Rupiah Anjlok ke Rp17.754 Per Dolar AS akibat Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Smallest Font
Largest Font

Mata uang rupiah merosot hingga menyentuh level Rp17.754 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (31/8/2026). Pelemahan nilai tukar domestik ini dipicu oleh proyeksi kenaikan suku bunga Bank Sentral Serikat serta ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah.

Data Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah terdepresiasi 61 poin atau 0,31 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.693 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,23 persen ke posisi Rp17.725 per dolar AS, mengikis penguatan sebesar 0,17 persen yang diraih pada perdagangan Jumat (28/8/2026).

Merosotnya nilai tukar menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan tingkat penurunan terdalam di kawasan Asia pada awal pekan. Penurunan ini berbanding terbalik dengan yen Jepang yang menguat 0,16 persen, serta yuan China dan won Korea Selatan yang masing-masing menguat 0,07 persen.

Tekanan terhadap mata uang dipicu oleh melonjaknya indeks dolar AS (DXY) setelah Ketua The Federal Reserve Kevin Warsh memberikan sinyal ketat dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026). Sinyal kebijakan moneter tersebut memicu kenaikan probabilitas peningkatan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan September menjadi 57,5 persen menurut data CME FedWatch.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa ketegangan politik luar negeri turut memperberat posisi nilai tukar domestik.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed