Polda Jateng Gandeng FBI Usut Kasus Love Scamming Internasional

Smallest Font
Largest Font

Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah menggandeng Federal Bureau of Investigation atau FBI untuk mengusut jaringan penipuan daring internasional bermodus investasi kripto fiktif di Solo Baru, Sukoharjo, setelah mendeteksi mayoritas korban merupakan warga negara Amerika Serikat.

Penyidik kepolisian melibatkan lembaga penegak hukum luar negeri tersebut karena komplotan penipu yang beroperasi lewat PT Digi Global Konsultan ini menargetkan ribuan orang asing sejak Juli 2025.

Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Himawan Susanto Saragih, dalam konferensi pers di Mapolda Jateng pada Senin, 1 Juni 2026, menjelaskan bahwa sinergi lintas negara dilakukan demi melacak data para korban.

"Dalam kasus ini pelaku menargetkan warga negara Amerika Serikat sehingga di dalam proses penyidikan kami bekerja sama dengan FBI dan tentunya dalam koordinasi baik Divhubinter maupun Bareskrim," ungkap Himawan.

Pihak kepolisian mencatat ada sekitar 5.000 orang yang menjadi target operasi, dengan 133 orang di antaranya dipastikan telah menjadi korban dan mentransfer dana ke rekening komplotan.

"Karena ini lebih banyak korban dari Amerika, tentunya kami akan bekerja sama dan berkolaborasi dengan FBI dalam mendapatkan informasi dari korban-korban yang ada di Amerika khususnya," terang Himawan.

Selain bekerja sama dengan kepolisian internasional, Polda Jateng juga memperluas koordinasi dengan lembaga domestik untuk menelusuri aset digital dan pergerakan para tersangka warga negara asing.

"Selanjutnya melakukan kerja sama dengan PPATK guna penelusuran transaksi perbankan dan crypto yang digunakan dalam operasional tindak pidana penipuan online tersebut. Dan selanjutnya melakukan kerja sama dengan pihak Imigrasi dalam pengawasan orang asing," terang Himawan.

Dalam menjalankan aksinya, sindikat ini memanfaatkan skema investasi mata uang digital fiktif untuk memikat para korban setelah membangun kedekatan emosional melalui media sosial.

"(Mengapa menggunakan crypto) Ya, karena tentunya mereka sudah mempersiapkan website yang dimodif secara ringkas. Mereka sudah membuat mendesain sedemikian rupa sehingga korban itu tertarik tentunya dengan keuntungan yang lebih besar," kata Himawan.

Modus operandi menggunakan mata uang virtual ini dipilih oleh kelompok kriminal tersebut karena dinilai memiliki fleksibilitas tinggi dan efisien dalam proses pemindahan dana antarnegara.

"Dan mata uang yang paling gampang adalah crypto," jelasnya.

Akibat skema manipulatif tersebut, sindikat ini berhasil menghimpun dana hingga puluhan miliar rupiah dari ratusan korban dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

"Berdasarkan data transaksi yang ditemukan sejak Juli tahun 2025 hingga Mei 2026, kelompok tersebut memperoleh keuntungan sebesar 2.327.625.85 USD atau setara dengan Rp 41,1 miar daripada korban. Jumlah target sekitar 5.000 orang dan sebanyak 133 WNA (warga negara asing) menjadi korban investasi tersebut," ungkap Himawan.

Dalam struktur kejahatan ini, para pelaku membagi tugas mulai dari tim pemasaran yang mencari target hingga penggunaan model khusus untuk meyakinkan korban yang ragu.

"Jadi model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang dikehendaki korban," kata Himawan.

Model yang direkrut merupakan seorang perempuan mantan artis berinisial F yang bertugas melakukan panggilan video dengan memanfaatkan daya tarik fisiknya saat korban meminta bukti visual.

"Marketing itu mendapat korban. Apabila di dalam pendalaman mereka si korban butuh keyakinan, maka yang tampil adalah bukan marketing, tapi model. Karena marketing ini ingin supaya korban segera melakukan investasi yang sudah ada, yang sudah ditawarkan," ujar dia.

Meskipun kepolisian telah membeberkan ciri fisik dan latar belakang profesi tersangka F, pihak penyidik memilih untuk tidak membuka identitas aslinya ke publik.

"Kemudian untuk model dari kalangan apa? Yang jelas model dari mantan artis, itu aja," ucap Himawan.

Kepolisian mengungkapkan bahwa sebelum mengarahkan korban ke platform investasi palsu, PT Digi Global Konsultan terlebih dahulu menginstruksikan para pekerjanya untuk mendekati target secara personal.

"Para pelaku terlebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan korban menggunakan identitas palsu dan akun media sosial fiktif," kata Himawan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed