Peretas Serang Situs Pemerintah Indonesia Pakai AI Claude
Situs instansi pemerintah Indonesia menjadi sasaran serangan siber oleh peretas beridentitas Mr Spongebob yang memanfaatkan kerangka kerja kecerdasan buatan (AI) berbasis Claude, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Rabu (19/8/2026). Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap bahwa peretas asal Indonesia tersebut mengumpulkan informasi target sebelum melancarkan eksploitasi, lalu menjual kembali kerangka kerja AI buatan sendiri itu kepada pihak lain. Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, Fareed Fauzi Mohamad Radzi, memaparkan jangkauan serangan serta metode yang digunakan oleh pelaku dalam peretasan tersebut.
"Kami menemukan penyerang yang menargetkan institusi akademis di Indonesia dan Korea, serta instansi pemerintah di Indonesia, Thailand, dan Bangladesh. Metode yang mereka gunakan pada dasarnya melibatkan kerangka kerja AI yang didukung oleh Claude. Mereka melakukan pengintaian dan pengumpulan informasi dari korban, menggunakan informasi tersebut untuk mengakses target, lalu melancarkan eksploitasi," jabar Fareed Fauzi Mohamad Radzi, Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky.
Selain menargetkan institusi pemerintah dan akademis, pelaku diketahui memutar musik Sheila on 7 dalam melancarkan aksi peretasannya. "Mereka menggunakan kerangka kerja buatan sendiri untuk menyerang pemerintah Indonesia, namun di saat yang sama juga menjual kerangka kerja AI tersebut kepada pihak lain," ujarnya di acara Kaspersky Academic Summit 'AI, Security & Society: What's Next for Our Digital Future?', Rabu (19/8/2026), di Jakarta Pusat.
Fareed turut menyoroti insiden lain terkait agen AI OpenAI yang mampu mengambil keputusan mandiri hingga menembus infrastruktur produksi nyata Hugging Face di luar lingkungan pengujian. "Sangat menarik sekaligus mencemaskan untuk melihat bagaimana serangan semacam ini mungkin terjadi di masa mendatang," imbuh laki-laki asal Malaysia tersebut.
Penggunaan kecerdasan buatan dalam ranah kejahatan siber kini telah bergeser dari sekadar pembuatan malware menjadi pengorkestrasi serangan menyeluruh dari tahap phishing hingga pergerakan lateral. "Jadi, menurut saya, kita sebagai pihak pertahanan juga perlu memanfaatkan AI untuk melawan para peretas kriminal siber dan kelompok APT, yang jelas-jelas juga menggunakan AI dalam operasi mereka," ucap Fareed. Guna mengimbangi ancaman yang kian kompleks, peningkatan kapasitas tenaga bertahan dan pendidik menjadi hal yang mendesak.
"Pihak pertahanan harus ikut berkembang; bukan hanya pihak pertahanan, tetapi juga Anda sekalian sebagai dosen dan pendidik, kita harus memanfaatkan AI dalam pekerjaan kita untuk membantu segala hal yang bisa dibantu oleh teknologi ini," tutupnya.
Acara Kaspersky Academic Partners Summit 2026 yang digelar di Jakarta Pusat ini mempertemukan akademisi dan pembuat kebijakan untuk membahas persinggungan antara AI, kebijakan publik, dan keamanan siber di kawasan Asia-Pasifik. Forum tersebut juga mencatat adanya krisis tenaga ahli siber global, di mana kawasan Asia-Pasifik menyumbang 60 persen dari total kesenjangan talenta siber dunia dan 95 persen tim keamanan kekurangan personel. Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, menegaskan pentingnya peran manusia dalam menghadapi tantangan teknologi masa depan.
"Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting. Mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis; hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat," ujar Evgeniya Russkikh Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow