Siswa SMA di Karo Alami Gangguan Ingatan Usai Konsumsi MBG

Smallest Font
Largest Font

Seorang siswa SMA di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, berinisial FP, mengalami gangguan ingatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kini dirawat di RSUP Adam Malik, Medan, sebagaimana dilaporkan oleh Detik Health.

Sebelum dirawat di RSUP Adam Malik, siswa tersebut telah menjalani pemeriksaan di beberapa fasilitas kesehatan. Kasus ini menghebohkan jagat media sosial dan menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab gangguan tersebut.

Prof Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA, Subsp NPM(K), praktisi kesehatan anak dari Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala pada saluran pencernaan seperti muntah atau diare.

"Kebanyakan kasus karena keracunan, reaksi tubuh adalah mengeluarkan lewat muntah atau diare. Itu prinsip dasarnya. Ada kuman masuk, dia keluarkan dengan badan itu mempunyai pertahanan," ujar Prof Damayanti dalam media briefing daring, Jumat (11/9/2026).

Dia menambahkan, "Dia dikeluarkan lewat muntah, lewat diare. Nah, kalau dia sampai ada gejala yang lain, itu misalnya demam. Paling tinggi demam, kemudian sakit kepala."

Terkait kemungkinan kejang dan hilang ingatan akibat keracunan bakteri, Prof Damayanti mengungkapkan keraguan dan menyebut kemungkinan lain yang perlu diperiksa lebih lanjut.

"Rasanya sih dari kuman-kuman yang ada di laporan, kayak nggak ada yang seperti itu. Nah, mungkin ada sebab lain yang kita belum tahu," jelasnya.

"Tapi sepanjang saya tahu, tidak ada keracunan yang tiba-tiba bikin kejang-kejang. Itu sejauh ini ya, kalau bakteri nggak bikin kejang-kejang. Kecuali ada keracunan zat kimia atau apa yang saya tahu, nah itu mungkin yang bisa dijelaskan," lanjut Prof Damayanti.

Prof Damayanti juga menegaskan bahwa jika kasus keracunan terjadi secara massal akibat kuman yang sama, pola gejala yang muncul biasanya seragam di semua korban.

"Kalau kita mau lihat, keracunan itu biasanya kalau kumannya sama, polanya sama," cetusnya.

Dia menambahkan, soal kemungkinan keracunan makanan memicu penyakit lama yang belum terdeteksi, fasilitas kesehatan harus terbuka mengenai jenis kuman atau zat pencemar yang ditemukan.

"Bisa saja, semuanya bisa. Tapi kalau sampai kejang, itu rasanya nggak mungkin hanya masalah karena kumannya. Mungkin ada sebab lain. Ada penyakit dasar yang mempengaruhi sehingga gejalanya seperti itu," jelas Prof Damayanti.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed