BMKG Ingatkan Potensi Gempa Megathrust Selat Sunda Ancam Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi gempa bumi megathrust Selat Sunda pada Sabtu, 12 September 2026. Guncangan tersebut diperkirakan berdampak hingga Jakarta dan berpotensi memicu gelombang tsunami di kawasan pesisir.
Hasil pemodelan BMKG menunjukkan gempa megathrust Selat Sunda berpotensi mencapai magnitudo 8,9. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), gelombang tsunami dari Selat Sunda membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai ke pesisir utara Jakarta dengan ketinggian sekitar 0,5 meter. Sementara itu, ketinggian gelombang di wilayah pesisir Banten dan Jawa Barat diperkirakan melebihi 1,5 meter.
Selain ancaman tsunami, Jakarta berpotensi mengalami guncangan gempa dengan skala intensitas 6 hingga 7 Modified Mercalli Intensity (MMI). Karakteristik tanah aluvial lunak di ibu kota dapat memperkuat getaran sehingga berisiko merusak struktur bangunan. Jakarta juga menghadapi potensi guncangan skala menengah dari Sesar Cimandiri.
Dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Jurnalis Metro TV Indira Pramesti menyampaikan informasi terkait proyeksi magnitudo dan dampak tsunami tersebut.
"BMKG sendiri memprediksi gempa megathrust yang terjadi ini bisa mencapai dengan magnitudo 8,9 yang diikuti dengan adanya potensi terjadinya tsunami," ujar Jurnalis Metro TV Indira Pramesti.
Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024 mencatat kenaikan jumlah zona megathrust menjadi 14 titik di seluruh Indonesia, meningkat dari peta rilis 2017. Beberapa zona megathrust utama memiliki potensi kekuatan maksimal beragam, seperti Aceh-Andaman hingga magnitudo 9,2, Jawa hingga magnitudo 9,1, serta kawasan Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing hingga magnitudo 8,9.
Kondisi geologi Indonesia menarik perhatian peneliti internasional dari Hokkaido University Jepang, Profesor Kosuke Heki, yang menilai karakteristiknya mirip dengan zona aktif Nankai Trough di Jepang. Dalam tugasnya sebagai Visiting Researcher di BRIN, Heki membagikan hasil pengamatannya mengenai pola historis gempa besar di negaranya.
"Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar," ungkap Profesor Kosuke Heki, Peneliti Hokkaido University.
Heki menekankan pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut untuk mengamati akumulasi tegangan tektonik.
"Kami melihat adanya kopling antiseismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya," jelas Profesor Kosuke Heki.
Ia juga menyoroti fenomena pergeseran lambat (slow slip event) yang kerap muncul di zona subduksi sebelum terjadi gempa utama.
"Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya," tambah Profesor Kosuke Heki.
Heki menilai jaringan pemantauan serupa sangat relevan diterapkan di Indonesia yang membentang dari Sumatra hingga Maluku.
"Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia," ujar Profesor Kosuke Heki.
Di sisi lain, BMKG mengidentifikasi dua zona yang berada dalam fase zona kekosongan gemic (seismic gap), yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, yang belum mengalami gempa besar masing-masing sejak 1757 dan 1797. BMKG mengklarifikasi bahwa status tersebut mengindikasikan pelepasan energi yang belum terjadi, bukan ramalan kepastian waktu bencana.
"Yang dimaksud adalah akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat," tegas BMKG.
Guru Besar Departemen Geologi Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa potensi zona risiko tinggi akibat megathrust dapat diprediksi secara ilmiah, meski kepastian waktu kejadiannya belum bisa dipastikan.
"Jadi kalau terkait gempa, mau megathrust, mau bukan megathrust, itu kalau perkiraan zona atau lokasi yang kira-kira terdampak dengan berisiko tinggi, itu bisa diperkirakan, bisa diprediksi. Tapi kejadiannya kapan? Itu yang sulit," ujar Guru Besar Departemen Geologi FT UGM Prof.
Ir. Dwikorita Karnawati.
Dwikorita mencontohkan penerapan mitigasi fisik pada pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) yang dirancang tahan guncangan magnitudo 8,7 dan gelombang tsunami hingga lebih dari 10 meter.
"Ini luar biasa, bahkan di ASEAN mungkin baru Yogyakarta yang menyiapkan bandara sekaligus tempat evakuasi," pungkas Prof. Ir. Dwikorita Karnawati.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengimbau masyarakat pesisir untuk mengenali tanda alami tsunami, seperti gempa kuat, fenomena fauna abnormal, air laut surut mendadak, serta suara gemuruh dari arah laut, lalu segera berevakuasi ke tempat tinggi tanpa menunggu peringatan resmi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow