Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi Rp2 Triliun Tiap Hari

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Keuangan mengaktifkan skema Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund dengan mengucurkan dana sebesar Rp2 triliun setiap hari mulai Senin, 18 Mei 2026, guna membantu Bank Indonesia menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.

Langkah intervensi ini dilakukan pemerintah dengan menyasar pasar obligasi untuk menjaga tingkat imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara tetap kompetitif dan menahan arus modal keluar. Berdasarkan data Reuters pada Senin, mata uang Garuda berada di level Rp17.645 per dolar Amerika Serikat atau melemah sebesar 1,17 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa alokasi anggaran harian tersebut diambil melalui skema manajemen kas pemerintah yang saat ini masih memiliki ruang cukup aman di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

"Iya, saya minta masuk Rp 2 triliun setiap hari," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Pemerintah memanfaatkan sisa anggaran belanja yang tersedia untuk memutar dana tersebut di bursa Surat Berharga Negara, sehingga diharapkan bisa memicu pergerakan positif dari para pelaku pasar modal.

"Kan duitnya enggak hilang, cuma diputar saja supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi," ujar Purbaya.

Melalui perbaikan sentimen investor di pasar obligasi, pergerakan dana asing diharapkan tidak lagi keluar dari pasar keuangan domestik sehingga pasokan valuta asing di dalam negeri tetap terjaga.

"Kalau sentimen positif di situ (bond market), biasanya asing juga ikut masuk dan Rupiah cenderung terkendali, kenapa? karena uangnya enggak keluar lagi. Yang asing enggak jual bond dan kabur keluar. Karena Bond-nya stabil harganya," tutur Purbaya.

Jika stabilitas harga aset obligasi negara dapat dipertahankan, penurunan tingkat imbal hasil akan berbalik menjadi keuntungan bagi para pemegang surat utang pemerintah.

"Karena bond-nya stabil harganya. Artinya kalau stabil, kalau memang yieldnya turun kita targetkan bisa turun, kalau yield-nya turun kan berarti harga bond-nya naik. Nanti ada potensi capital gain, jadi harusnya sih pasar bond kita menarik," ucap Purbaya.

Kementerian Keuangan menegaskan kesiapan dana jangka panjang karena pemerintah memegang cadangan likuiditas kas yang sangat besar untuk menggulirkan program stabilisasi ini.

"Kita lihat seberapa jauh kita butuhkan masuk ke sana. Kan saya punya Rp 420 triliun cash yang bisa saya putar di sana, bisa saya putar uang cash saya ke sana, jadi cukup bisa berkesinambungan dilakukan," ungkap Purbaya.

Kendati demikian, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan ini enggan membeberkan mekanisme operasional terperinci mengenai pembelian surat utang tersebut di pasar sekunder.

"Nanti itu. Itu strategi kita sendiri," kata Purbaya.

Pemerintah juga meminta masyarakat tetap tenang menghadapi fluktuasi nilai tukar karena kondisi ketahanan ekonomi domestik dinilai masih sangat kokoh.

"Enggak usah takut, fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus," cetus Purbaya.

Data pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama tahun ini yang mampu mencapai 5,6 persen menjadi basis optimisme pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

"Kalau kita lihat dengan pangsanya, sebenarnya kalau lihat dari 5,6 itu, mungkin 2,9 dari belanja konsumen, 1,7 dari investasi, 1,3 itu dari belanja pemerintah. Jumlahnya nanti ke arah 6 sana, ada juga export import ya. Jadi gitu caranya," jelas Purbaya.

Indikator ekonomi makro lainnya seperti tingkat konsumsi domestik juga dilaporkan masih menunjukkan performa yang solid dalam menopang target pertumbuhan nasional.

"Yang men-drive dan memberi kontribusi menyumbang terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, artinya daya belinya masih cukup bagus. Jadi jangan khawatir," papar Purbaya.

Reformasi struktural yang telah dijalankan dinilai mampu memberikan daya tahan bagi perekonomian domestik dari tekanan ketidakpastian pasar keuangan global saat ini.

"Anda ingat, triwulan pertama kita tumbuh 5,6 (persen) ketika perekonomian global lagi guncang. Jadi itu suatu prestasi yang luar biasa karena kebijakan Bapak Presiden melakukan reformasi betul-betul dilakukan sebelum ada negative shock dari global. Jadi strategi pembangunannya amat baik dari Bapak Presiden," tutur Purbaya.

Di samping itu, rapat terbatas bidang ekonomi juga digelar bersama Presiden Joko Widodo untuk mengevaluasi kondisi makro secara menyeluruh termasuk koordinasi kebijakan dengan investor.

"Tidak soal rupiah. Rupiah cuma ditanya gimana kondisi ekonomi bagus, anggaran juga bagus enggak ada masalah, fondasi ekonomi betul-betul bagus. Cuma nanti sosialisasi sosialisasi lebih bagus ke pasar, ke investor juga seperti apa, gitu aja," ungkap Purbaya.

Menteri Keuangan menekankan bahwa pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan dan nilai tukar belakangan ini dipicu oleh faktor kepanikan pasar yang bersifat sementara.

"Nggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan fondasi ekonominya kan bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan focus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu," kata Purbaya saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusumah.

Munculnya kekhawatiran dari sejumlah pihak yang menyamakan situasi koreksi pasar keuangan saat ini dengan krisis moneter masa lalu langsung dibantah oleh pemerintah.

"Oh ini kan banyak sentimen. Kalau Rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah," tegas Purbaya.

Kondisi riil pertumbuhan ekonomi nasional saat ini dinilai berada dalam posisi yang jauh lebih baik dibandingkan periode krisis dekade lalu yang mengalami kontraksi mendalam.

"Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," ujar Purbaya.

Situasi koreksi harga aset di pasar modal domestik saat ini justru dinilai dapat dimanfaatkan oleh para pelaku pasar saham untuk melakukan akumulasi portofolio dengan valuasi yang murah.

"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Jadi, jangan lupa beli saham," kata Purbaya.

Di sisi lain, respons positif mengenai prospek stabilitas nilai tukar ke depan juga disampaikan oleh otoritas moneter setelah menghadiri rapat koordinasi di Istana Negara.

"Yakin stabil," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo singkat.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed