Saham BBRI Melemah 3,62 Persen Setelah Sentimen Rebalancing MSCI Selesai
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,62 persen ke level Rp2.930 pada akhir sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026) setelah sempat menguat 3,05 persen pada hari sebelumnya.
Dilansir dari investor.id, sebanyak 199,9 juta saham BBRI ditransaksikan dengan frekuensi 54.917 kali senilai Rp596,15 milar, serta mencatatkan aksi jual bersih investor asing atau net sell sebesar Rp226,6 miliar.
Koreksi saham BBRI ini berjalan selaras dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot 4,94 persen ke posisi 5.889 di tengah pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 0,39 persen ke Rp17.900 per dolar AS.
Riset BRI Danareksa Sekuritas memaparkan bahwa kejatuhan rupiah ke rekor terendah baru ini dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah, penguatan Indeks Dolar AS (DXY) pasca-data tenaga kerja AS yang solid, serta kenaikan kebutuhan valas domestik untuk pembayaran utang luar negeri kuartal II.
Padahal pada perdagangan Selasa (2/6/2026), saham perbankan besar sempat mengalami pemulihan dengan kenaikan saham BBCA sebesar 2,19 persen ke Rp5.825, BBRI naik 3,05 persen ke Rp3.040, BMRI naik 2,21 persen ke Rp4.170, dan BBNI menguat 1,62 persen ke level Rp3.760.
Peningkatan harga saham sektor finansial pada hari Selasa tersebut terjadi setelah berakhirnya tekanan jual akibat penyesuaian bobot portofolio indeks MSCI yang berlaku efektif per 1 Juni 2026.
"Setelah momentum rebalancing MSCI selesai, tekanan jual mereda sehingga terjadi technical rebound. Selain itu, rata-rata saham perbankan juga sudah berada pada kondisi oversold," ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta kepada Kontan.co.id.
Faktor lain yang menopang stabilitas perbankan meliputi keputusan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan bunga penjaminan di level 3,50 persen serta intervensi valuta asing oleh Bank Indonesia.
Nafan menambahkan bahwa fundamental industri perbankan nasional masih kokoh karena didorong pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang stabil serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga.
"BBCA tetap menjadi salah satu bank paling stabil di Indonesia. Untuk investor jangka panjang, saham ini masih menarik dikoleksi," ujar Nafan terkait saham BCA yang berencana membagikan dividen interim tiga kali setahun mulai kuartal II-2026.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk saham BBCA dengan target Rp6.375, saham BBNI dengan target Rp4.520, saham BBRI dengan target Rp3.670, dan saham BMRI dengan target Rp5.500 per lembar saham.
Sebelumnya, fluktuasi harga menyebabkan pergeseran posisi kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia, di mana saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sempat menyalip posisi BBRI pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026).
Berdasarkan data BEI yang dikutip dari Mediakompeten melalui Investor Daily, kapitalisasi pasar BBRI tercatat sebesar Rp443 triliun, berada di bawah DCII yang mencapai Rp465 triliun, sementara BBCA memimpin di posisi puncak senilai Rp696 triliun.
Berikut adalah daftar lengkap 10 besar emiten dengan nilai kapitalisasi pasar tertinggi di Bursa Efek Indonesia berdasarkan data akhir Mei 2026:
| Peringkat | Nama Emiten (Kode Saham) | Nilai Kapitalisasi Pasar |
|---|---|---|
| 1 | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) | Rp 696 triliun |
| 2 | PT DCI Indonesia Tbk (DCII) | Rp 465 triliun |
| 3 | PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) | Rp 443 triliun |
| 4 | PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) | Rp 441 triliun |
| 5 | PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) | Rp 377 triliun |
| 6 | PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) | Rp 330 triliun |
| 7 | PT Bayan Resources Tbk (BYAN) | Rp 328 triliun |
| 8 | PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) | Rp 300 triliun |
| 9 | PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) | Rp 239 triliun |
| 10 | PT Astra International Tbk (ASII) | Rp 202 triliun |
Meskipun terjadi penurunan nilai jangka pendek, Phintraco Sekuritas menilai fundamental BBRI tetap kokoh karena posisinya sudah berada di area dasar dalam rentang satu tahun terakhir.
Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham BBRI dengan penyesuaian harga wajar menjadi Rp4.280 dari level sebelumnya sebesar Rp4.710.
Analisis dari Cetro Trading Insight menunjukkan akumulasi kinerja year to date hingga Mei 2026 mencatat BBCA turun 31,15 persen ke harga Rp5.525 (PBV 2,63x), BBRI turun 20,33 persen ke Rp2.900 (PBV 1,30x), BMRI turun 20,20 persen ke Rp4.050 (PBV 1,24x), dan BBNI turun 16,20 persen ke Rp3.570 (PBV 0,83x).
Sektor keuangan berkontribusi sebesar 23,12 persen terhadap IHSG pada Mei 2026, di mana pergerakan empat bank besar ini menjadi penentu utama arah indeks akibat beban koreksi poin yang cukup signifikan terhadap pergerakan pasar domestik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow