Pria di Tabanan Tewas Dikeroyok Usai Diduga Curi Ayam

Smallest Font
Largest Font

Aksi main hakim sendiri berujung maut terjadi di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat (24/7/2026) sekitar pukul 01.30 WITA. Seorang pria berinisial KD tewas usai dikeroyok massa akibat diduga mencuri seekor ayam aduan.

Aksi dugaan pencurian ayam milik warga berinisial IWAS (31) tersebut dipergoki oleh warga setempat. Kasus ini kemudian memicu emosi warga hingga terjadi pengeroyokan fisik yang menewaskan terduga pelaku di tempat kejadian perkara.

Massa yang tak terbendung juga membakar sepeda motor milik terduga pelaku. Petugas kepolisian dari Polsek Baturiti yang tiba di lokasi kejadian pada pukul 02.00 WITA mendapati KD sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Dalam penanganan tempat kejadian perkara, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa satu ekor ayam, sebilah golok, serta tas milik KD. Jenazah korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Semara Ratih guna pemeriksaan lanjutan oleh Tim Inafis Satreskrim Polres Tabanan.

Kasi Humas Polres Tabanan Iptu Ni Luh Putu Wiwik Endrayani mengonfirmasi bahwa amarah warga tersulut karena maraknya kasus kehilangan hewan ternak di wilayah tersebut.

"Aksi pencurian tersebut diketahui warga dan memicu kemarahan spontan dari masyarakat setempat mengingat di wilayah tersebut sudah sering terjadi kasus kehilangan ayam sebelumnya. Warga merasa resah dan geram," kata Wiwik.

Pihak kepolisian melakukan identifikasi sidik jari serta olah lokasi kejadian secara mendalam untuk menangani kasus pengeroyokan ini.

"Jenazah terduga pelaku dievakuasi ke Rumah Sakit Semara Ratih untuk dilakukan penanganan. Kami juga menghubungi Tim Inafis Satreskrim Polres Tabanan untuk melakukan olah TKP dan identifikasi sidik jari terduga pelaku," ungkapnya.

Atas insiden maut tersebut, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya menyampaikan keprihatinan serta rasa duka cita mendalam kepada keluarga korban.

"Kehilangan satu nyawa adalah duka bagi kita semua. Doa dan simpati kami menyertai keluarga yang ditinggalkan seluruh pihak yang terdampak," ucap Sanjaya.

Pemerintah Kabupaten Tabanan telah menyiapkan alokasi santunan duka untuk keluarga korban, sembari mengimbau warga agar menyerahkan penanganan hukum sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.

"Berikan ruang kepada aparat yang berwenang untuk bekerja secara profesional sehingga nantinya dapat menghasilkan keputusan yang adil sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.

Peristiwa pengeroyokan ini mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi XIII DPR RI Rieke Diah Pitaloka. Rieke menegaskan penegakan hukum harus berjalan tegas tanpa pandang bulu serta meminta negara hadir memberikan perlindungan pemulihan trauma bagi anak korban.

"Praduga tak bersalah, hak hidup dan perlindungan anak adalah harga mati. Negara wajib hadir memulihkan trauma anak dan menjamin kehidupan keluarga korban," kata Rieke.

Legislator DPR tersebut menyoroti pentingnya perlakukan hukum yang setara antara warga lokal dan wisatawan asing, serta meminta pembentukan tim khusus untuk mengusut tuntas aksi main hakim sendiri ini.

"Mari kita kita buktikan hukum berlaku untuk semua. Kepada Polri tegakkan hukum dan pulihkan kepercayaan publik," katanya.

Ia mengingatkan kepolisian agar mengusut perkara ini secara transparan agar keadilan benar-benar dapat dirasakan masyarakat bawah.

"Jangan biarkan ada kesan 'kasus bule cepat, kasus rakyat sendiri lambat'. Keadilan harus terasa, bukan hanya di atas kertas," tegasnya.

Rieke menambahkan bahwa penyelesaian masalah masyarakat di Bali seharusnya mengedepankan nilai-nilai budaya lokal seperti Tri Hita Karana melalui musyawarah banjar dan pecalang.

"Jangan biarkan Bali kehilangan jiwanya, Bali yang damai," ujarnya.

Menurutnya, penanganan preventif dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan guna mencegah warga terdesak melakukan tindak pidana akibat faktor ekonomi.

"Mari jadikan keamanan wisatawan berbanding lurus dengan rasa aman warga loka," tegasnya.

Ia berharap norma dan nilai toleransi tradisional Bali tetap dijaga agar tidak tergerus oleh luapan emosi massa semata.

"Jangan biarkan emosi sesaat merusak nilai tepo seliro yang sudah diwariskan leluhur. Negara siap mendukung dengan penguatan regulasi dan anggaran agar desa adat tidak berjuang sendiri," kata Rieke.

Gelombang keprihatinan juga meluas di media sosial setelah rekaman video yang menampilkan anak perempuan korban menangis histeris di samping jenazah ayahnya viral. Sejumlah figur publik menyuarakan penyesalan atas penanganan main hakim sendiri oleh massa.

Selebritas Aldi Taher menyampaikan keprihatinannya melalui media sosial terkait nasib anak yang ditinggalkan korban.

"Tolong dong, tolong jangan main hakim sendiri. Kalian nyesel kan? Ada anak kehilangan ayahnya," ucap Aldi Taher.

Aldi mengimbau agar masyarakat mematuhi proses hukum dan tidak melampaui wewenang hukum dalam menyelesaikan dugaan tindak pidana.

"Jangan saling menyakiti. Astagfirullah, jangan main hakim sendiri, jangan main hakim sendiri kalau memang terbukti mencuri ada hukum di negara ini. Jangan main hakim sendiri nanti kalian akan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian di akhirat," sambungnya.

Ia menekankan bahwa tindakan kekerasan fisik secara sepihak tidak dibenarkan oleh ajaran agama maupun hukum.

"Ya Allah sadis banget, lindungi anak itu, bahagiakan anak itu sayangi anak itu dunia maupun akhirat. Please jangan main hakim sendiri, jangan kekerasan. Tuhan saja maha pemaaf kenapa kalian menyakiti? Kita nggak punya hak menyakiti, yang punya hak jadi hakim hanya Tuhan," pesan Aldi Taher.

Penyanyi Denny Caknan juga menyampaikan rasa simpati atas dampak kemanusiaan yang menimpa anak terduga pelaku.

"Mencuri itu memang nggak bisa dibenarkan. Cuma mau ngomong ngerasain apa yang dirasakan sebagai manusia biasa. Nggak ada orang yang luput dari kesalahan dalam hidup, tidak ada orang yang benar-benar bersih tanpa cela. 'Sedih, cemas, dan bingung bercampur jadi satu'. Hati-hati ya, aku ya tahu merasakan yang nggak enak, tapi hatiku gemetar saat melihat beritanya," tulis Denny Caknan.

Sementara itu, seniman Melanie Subono menyoroti akar masalah ekonomi yang memicu aksi pencurian makanan atau kebutuhan dasar di tengah masyarakat.

"Selamat hari anak. Tahun lalu adik Yohannes, tahun ini dia," tulisnya.

Melanie mengkritik fenomena ketimpangan sosial dan meminta pemerintah lebih responsif merangkul masyarakat bawah.

"Itu ga dosa?? bedanya sama yang kalian suka tuduh korup membunuh mencuri dll ap? btw Tolong baca terutama Ujung caption ini. Taun lalu anak sd gantung diri, tahun ini anak kecil lihat jenazah ayahnya karna mencuri MAKANAN. salah, yang mengeroyok SALAH dan harus di proses. Tapi entah kenapa belakangan. gw merasa semua makin ga baik.

"Mencuri" makin makin untuk hal keseharian. Bukan emas. Tapi makanan," tulis Melanie.

Ia menyinggung gaya hidup mewah pejabat publik yang berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi warga miskin di lapangan.

"FLEXING pejabat dmana mana tanpa malu, PROYEK MERCUSUAR yang makin mengada . ASBUN yang KEDENGERAN di kami .... KIPAS 1 T , HARUS tanpa tawar bikin koprasi DENGAN TRUK dan ina inu nya.

Rakyst baru sadar disaat dia ga bs makan, "tabungan pajak" mereka jadi EMAS 74 KILO dirumah orang lain !!!! NEGARA GAGAL HADIR," protesnya.

Melanie menyatakan kesiapannya untuk berdialog langsung guna membahas penanganan masalah kemanusiaan tersebut.

"Salah. Membunuh mengeroyok dll itu SALAH. Bukannya ini saatnya kalian turun , ngemong seperti BAPAK yang anaknya lagi berantakan?

Atau nunggu hari anak lainnya? Atau info2 info2 itu dihalangi oleh orang yang ga jelas fungsi nya di sekitar sana? Saya mau pak... duduk dan saya ngobrol .

Walaupun saya tidak sepakat tapi saya mau duduk 4 mata Dahlah," tutupnya.

Kreator konten Marshel Widianto menyayangkan tindakan pengeroyokan yang merenggut nyawa seseorang sebelum adanya pembuktian hukum yang sah.

"Bapak..... Bapak..... Bapak.

Ketika dugaan mendahului kebenaran, dan amarah menutup pintu nurani. Ketika harga seekor ayam lebih tinggi dari satu nyawa manusia? Masih 'diduga', tapi vonis jalanan sudah terlanjur merenggut paksa napas seorang ayah," tulis Marshel Widianto.

Marshel mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi emosi hingga melupakan nilai-nilai kemanusiaan dasar.

"Nyawa yang hilang tak akan pernah bisa dikembalikan. TOLONG, jangan SAMPAI biarkan emosi membuat kita lupa caranya menjadi manusia. Tolong jangan sampai terulang lagi kejadian seperti ini. Karena Ayah adalah cinta pertama anak perempuan nya semoga ini tidak akan terjadi lagi," tutupnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed