Rupiah Melemah terhadap Dolar AS hingga Dekati Level Psikologis
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau terus mengalami tekanan berat hingga sempat menyentuh angka Rp 17.893 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Pergerakan ini memicu kekhawatiran dari para pengamat ekonomi mengenai potensi depresiasi yang lebih dalam hingga menembus level psikologis baru.
Data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda sempat melemah ke level tersebut sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0,20 persen ke posisi Rp 17.880 per dolar AS pada pukul 16.10 WIB. Pelemahan ini diprediksi masih akan berlanjut akibat kombinasi tekanan musiman domestik dan ketidakpastian global.
Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa penurunan nilai tukar rupiah ini berpotensi menembus level Rp 18.000 dalam waktu dekat. Menurut analisisnya, pelemahan tersebut dipicu oleh persoalan struktural ekonomi nasional, seperti defisit transaksi berjalan akibat tingginya impor energi serta beban pembagian dividen kepada investor asing di pasar modal.
"Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Komoditas dan Mata Uang kepada detikcom.
Ibrahim juga menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia di atas US$ 90 per barel memperberat beban APBN yang mengasumsikan harga US$ 70 per barel dengan kurs Rp 16.500. Di sisi lain, kebijakan rencana ekspor satu pintu melalui badan usaha baru Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai turut menciptakan keraguan regulasi bagi investor asing.
"Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini," tutur Ibrahim Assuaibi, Analis Komoditas dan Mata Uang.
Kondisi pasar modal yang dibanjiri kewajiban pembayaran dividen ke luar negeri ikut menguras ketersediaan valuta asing di dalam negeri. Pergeseran investasi jangka pendek dari aset logam mulia digital ke indeks dolar AS juga memperparah tekanan terhadap pergerakan rupiah.
"Sudah kita kekurangan dolar, kemudian beban dividen yang harus dibagikan terhadap para investor, terutama investor asing di perusahaan-perusahaan yang listing di bursa, di pasar modal. Nah ini membuat satu kegaduhan tersendiri," ucap Ibrahim Assuaibi, Analis Komoditas dan Mata Uang.
Ibrahim menambahkan, perpindahan dana dari investasi emas digital dipicu oleh pencarian keuntungan jangka pendek memanfaatkan momentum penguatan indeks dolar AS. Langkah DSI yang membatasi ekspor satu pintu juga disoroti karena berdampak langsung pada perusahaan tambang dengan kontrak kerja yang sudah berjalan.
"Dana yang tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan keuntungan secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Komoditas dan Mata Uang.
Kebijakan satu pintu DSI diakui bertujuan baik untuk mencegah kebocoran ekspor ilegal secara administratif dan teknis. Namun, kebijakan tersebut dianggap memicu kegaduhan di tengah situasi ekonomi global yang sedang bergejolak.
"Ekspor satu pintu melalui DSI ini membuat kegaduhan. Memang secara jangka panjang bagus, karena pemerintahan di luar negeri pun sama, di Eropa juga sama seperti itu. Tapi karena dalam kondisi yang tidak baik-baik saja saat ini ekonomi, ini membuat kegaduhan tersendiri," jelas Ibrahim Assuaibi, Analis Komoditas dan Mata Uang.
Penerapan aturan baru tersebut membebani pelaku usaha yang terikat kontrak jangka pendek maupun panjang dengan mitra luar negeri. Selain masalah regulasi, proyeksi pelemahan lebih lanjut juga disampaikan oleh pengamat ekonomi dari lembaga kebijakan fiskal.
"Pemerintah benar bahwa dengan satu pintu ini kemungkinan besar tidak akan ada kebocoran untuk ekspor ilegal. Karena selalu tidak sesuai secara kertas dan secara teknis itu berbeda. Tetapi ini pun juga menjadi beban tersendiri, terutama bagi perusahaan-perusahaan tambang yang sudah melakukan kontrak kerja jangka pendek maupun jangka menengah, jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri," sambung Ibrahim Assuaibi, Analis Komoditas dan Mata Uang.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai apabila angka Rp 18.000 terlewati, kemerosotan rupiah menuju level Rp 19.000 akan berlangsung lebih cepat karena hilangnya batas psikologis pasar. Sentimen negatif investor asing diperparah oleh peluncuran regulasi DSI yang dinilai terlalu mendadak tanpa sosialisasi matang kepada pelaku usaha.
"Jadi bahkan bukan Rp 18.000, tapi level psikologis setelah Rp 18.000 ke Rp 19.000, pelemahannya akan jauh lebih cepat karena batas psikologisnya memang sudah menembus," tutur Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS.
Bhima memaparkan bahwa minimnya diskusi awal dengan dunia usaha menurunkan minat investasi di dalam negeri. Pasar saat ini juga tengah mengkhawatirkan pembengkakan defisit APBN yang disebabkan oleh pembiayaan program-program populis berskala besar.
"Ini perubahannya terjadi begitu cepat, diumumkan begitu cepat. Sebelumnya bahkan belum ada sosialisasi ataupun pembahasan misalnya dengan para pelaku usaha. Sehingga ini juga menurunkan minat berinvestasi di Indonesia," jelas Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS.
Kekhawatiran pasar berfokus pada efektivitas anggaran program baru seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kopdes Merah Putih di tengah tingginya subsidi energi eksternal. Di sisi otoritas moneter, Bank Indonesia segera merespons ketegangan kurs ini dengan menyiapkan bauran kebijakan.
"Ada kekhawatiran defisit APBN-nya masih akan terus melebar karena ada beban biaya subsidi energi, dan juga ada beban dari program-program populis atau program mercusuar Prabowo seperti MBG, Kopdes Merah Putih yang efek ekonominya masih diragukan tapi anggarannya cukup besar," papar Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan kepada kumparan bahwa pelemahan mata uang ini disebabkan oleh dampak konflik Timur Tengah serta lonjakan kebutuhan valas musiman untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri. BI memastikan tetap menjaga stabilitas pasar melalui berbagai instrumen intervensi.
“Komitmen tersebut diwujudkan melalui mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur,” kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Selain intervensi langsung, Bank Indonesia memperkuat struktur suku bunga moneter yang pro-market guna menarik aliran modal asing ke aset domestik. BI juga memperketat permintaan valas dengan menetapkan batasan pembelian tunai tanpa underlying sebesar USD 25.000 per pelaku per bulan mulai Juni 2026.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” sebut Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Langkah pengawasan ketat terhadap korporasi yang melakukan transaksi dolar volume tinggi akan terus dijalankan bersama otoritas terkait. BI memastikan pemantauan dinamika pasar keuangan global dan domestik akan dilakukan secara berkesinambungan.
“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” tutur Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow