Pemimpin Rusia China dan India Gelar Pertemuan di KTT SCO
Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar serangkaian pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi di Bishkek, Kirgistan, pada Selasa (1/9/2026). Pertemuan di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) ini membahas penguatan kerja sama ekonomi, teknologi kecerdasan buatan, hingga dinamika energi global.
Pertemuan puncak kawasan Asia Tengah tersebut dihadiri oleh para pemimpin negara anggota SCO seperti Rusia, China, India, Pakistan, dan Iran. Blok yang bertujuan menjadi penyeimbang kekuatan Barat ini juga menghadirkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai mitra dialog.
Dalam pembicaraan dengan Presiden Xi Jinping, Presiden Putin menekankan pentingnya pengembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendorong perekonomian kedua negara. Langkah Moskow mempererat kerja sama digital ini berlangsung di tengah kebijakan Kremlin memperketat pengawasan internet domestik dan mendorong penggunaan aplikasi pesan Max buatan pemerintah.
"Kerja sama berkembang dengan sukses di berbagai bidang," ujar Putin kepada Xi sebelum memulai pembicaraan bilateral, dilansir dari AFP.
Moskow terus memperkuat kemitraan ekonomi dengan Beijing yang menjadi pembeli utama minyak Rusia selama empat setengah tahun konflik di Ukraina. Di sisi lain, Presiden Xi Jinping memanfaatkan KTT SCO untuk memperluas diplomasi global China jelang pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump pada September.
"Inovasi digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan, juga membuka peluang baru bagi pembangunan ekonomi negara kita," kata Putin.
Direktur Pelaksana Teneo, Gabriel Wildau, mengamati pergerakan diplomasi Beijing yang semakin aktif. "Xi sangat membatasi perjalanan ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir, sehingga jadwal perjalanannya yang padat dalam waktu dekat menjadi indikator penting mengenai prioritasnya," ujar Wildau, dikutip dari CNBC International.
Keterlibatan aktif China di tingkat global dipandang sebagai bentuk kontribusi penyelesaian krisis internasional. Direktur Studi Politik Internasional Chinese Academy of Social Sciences, Hai Zhao, memberikan pandangannya terkait peran strategis tersebut.
"Mungkin sudah saatnya bagi China untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dan menyediakan lebih banyak barang publik global," ujar Zhao.
Zhao memperingatkan potensi risiko keamanan global jika pengawasan terhadap teknologi canggih diabaikan. "Karena integrasi China yang mendalam dalam ekonomi global, China merupakan bagian tak terpisahkan dari solusi," katanya.
Selain bertemu Presiden Xi, Putin dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan PM India Narendra Modi untuk membahas perdagangan energi dan kerja sama pertahanan. New Delhi berupaya menjaga keseimbangan hubungan antara Rusia dan AS di tengah gangguan pasokan energi akibat perang AS-Israel melawan Iran.
Mantan Duta Besar India untuk AS, Meera Shankar, menegaskan posisi diplomatik negaranya. "India memiliki hubungan strategis jangka panjang dengan Rusia. Hubungan ini tidak ditujukan untuk melawan negara mana pun, melainkan untuk membantu India mencapai kepentingan nasionalnya," kata Shankar kepada DW.
Shankar menjelaskan bahwa India berupaya memvariasikan pasokan minyak demi mengamankan kebutuhan energi nasional. "Dalam jangka panjang, transisi menuju ekonomi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil akan memperkuat kemandirian energi India. Namun, hal ini tidak akan terjadi dalam waktu singkat," tambah Shankar.
Pergeseran juga terjadi di sektor pertahanan, di mana India mulai mengurangi ketergantungan pada senjata impor Rusia dan beralih ke manufaktur dalam negeri. Profesor Madya Jawaharlal Nehru University, Aravind Yelery, memberikan analisisnya mengenai dinamika pertahanan kedua negara.
"India tetap menjadi salah satu pembeli senjata Rusia yang tertua dan terbesar, bahkan mungkin pembeli besar terakhirnya," kata Yelery.
Yelery membedakan pola hubungan Moskow dengan Beijing dan New Delhi. "New Delhi semakin enggan berkomitmen pada program jet tempur generasi kelima Rusia dan tidak terlalu berminat membeli peralatan militer Rusia yang baru, kecuali jika dapat dimasukkan ke dalam rencana produksi dalam negeri India," tambahnya.
Analis melihat Rusia membutuhkan kepastian dukungan dari India di tengah sanksi ekonomi Barat. Menurut Yelery, hubungan strategis Moskow dan Beijing lebih bersifat pragmatis dibanding kemitraannya dengan New Delhi.
"Secara strategis, hubungan Rusia dengan Cina pada dasarnya tetap bersifat transaksional, sebuah ketergantungan yang tidak mampu dikorbankan Rusia. Sementara itu, hubungan Rusia dengan India didasarkan pada kemitraan," kata Yelery.
Pakar studi Amerika di Jindal Global University, C Raja Mohan, menilai India kini menerapkan strategi "America plus" untuk memperkuat hubungan dengan AS tanpa mengabaikan mitra lainnya. "Rusia tidak lagi berada dalam posisi untuk membantu India mengimbangi Cina," kata Mohan.
Pendekatan pragmatis ini diambil India untuk mengamankan kepentingan nasionalnya. "India berusaha mengurangi risiko jika kebijakan Amerika berubah-ubah, tetapi tetap menyadari bahwa Washington adalah mitra terpentingnya," ujar Mohan.
Profesor studi Rusia di Jawaharlal Nehru University, Rajan Kumar, menilai pertemuan puncak ini bertujuan menjaga stabilitas hubungan yang sudah terjalin. "Presiden Putin membutuhkan jaminan dari Perdana Menteri Modi bahwa India tidak akan meninggalkan Rusia ketika negara itu menghadapi krisis terburuknya sejak dekade 1990-an," kata Kumar.
Di sisi lain, AS memantau ketat kedekatan ketiga negara di KTT SCO. Analis CSIS, Richard M. Rossow, menyoroti dampak hubungan tersebut terhadap kebijakan perdagangan AS.
"Menurut saya, pertemuan ini lebih membahas kelanjutan hubungan yang sudah ada di tengah tekanan AS," kata Kumar.
Pertemuan antara Modi dan Putin dinilai dapat memengaruhi kebijakan tarif pengadaan minyak dari Rusia. "Kehangatan yang terlihat antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Rusia Vladimir Putin dapat memengaruhi pertimbangan Trump terkait penggunaan tarif sekunder," ujar Rossow.
Meski terdapat dinamika perbatasan dan persaingan teknologi antara India dan China, Rossow mengapresiasi dialog diplomasi yang tetap berjalan. "Senang melihat ketegangan antara India dan China terbatas pada masalah perdagangan dan visa!" kata Rossow.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow