Polisi Usut Penggerak dan Pendana Kerusuhan Demo DPR 27 Agustus

Smallest Font
Largest Font

Polda Metro Jaya mengusut pihak penggerak dan penyandang dana dalam kerusuhan yang terjadi usai demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta pada Kamis, 27 Agustus 2026. Polisi menangkap 322 orang yang diduga terlibat kerusuhan, terdiri dari 162 orang dewasa dan 160 anak-anak usia 12 sampai 19 tahun, dengan 48 di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka, kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyampaikan bahwa penyidik menemukan adanya klaster penggerak dan pendana kerusuhan, serta klaster perekrut massa yang sengaja dicari untuk membuat kerusuhan tersebut.

"Penyidik menemukan fakta hukum adanya pihak yang menggerakkan dan memberikan pembiayaan di dalam aksi kerusuhan tersebut," ujar Iman.

Iman menambahkan, selain penggerak dan pendana, ditemukan juga klaster yang bertugas merekrut massa untuk digunakan dalam kerusuhan. "Penyidik juga di dalam penyidikan telah menemukan fakta hukum terkait adanya klaster yang bertugas mencari dan merekrut terhadap massa-massa yang akan digunakan di dalam proses atau di dalam kejadian kerusuhan tersebut," kata Iman.

Polisi mengelompokkan para terduga perusuh ke dalam enam klaster, termasuk anak-anak di bawah usia 18 tahun, perusuh biasa, perusak fasilitas umum, pembawa senjata tajam, penggerak dan pendana, serta perekrut massa, menurut Iman. Dalam klaster perusak fasilitas umum dan penganiayaan, polisi menetapkan 45 orang sebagai tersangka, termasuk tiga orang yang membawa senjata tajam saat kerusuhan berlangsung.

"Modus operandi tersangka adalah melakukan perusakan fasilitas umum dan penganiayaan, melakukan kekerasan di muka umum, berkelompok dan menimbulkan kekacauan, serta penyalahgunaan senjata tajam," jelas Iman. Saat ini, polisi juga mendalami kemungkinan eksploitasi anak-anak dalam kegiatan melawan hukum tersebut. Dalam kerusuhan ini, satu warga bernama Bambang Setiyawan (59) meninggal dunia diduga akibat pengeroyokan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Bambang sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum meninggal, kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.

Istri Bambang, Sudarsi, menceritakan bahwa Bambang menutup dagangannya saat massa mulai berdatangan dan sempat mengantar seseorang ke rumah sakit sebelum kembali ke rumah pada malam hari. Namun Bambang tidak pulang setelah situasi kerusuhan mereda dan kemudian ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Warga di sekitar lokasi menuntut pemerintah dan polisi mengusut tuntas kasus ini, termasuk penangkapan para pelaku. Sementara itu, seorang warga bernama Faturohman (18) mengaku menjadi korban pemukulan saat kerusuhan dan mendapat perawatan medis setelah dikunjungi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya yang dituding warganet terlibat dalam kerusuhan membantah keterlibatan tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed