Perguruan Tinggi dan Pemda Kirim Bantuan Bencana Gempa NTT

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak 71 orang dilaporkan meninggal dunia dan 59.647 warga mengungsi akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, berdasarkan data yang dihimpun per 18 Agustus 2026. Menanggapi krisis tersebut, sejumlah perguruan tinggi dan pemerintah daerah bergerak menyalurkan tim medis, obat-obatan, serta bantuan pendidikan.

Universitas Muslim Indonesia memfokuskan aksi kemanusiaan dengan menerjunkan relawan kesehatan dan dukungan logistik ke wilayah terdampak. Langkah ini menjadi wujud pengabdian lembaga dalam situasi darurat bencana.

"Baru saja kita saksikan pelepasan tim relawan medis bencana yang ada di NTT, membawa atas nama UMI," ujar Prof Hambali Thalib, Rektor Universitas Muslim Indonesia.

Pelepasan tim relawan tahap awal di Makassar tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UMI. Personel yang dikirimkan terdiri atas gabungan dokter spesialis dan tenaga pendukung media center.

"Tim ini terdiri dari gabungan, ada dari media (center UMI), relawan medis para dokter dan tim lain yang ada dalam rangka turut berpartisipasi membantu masyarakat sebagai bagian dari pengabdian misi UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah," kata Prof Hambali Thalib, Rektor Universitas Muslim Indonesia.

Pengiriman relawan tersebut dirancang untuk merespons kebutuhan mendesak warga di lapangan. UMI memberangkatkan lima personel pada gelombang pertama dan menyusulkan tim berikutnya secara bertahap.

"Tadi itu tentatif kurang lebih satu minggu, tim ini juga nanti akan dikoordinir langsung oleh pimpinan universitas dalam hal ini Wakil Rektor II Prof Zakir Sabara namun tidak bersamaan karena ada agenda lain. Artinya tim ini langkah awal akan menyusul lagi tim-tim lain," beber Prof Hambali Thalib, Rektor Universitas Muslim Indonesia.

Kedatangan para tenaga medis diharapkan mampu mempercepat koordinasi penanganan kesehatan bersama pihak lokal. Skema penggalangan bantuan juga terus berjalan untuk menyokong kebutuhan hidup pengungsi.

"Harapan kita bahwa tim ini paling tidak mampu berkoordinasi dengan jajaran pimpinan setempat, tim relawan lain dan masyarakat. Sehingga beban masyarakat yang tertimpa paling tidak bisa merasakan kehadiran UMI sebagai bagian pengabdian masyarakat perguruan tinggi," ujar Prof Hambali Thalib, Rektor Universitas Muslim Indonesia.

Dekan Fakultas Kedokteran UMI menjelaskan bahwa penyediaan alat kesehatan dan logistik dilakukan guna mendukung operasional tim medis di wilayah pascabencana.

“Kami mengirimkan tim medis, termasuk dokter spesialis bedah, dengan dukungan penuh AMDA Internasional," ujarnya Dr dr H Nasruddin A Mappaware, Dekan FK UMI.

Fakultas Kedokteran UMI bekerja sama dengan jejaring internasional untuk menghimpun pasokan mendesak. Sinergi ini ditujukan untuk memperluas jangkauan layanan medis dan distribusi pangan.

"FK UMI bersama AMDA Internasional juga berhasil menggalang bantuan yang akan disalurkan dalam bentuk kebutuhan mendesak, seperti logistik pangan, obat-obatan, serta peralatan medis untuk mendukung pelayanan di lapangan,” lanjut Dr dr H Nasruddin A Mappaware, Dekan FK UMI.

Tim lapangan yang diberangkatkan dipimpin oleh dokter spesialis bedah dr Berry Erida Hasbi. Misi kemanusiaan ini berkolaborasi langsung dengan Association of Medical Doctors of Asia.

"Insyaallah pada hari ini kami tim dari UMI dan AMDA akan berangkat ke bencana Flores. Insyaallah setibanya kami disana akan koordinasi dengan pihak setempat kemudian lakukan cek tempat melakukan cek lokasi," katanya dr Berry Erida Hasbi, Ketua Tim Relawan UMI.

Dukungan pendanaan dan penyediaan sarana medis didapatkan dari hasil kolaborasi internal universitas beserta lembaga mitra. Penggalangan donasi terus dibuka untuk memfasilitasi kebutuhan posko.

"Luar biasa ya support dari UMI Pak Rektor dan ketua Yayasan dan AMDA. Jadi kegiatan ini tidak hanya diinisiasi oleh UMI tapi merupakan kolaborasi internasional dengan AMDA untuk memberikan dampak kepada masyarakat," ucap dr Muhammad Irsan Muflih Mundzir, Relawan Medis UMI.

Akomodasi dan perlengkapan medis darurat telah disiapkan guna menunjang kerja para relawan di lapangan.

"Alhamdulillah kita sudah ada open donasi di fakultas maupun universitas. Saat ini di kami ada bantuan dari fakultas dan relawan dan AMDA kita gunakan untuk akomodasi, obat dan alkes," pungkas dr Muhammad Irsan Muflih Mundzir, Relawan Medis UMI.

Sementara itu, Universitas Gadjah Mada merespons bencana dengan menerjunkan enam personel Tim Tanggap Bencana ke NTT. Pengiriman tim difokuskan untuk melakukan asesmen kebutuhan dan penguatan manajemen krisis.

“Ketika ada info bencana di sana (NTT), sebagai respons tercepat, kami tim tanggap respons bencana bekerja sama dengan Academic Health System UGM (AHS UGM) dan jejaring dengan Dinas Kesehatan, berkoordinasi dan memutuskan mengirimkan tim bencana ke wilayah-wilayah yang memang saat ini dibutuhkan,” jelas Sutono, Ketua Pokja Bencana FK-KMK UGM.

Penugasan tim UGM dijadwalkan berlangsung pada 19 hingga 30 Agustus 2026. Penilaian cepat difokuskan pada pemetaan kebutuhan nyata warga terdampak di tiga wilayah.

“Kita melepas keberangkatan enam personel terbaik dari FK-KMK dan RSA UGM yang tergabung dalam tim manajemen bencana dan tim medis. Misi kali ini kita merespons permintaan dari pusat krisis untuk memperkuat tata kelola penanganan bencana di tiga daerah di NTT yang ditugaskan mulai 19–30 Agustus,” ujarnya Prof dr Yodi Mahendradhata, Dekan FK-KMK UGM.

Evaluasi menyeluruh di lokasi bencana dianggap penting agar penyaluran bantuan lanjutan dari UGM tepat sasaran.

“Timnya akan melakukan asesmen di lapangan dan dari situ kita akan bisa mengidentifikasi kebutuhan realnya apa. Karena ini kan butuh informasi dari lapangan. Dan juga butuh koordinasi karena banyak pihak yang terlibat. Supaya lebih tepat sasaran, maka kita menyiapkan tim asesmen ini,” jelas Prof dr Yodi Mahendradhata, Dekan FK-KMK UGM.

Tim medis UGM membawa amanah logistik kesehatan dari Pemda DIY untuk didistribusikan langsung kepada korban gempa.

“Kita juga mengemban amanah logistik yang sangat penting. Sudah ada penyerahan simbolis tadi untuk pengobatan. Ini yang harus saya pastikan nanti sampai dan didistribusikan dengan tepat pada masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Prof dr Yodi Mahendradhata, Dekan FK-KMK UGM.

Asesmen awal difokuskan di Kabupaten Ngada untuk memetakan prioritas bantuan, baik dalam bentuk logistik maupun pelayanan kesehatan darurat.

"Jadi kami mau asesmen dulu kebutuhan-kebutuhan apa yang akan diperlukan di sana, apakah lebih ke logistik atau ke tim medis,” jelas dr Rizki Fitria Febrianti, Anggota Tim Medis RSA UGM.

Kondisi bangunan fasilitas kesehatan yang rusak meningkatkan potensi timbulnya kasus trauma dan luka pada korban gempa.

“Kalau di sana kan kasusnya saat ini gempa. Jadi kalau gempa itu banyaknya kasus trauma, luka. Perawatan luka di sana juga dibutuhkan.

Kemudian karena beberapa rumah sakit juga diinfokan collapse, jadi nanti kita tetap ada rapid health assessment awal. Jadi di sana nanti kita asesmen ulang,” ungkap dr Rizki Fitria Febrianti, Anggota Tim Medis RSA UGM.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta turut menyalurkan bantuan obat-obatan seberat 240 kilogram. Pengiriman logistik kesehatan tersebut diprioritaskan untuk obat-obatan esensial dan perlengkapan medis.

“Di sana ada parasetamol tablet, parasetamol sirup, kemudian multivitamin, kemudian ada ibuprofen, antasida, cetirizine, bahkan infus juga kami siapkan. Selain itu, masker dan handscoon juga kami sertakan,” ujar dr Gregorius Anung Trihadi, Kepala Dinas Kesehatan DIY.

Kapasitas pengangkutan membuat pengiriman obat dari Pemda DIY dilakukan bertahap, dengan 40 kilogram diberangkatkan pada gelombang pertama bersama tim UGM.

“Jadi memang ada sekitar 240 kg yang kami siapkan. Dalam tahap pertama ini, kami kirimkan mungkin 40 kg dulu kepada FK-KMK UGM karena keterbatasan waktu dan persiapan. Tapi kami ucapkan terima kasih, di sela-sela keterbatasan angkutan dan bagasi pun FK-KMK UGM masih bisa menyampaikan bantuan obat-obatan tersebut agar bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat yang terdampak,” jelas dr Gregorius Anung Trihadi, Kepala Dinas Kesehatan DIY.

Pemda DIY juga mengeluarkan kebijakan khusus bagi mahasiswa asal NTT yang menempuh pendidikan di wilayah Yogyakarta. Pemda DIY mengimbau perguruan tinggi memberikan keringanan biaya pendidikan.

"Kami juga membuat surat kepada seluruh rektor perguruan tinggi yang berkaitan dengan kelonggaran biaya pendidikan bagi mahasiswa yang terdampak bencana NTT," kata Ni Made Dwipanti Indrayanti, Sekretaris Daerah DIY.

Pihak kampus diminta melakukan pendataan mahasiswa terdampak guna penyesuaian kebijakan bantuan biaya kuliah dan bantuan hidup.

"Itu nanti terkait dengan verifikasi mahasiswa, dan kebijakannya kami serahkan sepenuhnya kepada universitas masing-masing," katanya Ni Made Dwipanti Indrayanti, Sekretaris Daerah DIY.

Bantuan dari Pemda DIY tersebut diapresiasi oleh Badan Penghubung Daerah Provinsi NTT sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap mahasiswa di perantauan.

"Dari sepengetahuan kami, Provinsi DIY adalah provinsi pertama yang memberikan bantuan khusus untuk mahasiswa, untuk biaya hidupnya," kata Florida Taty Satyawati, Kepala Badan Penghubung Daerah Provinsi NTT.

Di Jakarta, para mahasiswa perantau asal NTT menggalang bantuan mandiri untuk dikirimkan ke kampung halaman. Mereka mencatat sejumlah daerah seperti Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Manggarai mengalami kerusakan rumah hingga kelangkaan bahan pangan dan air bersih.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed