Menag Salurkan Bantuan Rp 3 Miliar dan Tinjau Korban Gempa Flores

Smallest Font
Largest Font

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyalurkan bantuan tanggap darurat senilai Rp 3 miliar untuk masyarakat terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan meninjau langsung kondisi siswa di MTsN 2 Manggarai Barat, Jumat (4/9/2026).

Bantuan ini merupakan upaya pemerintah untuk mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan dan keagamaan pascagempa. Nasaruddin memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung meski ruang kelas banyak yang rusak.

"Harus tetap semangat ya belajarnya. Musibah ini adalah ujian. Kalau ujian itu artinya bisa naik kelas nanti," ujar Nasaruddin saat kunjungan di NTT, Kamis (3/9), sambil menyapa siswa yang belajar di tenda darurat.

Ia mengapresiasi semangat siswa dan guru yang terus melaksanakan pembelajaran di tengah keterbatasan fasilitas. Kementerian Agama telah menyiapkan 16 ruang belajar sementara dan menyalurkan 1.000 paket perlengkapan sekolah sebagai bagian dari penanganan madrasah terdampak.

"Bencana tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anak untuk kehilangan haknya mendapatkan pendidikan. Pemerintah harus hadir memastikan mereka tetap dapat belajar dengan aman dan layak," kata Nasaruddin.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTT, Fransiskus Kariyanto, menyatakan pihaknya sudah mendata kerusakan dan menyalurkan bantuan di berbagai wilayah seperti Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat.

Bantuan juga diberikan kepada keluarga siswa madrasah yang meninggal dunia selama bencana. Nasaruddin berharap bantuan dan solidaritas masyarakat dapat mempercepat pemulihan Flores dan mengajak semua pihak terus bergotong royong.

Sementara itu, gempa susulan terus terjadi di wilayah Pulau Flores. Pada Jumat dini hari, gempa magnitudo 4,6 mengguncang Kabupaten Nagekeo tepatnya pukul 05.00 Wita dengan episenter di laut 48 km timur laut Nagekeo pada kedalaman 7 km, tanpa potensi tsunami, menurut Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama.

Gempa ini merupakan rangkaian susulan dari gempa utama M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Hingga 4 September, tercatat 12.051 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2.

Warga di Pulau Palue melaporkan gempa susulan menyebabkan longsor yang menutup badan jalan penghubung Desa Rokirole dan Desa Nitung Lea, menghambat mobilitas serta distribusi bantuan.

Menurut Nestor Langga, longsor akibat gempa ini membutuhkan alat berat untuk membersihkan karena batu dan tanah menumpuk pada jalan.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan menghindari bangunan yang retak atau rusak untuk mencegah risiko korban.

Data BNPB hingga 3 September 2026 menunjukkan jumlah korban meninggal akibat gempa utama mencapai 127 orang dengan ribuan orang luka dan lebih dari 166 ribu pengungsi di NTT.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed