Dokter Ingatkan Risiko Rhabdomyolysis Akibat Olahraga Ekstrem

Smallest Font
Largest Font

Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi seperti lari maraton dan hyrox menyimpan risiko kesehatan serius berupa rhabdomyolysis yang dapat menyebabkan kerusakan hingga kelumpuhan fungsi ginjal jika dilakukan secara berlebihan tanpa persiapan matang.

Dilansir dari Cleveland Clinic, kondisi medis tersebut terjadi karena hancurnya jaringan otot rangka dengan sangat cepat, sehingga protein mioglobin beserta elektrolit bocor ke dalam aliran darah dan mengganggu organ ekskresi. Gejala yang muncul bervariasi dari dehidrasi, penurunan frekuensi buang air kecil, mual, hingga penurunan kesadaran yang biasanya terdeteksi satu sampai tiga hari pascacedera otot.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH menjelaskan bahwa pemaksaan kondisi fisik saat tubuh sudah mengalami kelelahan akut menjadi indikasi awal munculnya sindrom ini.

"Dia kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi detikcom pada Sabtu (20/6/2026).

Sindrom ini berpotensi memicu Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut yang dapat diidentifikasi secara kasatmata melalui perubahan warna urine menjadi lebih gelap akibat akumulasi pecahan protein otot.

"Acute Kidney Injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," kata dr Tunggul.

Penanganan medis yang cepat dan tepat menentukan tingkat kesembuhan pasien karena akumulasi zat mioglobin dalam darah bersifat reversibel jika segera diintervensi.

"Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," sambung dr Tunggul.

Faktor pemicu utama dari rhabdomyolysis adalah kelalaian atlet dalam melakukan pemanasan secara bertahap sebelum memulai aktivitas fisik berat.

"Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," kata dr Tunggul.

Kelompok pelari pemula dinilai memiliki kerentanan paling tinggi karena sering kali langsung memacu intensitas latihan tanpa adaptasi performa yang memadai.

"Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu (rhabdo) terutama pada pemula," kata dr Tunggul.

Risiko ini tidak hanya mengintai amatir, melainkan juga pelari maraton berpengalaman 42K serta pelaku olahraga masif seperti hyrox jika mengabaikan sinyal kelelahan tubuh.

"Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," kata dr Tunggul.

Penggunaan otot yang masif dalam olahraga beban tingkat tinggi dipastikan memiliki profil risiko serupa terhadap kerusakan sel otot.

"Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," kata dr Tunggul.

Tingkat keparahan gangguan ginjal akut akibat kerusakan otot ini terbagi dalam beberapa tingkatan yang menentukan metode penyembuhannya.

"Misalnya AKI grade 1 and 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan, red) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," kata dr Tunggul.

Kecepatan pemulihan fungsi organ sangat bergantung pada momentum pemberian tindakan medis awal di rumah sakit.

"Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," sambung dr Tunggul.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed