburuk hingga gusi mengeluarkan nanah dan memerlukan penanganan sterilisasi khusus oleh tenaga medis.
drg Aprillya Sakila menceritakan bahwa bahan yang dibawa pasien bertekstur bulat bening dan berubah lembek apabila terkena suhu tinggi.
"Untuk bahan dasarnya saya kurang tau ya kak. Tapi secara klinis bentuknya bulat-bulat bening dan akan melunak jika dipanaskan. Jika dipanaskan dengan suhu tinggi konsistensinya seperti slime," kata drg Aprillya Sakila, Dokter Gigi.
Sekretaris Jenderal PB PDGI drg Eka Erwansyah mengungkapkan bahwa fenomena penambalan gigi secara mandiri telah berulang kali terjadi serta meresahkan kalangan praktisi medis.
"Ini bukan pertama kalinya, udah lazim, udah meresahkan. Udah diedukasi, tapi tetap mencoba berulang," kata drg Eka Erwansyah, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.
Eka menjelaskan kesalahan utama masyarakat terletak pada penggunaan bahan racikan pembuat gigi palsu yang memiliki sifat kimia sangat keras untuk menambal gigi berlubang.
"Yang paling sering dipakai itu adalah barang untuk bikin gigi sebenarnya. Dia akan mengeras begitu ketemu air ludah (self-curing). Jadi, pada saat sebelum ketemu air, dia seperti pasta gigi, mudah dimasukkan ke dalam gigi yang berlubang," kata drg Eka Erwansyah, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.
Penggunaan materi tersebut pada jaringan gigi yang masih memiliki saraf hidup berpotensi memicu reaksi peradangan hebat dan merusak jaringan mulut secara permanen.
"Bukannya mengatasi masalah, malah menimbulkan masalah baru," kata drg Eka Erwansyah, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.
Sebagai langkah pencegahan, PB PDGI menerbitkan panduan 5-S bagi masyarakat sebelum membeli produk kesehatan gigi, yaitu Sesuai kebutuhan, Sah izin edarnya dari BPOM, Sesuai komposisi, Sumbernya terpercaya, dan Stop penggunaan jika muncul reaksi keluhan.
"PDGI berharap masyarakat menjadi lebih aware, lebih hati-hati dalam memilih bahan. Pastikan barang tersebut sesuai, tepat sasaran, tepat indikasi, tepat diagnosis, dan tepat prosedur," kata drg Eka Erwansyah, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow