Pemerintah Tetapkan Harga Referensi Biji Kakao Juli 2026 Naik Jadi USD3.969
Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi produk komoditas biji kakao periode Juli 2026 sebesar USD3.969,56 per metrik ton. Kebijakan ini mulai berlaku pada hari ini, Kamis, 2 Juli 2026, guna merespons dinamika pasar global.
Ketetapan baru tersebut menandakan adanya kenaikan harga sebesar USD137,39 atau sekitar 3,59 persen hingga 3,6 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Faktor cuaca buruk di wilayah produksi dinilai menjadi pemicu utama yang menekan pasokan global.
Dampak dari kenaikan harga referensi ini juga mengerek Harga Patokan Ekspor untuk komoditas yang sama. Pemerintah berharap penyesuaian ini dapat memberikan dampak positif bagi para petani dan eksportir lokal.
Rincian Penetapan Harga dan Bea Keluar Kakao
Peningkatan harga referensi secara otomatis mengubah nominal Harga Patokan Ekspor yang menjadi acuan para pelaku usaha perdagangan internasional. Pelaku ekspor wajib mematuhi skema tarif yang berlaku bulan ini.
Berdasarkan data resmi dari Kementerian Perdagangan, berikut adalah rincian harga serta tarif ekspor untuk komoditas biji kakao yang berlaku selama bulan Juli 2026:
| Komoditas | Harga Referensi (per MT) | Harga Patokan Ekspor (per MT) | Tarif Bea Keluar | Pungutan Ekspor |
|---|---|---|---|---|
| Biji Kakao | USD 3.969,56 | USD 3.646 | 7,5% | 7,5% |
Kenaikan Harga Patokan Ekspor tercatat sebesar USD134 atau melonjak sekitar 3,83 persen hingga 3,84 persen dari bulan lalu. Regulasi tarif bea keluar mengacu pada PMK Nomor 38 Tahun 2024 yang diubah melalui PMK Nomor 68 Tahun 2025.
Sementara itu, aturan mengenai Pungutan Ekspor sebesar 7,5 persen mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku. Aturan tersebut tertuang dalam PMK Nomor 69 Tahun 2025 juncto PMK Nomor 9 Tahun 2026.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Faktor Cuaca Buruk Global dan Perbandingan Komoditas Lain
Banyak pelaku usaha mempertanyakan "kenapa harga kakao naik" pada periode pertengahan tahun ini. Laporan dari berbagai sumber termasuk KONTAN TV menyebutkan bahwa gangguan cuaca buruk berkepanjangan memicu penurunan produktivitas lahan.
Kondisi ini membuat negara-negara produsen kesulitan memenuhi permintaan pasar internasional yang tetap tinggi. Akibatnya, volume penawaran menyusut dan mengerek naik harga ekspor cokelat terbaru di pasar internasional.
Penurunan Harga Referensi CPO
Berbeda nasib dengan biji kakao, komoditas minyak kelapa sawit mentah justru mengalami pelemahan. Pemerintah menurunkan harga referensi CPO Juli 2026 menjadi USD1.000,90 per metrik ton, atau melemah sebesar 2,78 persen.
Penurunan harga acuan minyak sawit tersebut dihitung berdasarkan rata-rata harga dari bursa komoditas utama dunia. Penghitungan dilakukan sepanjang periode pengamatan sejak 20 Mei hingga 19 Juni 2026 yang lalu.
- Bursa CPO Indonesia: USD 890,84 per MT
- Bursa CPO Malaysia: USD 1.110,97 per MT
- Rotterdam: USD 1.468,28 per MT
Perkembangan Komoditas Kehutanan
Selain kakao dan sawit, sektor kehutanan juga mencatatkan perubahan harga pada komoditas getah pinus. Harga Patokan Ekspor untuk getah pinus naik menjadi USD1.002 per metrik ton dari harga sebelumnya sebesar USD980.
Kenaikan getah pinus tersebut setara dengan peningkatan sebesar USD22 atau naik 2,24 persen dibandingkan bulan Juni. Di sisi lain, harga patokan ekspor untuk produk kulit dilaporkan tidak mengalami perubahan.
Melalui penyesuaian harga referensi dan harga patokan ekspor ini, pemerintah terus memantau pergerakan pasar global. Langkah ini penting guna memastikan daya saing komoditas ekspor Indonesia tetap terjaga di tengah fluktuasi ekonomi dunia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow