Penyebab Apartemen LRT City Mandek dan Serah Terima Terlambat
Konsep hunian berkonsep Transit-Oriented Development (TOD) yang mengintegrasikan tempat tinggal langsung dengan stasiun moda raya terpadu atau LRT sempat menjanjikan kepraktisan tingkat tinggi bagi masyarakat perkotaan. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain ketika proyek hunian seperti Apartemen LRT City justru mengalami kemandekan dan keterlambatan serah terima unit yang parah kepada para pembeli.
Lantas, mengapa proyek apartemen yang digadang-gadang menawarkan kemudahan dan kepraktisan hidup bagi para penghuni perkotaan ini bisa berakhir terbengkalai dan mandek?
Dilema Pasokan dan Permintaan Pasar
Analis properti menilai bahwa dinamika yang terjadi pada proyek hunian ini tidak lepas dari hukum dasar pasar properti yang bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan. Ketika pengembang terus memacu pembangunan tanpa diimbangi oleh tingkat penyerapan atau penjualan unit yang memadai, kondisi kelebihan pasokan atau oversupply tidak dapat dihindarkan. Dampak lanjutannya adalah beban biaya konstruksi yang kian menjerat dan memberatkan arus kas pihak pengembang.
Head of Growth and Head of Strategic Consulting Vivin Harsanto memberikan gambaran mengenai situasi pelik yang dihadapi oleh pengembang ketika penjualan unit tidak mencapai target yang diharapkan untuk menopang tahapan pembangunan selanjutnya.
"Kalau udah bangunnya segini tapi demand-nya sebagian kan nggak cukup untuk membangun (tahap proyek) selanjutnya," ujar Vivin Harsanto, Head of Growth and Head of Strategic Consulting.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Vivin dalam acara Media Briefing Jakarta Property Market Overview kuartal kedua tahun 2026 yang berlangsung di kawasan Jakarta Selatan pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Selain persoalan penyerapan pasar, letak geografis dan karakteristik lingkungan sekitar proyek juga menjadi faktor penentu melemahnya daya tarik apartemen tersebut. Proyek-proyek LRT City pada umumnya berdiri di kawasan yang masih didominasi oleh perumahan tapak. Kondisi ini membuat warga sekitar masih bisa dengan sangat mudah mengakses stasiun LRT menggunakan jasa ojek online maupun moda transportasi penghubung lainnya tanpa perlu berpindah tinggal ke apartemen.
Faktor kenaikan biaya pembangunan yang terjadi sepanjang berjalannya proyek turut memicu kenaikan harga jual unit secara bertahap. Ketika harga unit apartemen merangkak naik hingga menyentuh batas atas daya beli target pasar, penjualan menjadi semakin tersendat, terlebih dengan hadirnya opsi perumahan tapak di sekitarnya yang menawarkan alternatif hunian lain.
Jeritan Konsumen di Tengah Ketidakpastian
Kemandekan pembangunan ini memicu gelombang keluhan dari para konsumen yang telah menginvestasikan dana besar mereka. Salah satu pengembang yang kini berada di bawah sorotan tajam adalah PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), khususnya pada proyek Apartemen LRT City Tebet, Ciracas, dan Cibubur. Satu per satu pembeli mulai bersuara karena tidak kunjung mendapatkan kepastian mengenai waktu penyerahan unit yang telah mereka lunasi sejak bertahun-tahun lalu.
Pengalaman pahit ini salah satunya dirasakan oleh Diana, bukan nama sebenarnya, seorang pembeli yang telah mengambil dua unit apartemen di LRT City Ciracas sejak tahun 2018 dan merampungkan seluruh pembayarannya pada tahun 2019. Diana tercatat telah menyetorkan dana sebesar Rp 1,3 miliar untuk membeli unit tipe satu kamar tidur seharga sekitar Rp 800 juta serta unit tipe studio dengan harga sekitar Rp 500 juta.
Namun hingga saat ini, wujud fisik dari kedua unit apartemen yang dibelinya tersebut masih belum tampak sama sekali. Padahal, pada saat transaksi awal, pihak pengembang menjanjikan bahwa unit hunian tersebut sudah siap diserahterimakan dan ditempati pada April 2021. Memasuki tahun 2022, pengembang sempat bergeming dan memberikan alasan bahwa keterlambatan proyek disebabkan oleh adanya pelanggaran kontrak kerja yang dilakukan oleh pelaksana proyek kala itu.
"Jadi, kita itu dijanjikan terus. Yang sebelumnya di 15 Maret 2021, kemudian di akhir 2022, kemudian di akhir 2024, dan sampai akhirnya sekarang. Jadi, di awal tahun 2026, itu kita sudah meminta kejelasan progresnya ini seperti apa," kata Diana, konsumen Apartemen LRT City Ciracas.
Kekecewaan Diana mencerminkan keresahan mendalam yang dirasakan oleh sekian banyak konsumen lain yang sudah lelah menunggu dalam ketidakpastian. Ironisnya, di tengah proyek Ciracas yang mangkrak dan gagal memenuhi target penyelesaian sejak tahun 2021, pihak pengembang diketahui masih terus gencar melakukan promosi penjualan kepada publik hingga saat ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow