Pemkab Puncak Tetapkan Tanggap Darurat Bencana Cuaca Ekstrem 14 Hari
Pemerintah Kabupaten Puncak, Papua Tengah, resmi menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari sejak Senin (24/8/2026). Langkah tersebut diambil untuk menanggulangi dampak kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan, serta fenomena hujan es akibat cuaca ekstrem El Nino.
Penetapan kebijakan ini diputuskan melalui rapat koordinasi bersama jajaran Forkopimda, TNI, dan Polri di Guest House Elvis Tabuni, Gome. Pemkab Puncak turut membentuk tim terpadu yang melibatkan Organisasi Perangkat Daerah teknis serta BPBD guna melakukan pendataan serta pemetaan wilayah terdampak.
Dampak bencana kekeringan dilaporkan telah meluas ke 25 distrik di Kabupaten Puncak. Fenomena hujan es dan karhutla yang awalnya hanya terjadi di Distrik Agandugume, Lambewi, dan Oneri, kini menjangkau 8 distrik lain termasuk Ilaga, Gome, Omukia, Gome Utara, Mambugi, Ilaga Utara, Amungkalpia, dan Erelmakawia.
Penjabat Sekretaris Daerah Puncak, Nenu Tabuni, memaparkan langkah penyaluran logistik pascanerbitnya SK tanggap darurat bupati.
"Setelah SK tanggap darurat diterbitkan, dinas-dinas teknis, misalnya Dinas Ketahanan Pangan, akan berkoordinasi ke Timika dengan Bulog. Bantuan beras dan bantuan dari pemerintah pusat sudah disiapkan di sana, untuk segera di salurkan ke masyarakat yang terkena dampak," kata Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Distribusi bantuan pangan rencananya disalurkan secara menyeluruh kepada warga selama dua pekan ke depan.
"Tim yang sudah dibentuk ini bersama dengan Ketahanan Pangan akan melakukan dropping bantuan selama 14 hari. Pemerintah daerah tidak hanya menyerahkan secara simbolis, tetapi bantuan akan diberikan secara penuh kepada masyarakat yang terdampak," ujar Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Fenomena cuaca ekstrem memicu dua kerusakan utama pada kawasan pertanian dan permukiman warga.
"Di Kabupaten Puncak ini ada dua dampak bencana akibat musim El Nino. Pertama karena hujan es, dan yang kedua karena kebakaran hutan. Asap sudah sekitar satu minggu melanda Kota Ilaga dan sekitarnya," kata Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Kondisi iklim juga berpotensi memperluas dampak bencana ke daerah lain di luar lokasi awal.
"Potensi musim kemarau ini hampir semua wilayah terdampak. Namun, yang sudah mengalami hujan es sebelumnya adalah Agandugume, Lambewi, dan Oneri. Sekarang dampaknya juga terjadi di 8 distrik lainnya, termasuk wilayah ibu kota kabupaten," jelas Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Kerusakan tanaman warga yang mengering pascahujan es memicu ancaman kelaparan di wilayah terdampak.
"Dampak pertama adalah hujan es. Tanaman warga terkena es. Ketika siang hari panas dan es mencair, tanaman menjadi kering. Kalau tanaman sudah kering, warga tidak bisa makan," papar Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Selain merusak tanaman pangan, kobaran api lahan berisiko menjalar ke rumah adat warga.
"Dampak kebakaran ada dua. Tanaman warga ikut terbakar dan honai-honai warga juga terdampak. Karena api dari lahan hutan sulit dikendalikan, akhirnya masuk ke rumah-rumah dan terbakar," ujar Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Bahaya kabut asap tebal mulai mengancam kesehatan saluran pernapasan warga di Kota Ilaga.
"Dampaknya juga bisa memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama gangguan pernapasan dan infeksi saluran pernapasan. Karena itu, dalam rapat kami sudah menyampaikan kepada Dinas Kesehatan agar sejumlah obat harus disiapkan," jelas Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Masa tanggap darurat bencana dapat diperpanjang menyesuaikan perkembangan cuaca di lapangan.
"Ketentuan awal tanggap darurat adalah 14 hari. Tetapi kalau kita melihat musim kemarau masih terus berlangsung, pemerintah akan memperpanjangnya. Semua upaya akan kita lakukan, termasuk dari sisi anggaran," terang Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Warga diimbau tidak menyalakan api saat berkebun atau berburu karena rumput dan vegetasi hutan sangat mengering.
"Sekarang rumput terkena es, kemudian pada siang hari panas. Kalau dibakar, seperti kita menyiram bensin. Api bisa langsung menyebar ke mana-mana," imbuh Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Krisis pasokan air bersih juga mulai mengancam karena sumber air pegunungan mengalami penurunan debit mendasar.
"Air kita berasal dari gunung dan tidak ada sumur. Kalau kemarau berkepanjangan, air bisa sampai kering. Kami berharap sungai-sungai besar tetap mengalir sehingga masyarakat masih bisa mandi, mencuci, dan minum," pungkas Nenu Tabuni, Pj Sekda Puncak.
Pemkab Puncak telah berkoordinasi dengan Pemprov Papua Tengah dan pemerintah pusat guna pendampingan penanganan bencana serta pengesahan cadangan beras pemerintah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow