Rupiah Bergerak Fluktuatif Dipengaruhi Harga Minyak dan Sanksi AS terhadap Iran

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak fluktuatif pada pekan lalu dan awal pekan ini, dipengaruhi oleh perubahan harga minyak global, sanksi ekonomi AS terhadap Iran, serta kondisi neraca pembayaran Indonesia.

Senin (24/8), rupiah sempat menguat tipis ke level Rp17.690 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, namun akhirnya melemah ke posisi Rp17.722 per dolar AS di pasar spot, menurut data dari beberapa sumber berita.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh harga minyak global yang menurun lebih dari 13 persen ke bawah 90 dolar AS per barel serta penguatan mata uang regional.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis di kisaran Rp17.650 - Rp17.700 dipengaruhi oleh global menjinaknya harga minyak dan mata uang kawasan regional yang mayoritas menguat," ujar Rully Nova.

Namun, sentimen negatif muncul setelah Amerika Serikat mengumumkan sanksi ekonomi terbaru terhadap Iran, yang menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dan ketegangan geopolitik.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, "AS ingin memutus jalur kehidupan ekonomi Iran guna memaksa berakhirnya konflik." Ia menambahkan AS memprovokasi negara lain untuk memutus hubungan ekonomi dengan Iran dan mengancam akan mengeluarkan negara yang tidak mengikuti dari sistem keuangan berbasis dolar.

Menurut Ibrahim, tekanan ekonomi ini dapat mengurangi kekhawatiran pasokan minyak, tetapi Iran masih memiliki kemampuan membalas dengan membatasi jalur pasokan minyak.

Kondisi ini berpengaruh pada pelemahan rupiah di pasar spot yang berakhir di posisi Rp17.723 per dolar AS, turun 0,01 persen dari hari sebelumnya.

Di sisi lain, kinerja neraca pembayaran Indonesia pada kuartal II 2026 menunjukkan defisit yang lebih kecil dibandingkan kuartal I 2026, yakni 0,9 miliar dolar AS dibandingkan 9,1 miliar dolar AS sebelumnya.

Analis Ibrahim Assuaibi mengatakan, "Walaupun transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit, kinerja neraca pembayaran Indonesia secara keseluruhan tetap terjaga." Hal ini didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar 12 miliar dolar AS pada kuartal II setelah defisit pada kuartal sebelumnya.

Posisi cadangan devisa Indonesia juga tetap kuat di level 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan rupiah berpotensi menguat ke level psikologis Rp17.500 jika beberapa syarat terpenuhi, seperti arus masuk dana asing ke SBN dan SRBI berlanjut, dolar AS tidak menguat tajam, harga minyak stabil, serta BI mampu menjaga stabilitas tanpa kenaikan suku bunga tambahan.

"Rupiah mencapai Rp17.500-an dalam waktu dekat menurut saya cukup realistis. Jaraknya dari Rp17.600-an relatif kecil dan secara fundamental masih terdapat ruang penguatan," ujar Josua Pardede.

Namun, Josua mengingatkan bahwa kondisi global yang belum menentu, termasuk potensi kenaikan harga minyak dan suku bunga AS, dapat membuat rupiah kembali melemah ke rentang Rp17.700-Rp17.900.

Kepala Ekonom BCA, David E. Sumual, memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS hingga akhir tahun, dipengaruhi oleh potensi kenaikan suku bunga The Fed dan tekanan pada neraca berjalan akibat harga minyak tinggi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed