Rupiah Melemah ke Level Rp17.750 per Dolar AS

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka terdepresiasi sebesar 57 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan Senin (31/8/2026) pagi. Penurunan ini terjadi usai pergerakan penutupan sebelumnya di level Rp17.693 per dolar AS.

Pergerakan mata uang di Asia tercatat bervariasi. Yuan China menguat 0,08 persen, dolar Singapura naik 0,05 persen, yen Jepang melesat 0,16 persen, won Korea Selatan menguat 0,07 persen, dan dolar Hong Kong terangkat 0,01 persen. Sebaliknya, peso Filipina dan ringgit Malaysia masing-masing tertekan 0,05 persen dan 0,20 persen. Adapun mata uang utama negara maju kompak menguat terhadap dolar AS, termasuk euro yang naik 0,07 persen serta poundsterling Inggris yang menguat 0,05 persen.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan nilai tukar mata uang Garuda bakal bergerak di rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang hari. Pelemahan dipicu oleh rebound penguatan dolar AS pascapidato Kepala Federal Reserve (The Fed) Warsh di Simposium Ekonomi Jackson Hole serta peningkatan ketegangan militer di Asia Barat seiring serangan AS ke wilayah Iran.

"Warsh mengatakan bahwa The Fed 'harus bertindak lebih lanjut' jika diperlukan agar inflasi bisa bergerak turun menuju tingkat 2 persen," ucap Lukman Leong kepada ANTARA.

Kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter bank sentral AS diulas secara berkala oleh pihak otoritas. Meskipun angka pengangguran dan output ekonomi tetap stabil, pergerakan inflasi masih menjadi perhatian utama. Indikator inflasi acuan The Fed bertengger di angka 3,7 persen selama 12 bulan terakhir, sementara perubahan dalam rentang enam bulan menyentuh 4,1 persen.

"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang rebound tajam menyusul pidato hawkish dari Kepala The Fed Warsh serta geopolitik di Timur Tengah yang kembali tereskalasi oleh serangan AS terhadap Iran," ujar Lukman Leong kepada CNNIndonesia.com.

Eskalasi di Timur Tengah memuncak setelah pasukan AS menyerang dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026). Operasi tersebut menjadi aksi militer langsung pertama sejak akhir Juli guna meredam potensi pelemparan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz. Pihak angkatan bersenjata Iran kemudian membalas dengan menggempur posisi militer AS di Yordania sebagaimana dilaporkan Sputnik.

Sebelum pelemahan pagi ini, rupiah sempat ditutup menguat ke Rp17.693 per dolar AS pada Jumat (28/8/2026). Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penguatan tersebut belum mengindikasikan perbaikan fundamental secara utuh lantaran lonjakan defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 mencapai 3,34 persen PDB akibat penurunan surplus perdagangan dan pembengkakan defisit jasa. Arus modal asing pun masih terfokus pada instrumen jangka pendek SRBI senilai 9,86 miliar dolar AS, sedangkan pasar saham mencatat arus keluar 4,07 miliar dolar AS.

"Jadi, cadangan devisa memang masih cukup besar, tetapi bantalan bersihnya menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan awal tahun," kata Josua Pardede kepada kumparan.

Stabilitas nilai tukar nasional sejauh ini masih ditopang oleh langkah stabilisasi BI-Rate di level 5,75 persen serta dinamika indeks dolar AS.

"Karena itu, saya belum melihat Rp 17.600–Rp 17.700 sebagai level yang pasti dapat dipertahankan tanpa dukungan lanjutan dari pelemahan dolar global. Untuk saat ini, saya membaca Rp 17.693 sebagai penguatan yang sehat tetapi masih lebih banyak mencerminkan membaiknya kondisi pasar dan arus modal daripada perubahan fundamental eksternal Indonesia secara penuh," jelas Josua Pardede.

Kerentanan posisi rupiah akibat terbatasnya pasokan devisa hasil perdagangan turut disoroti oleh analis ekonomi lainnya.

"Penguatan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai tekanan yang sedang mereda, bukan tekanan yang sudah selesai. Perbaikan fundamental baru akan lebih meyakinkan jika defisit transaksi berjalan mulai menyempit, cadangan devisa meningkat secara konsisten, dan arus modal jangka panjang semakin kuat," tegas Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed