Psikolog UGM Ungkap Bahaya Duck Syndrome di Kalangan Mahasiswa

Smallest Font
Largest Font

Fenomena duck syndrome kian marak menimpa kalangan mahasiswa yang menuntut diri tampil produktif serta serba mampu. Kondisi psikologis ini diibaratkan seperti bebek yang berenang tenang di permukaan air, namun kakinya mengayuh keras di bawah permukaan agar tidak tenggelam.

Dorongan untuk selalu terlihat kuat membuat banyak mahasiswa menyembunyikan rasa lelah dan kewalahan. Hal tersebut dilansir dari Detikcom mengenai paparan fenomena ketimpangan kesehatan mental di lingkungan kampus.

Psikolog dari Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM, Anisa Yuliandri, menceritakan asal-usul istilah tersebut. Istilah ini awalnya dipakai untuk menggambarkan kondisi mahasiswa Stanford University yang berpura-pura tenang saat berada di bawah tekanan berat.

"Banyak mahasiswa merasa harus ambil semua kesempatan karena takut tertinggal. Takut kalau tidak ikut ini-itu nanti dibilang malas, tidak kompetitif, tidak punya masa depan," katanya dalam laman UGM dikutip Kamis (3/9/2026).

Kondisi ini dapat dipahami melalui pendekatan Self-Determination Theory. Teori ini menyebutkan bahwa manusia memerlukan tiga hal dasar, yakni rasa kendali (autonomy), rasa mampu (competence), dan rasa terhubung (relatedness).

Gangguan keseimbangan jiwa dapat terjadi sewaktu pilihan hidup didikte oleh tekanan dari luar lingkungan, bukan atas kehendak murni diri sendiri. Budaya untuk selalu terlihat baik-baik saja pada akhirnya memaksa mahasiswa memendam emosi negatif.

"Padahal kita ini manusia biasa, punya batas. Tapi karena ingin mempertahankan citra sempurna, akhirnya semua dipendam sendiri," jelasnya.

Anisa menilai paparan media sosial memperparah fenomena ini. Unggahan keberhasilan orang lain, mulai dari pencapaian magang hingga kelulusan cepat, kerap memicu rasa takut tertinggal pada individu lain.

"Dalam usaha untuk tidak kalah bersinar, mahasiswa sering kali memaksakan diri untuk terlihat produktif. Ini sesuai dengan Impression Management Theory. Seseorang cenderung mengatur dan mengendalikan citra diri agar terlihat kuat dan mampu, meski di balik layar sesungguhnya ia sedang sangat lelah," ujar Anisa.

Penanganan awal fenomena psikologis ini dimulai dengan mengenali gejala awal dan bersikap jujur pada kondisi diri sendiri. Mengakui rasa lelah yang hadir bukanlah sebuah bentuk kelemahan.

"Sikap jujur ini merupakan bentuk keberanian. It's okay to not be okay. Kita tidak harus selalu produktif atau terlihat bahagia. Menerima semua, dan mengizinkan diri merasa sedih adalah bagian dari pemulihan," tuturnya.

Pengelolaan ekspektasi pribadi juga memegang peranan penting. Setiap individu tidak diwajibkan untuk mengambil seluruh kesempatan atau mematuhi semua standar yang ditetapkan oleh lingkungan sekitar.

"Belajar mengatakan tidak tanpa rasa bersalah adalah keterampilan penting," tambah Anisa.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed