Protelindo Kuasai Hak Operasi Teknologi Menara Terbang 5G di Indonesia

Smallest Font
Largest Font

PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) resmi menjadi mitra tunggal yang mengelola hak operasional dan komersialisasi teknologi menara terbang milik World Mobile Stratospheric di seluruh wilayah Indonesia, seperti dikutip dari Detik iNET.

Inovasi ini dirancang untuk mengatasi tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan banyak pulau terpencil yang sulit dijangkau oleh menara telekomunikasi konvensional maupun satelit Low Earth Orbit (LEO).

Platform SkyMast yang beroperasi di ketinggian sekitar 60.000 kaki atau 18 kilometer di lapisan stratosfer berfungsi sebagai menara seluler udara yang memancarkan sinyal 4G dan 5G langsung ke ponsel tanpa memerlukan perangkat tambahan seperti parabola atau aplikasi khusus.

Teknologi ini menawarkan beberapa keunggulan utama, antara lain kecepatan dan latensi sangat rendah karena jaraknya yang hanya sekitar 20 kilometer dari daratan, jauh lebih dekat dibandingkan satelit LEO yang berjarak 550 kilometer. Latensi platform ini berada di bawah 1 milidetik dan sekitar 50 kali lebih cepat dibandingkan koneksi satelit LEO.

Satu platform menara terbang mampu menjangkau wilayah seluas 15.000 kilometer persegi. Selain itu, teknologi ini menjaga kedaulatan data karena perutean data berlangsung sepenuhnya di dalam negeri melalui infrastruktur terenkripsi berstandar 3GPP.

Dari sisi lingkungan, platform ini menggunakan tenaga hidrogen sehingga emisi yang dihasilkan hanya berupa uap air, menjadikannya solusi ramah lingkungan.

Protelindo memandang high-altitude platform sebagai solusi ekonomis untuk menghubungkan daerah terpencil yang selama ini tidak efisien jika mengandalkan pembangunan menara darat konvensional.

Bersamaan dengan kesepakatan ini, Protelindo melepas 60% sahamnya di Combined Space Technology Limited (CST) kepada Stratospheric Holdings Limited, namun tetap mempertahankan hak eksklusif penggunaan teknologi di Indonesia secara langsung maupun melalui mitra joint venture.

Teknologi yang dikembangkan World Mobile Stratospheric ini memiliki rekam jejak lebih dari satu dekade dengan uji coba sukses di Inggris bersama operator BT serta proyek NEOM di Arab Saudi.

Pengembangan perangkat antena phased-array yang dilakukan oleh Cambridge Consultants sudah melalui pengujian darat dan laboratorium. Selain itu, pengembangan pesawat dan platform StratoMast dikerjakan bersama Scaled Composites dan GKN, termasuk pengujian tangki bahan bakar hidrogen yang berhasil.

Hadirnya menara terbang di lapisan stratosfer ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan digital khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di Indonesia secara signifikan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed