Super El Nino Perparah Kebakaran Hutan Indonesia Dampak Asap Meluas
Fenomena Super El Nino memicu peningkatan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hingga menyebarkan kabut asap beracun ke wilayah Malaysia, Singapura, dan Filipina pada Kamis, 3 September 2026. Bencana lingkungan ini memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut di berbagai daerah. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan terkait kebakaran hutan sepanjang Juli hingga Agustus, dengan lebih dari 12.000 kasus menimpa anak-anak di bawah lima tahun.
Wilayah terdampak juga menghentikan kegiatan belajar tatap muka bagi sekitar 1,43 juta siswa di enam provinsi. Gubernur dan pejabat daerah mengonfirmasi bahwa kualitas udara telah menembus batas berbahaya dengan Indeks Standar Pencemaran Udara melebihi angka 200 hingga 1.000 di beberapa area Kalimantan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah telah mengerahkan puluhan helikopter, pesawat, pompa air, dan ribuan personel untuk memadamkan titik api.
Para korban di daerah terdampak mengungkapkan pekatnya kabut asap yang telah mengganggu aktivitas harian dan kesehatan keluarga mereka secara signifikan.
"Bahkan di dalam rumah, dengan semua pintu dan jendela tertutup, asap tetap masuk," kata Rizma Nur Fatimah, asisten pengajar berusia 19 tahun di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pebeda dari tahun-tahun sebelumnya, peningkatan intensitas kebakaran kali ini dirasakan jauh lebih parah oleh warga pemukiman sekitar titik api.
"Bahkan di dalam rumah, dengan semua pintu dan jendela tertutup, asap tetap masuk. Kami telah hidup dengan ini sejak saya lahir. Hal ini sama setiap tahun, jadi kami hampir pasrah menghadapinya.
Namun tahun ini jauh lebih buruk," ujar Rizma Nur Fatimah. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terpapar polusi udara akibat paparan kabut dan abu yang menyebar hingga ke dalam kediaman mereka.
"Batuk, sakit tenggorokan, dan pilek," kata Misbah, seorang ibu berusia 23 tahun dari desa Pengayuan. Warga di luar pulau utama Indonesia juga merasakan dampak kesehatan yang serupa akibat sebaran kabut asap lintas batas ini. "Kami sekarang mengalami sakit kepala ringan," kata Dr Precious Bañas-Melad, seorang warga di provinsi pulau Palawan, Filipina.
Kondisi medis akibat paparan kabut asap memicu lonjakan pasien di berbagai fasilitas kesehatan setempat.
"Sepupu saya yang tidak memiliki alergi apa pun mulai mengalami alergi. Suami saya adalah orang pertama yang mengalami gatal pada mata dan tenggorokan," ujar Dr Precious Bañas-Melad. Pengalaman serupa dirasakan oleh warga yang tinggal dekat lokasi kebakaran hutan di Kalimantan Barat.
"Saya telah tinggal di sini selama 15 tahun... Saya belum pernah mengalami kebakaran seperti ini sebelumnya. Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi," kata Salma, seorang warga Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Eskalasi kobaran api memicu kepanikan warga hingga memaksa beberapa keluarga untuk segera meninggalkan tempat tinggal mereka.
"Saya takut, saya takut akan terbakar oleh api yang begitu besar. Jadi saya mengungsi," ujar Salma. Upaya penyelamatan bangunan dan pemukiman warga sangat bergantung pada kecepatan respons tim pemadam di lapangan.
"Jika petugas pemadam kebakaran tidak datang dengan cepat, rumah saya juga akan terbakar," kata Salma. Relawan dan tim darurat di lapangan menghadapi kendala besar dalam menjinakkan titik api yang menyebar di lahan gambut.
"Sangat serius," kata Anas Dwi Wahyu Kurniawan, seorang relawan pemadam kebakaran. Para petugas pemadam harus berpacu dengan waktu di tengah keterbatasan alat perlindungan dan pasokan air. "Dari apa yang saya alami, ini jauh lebih buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujar Anas Dwi Wahyu Kurniawan.
Kurangnya sarana pendukung keselamatan menghambat efisiensi pemadaman api di area gambut yang mengering.
"Kami menghadapi keterbatasan dalam hal alat pelindung diri, serta peralatan darurat seperti oksigen portabel dan perlengkapan lainnya," tutur Anas Dwi Wahyu Kurniawan. Proses pemadaman diperkirakan memakan waktu lama apabila kondisi cuaca tidak segera membaik. "Dengan sumber air yang jauh dan peralatan yang tidak memadai, saya kira situasi ini akan berlanjut untuk beberapa waktu kecuali ada perubahan cuaca," kata Anas Dwi Wahyu Kurniawan.
Pihak medis melaporkan adanya lonjakan harian jumlah pasien yang mengalami masalah pernapasan di klinik-klinik setempat.
"Setiap hari, sebagian besar keluhan dari pasien di sini adalah batuk dan sakit tenggorokan, atau apa yang kami sebut radang tenggorokan. Setiap hari, antara 50 hingga 70 orang datang," kata Dr Muhammad Arief Trihapsoro, dokter di Klinik Kesehatan Sungai Durian. Orang tua murid mengeluhkan kondisi anak-anak mereka yang berulang kali jatuh sakit akibat terpapar abu pembakaran.
"Saya membawa kedua anak saya. Mereka sakit perut, demam, batuk, dan pilek," kata Siti Zahra, seorang ibu dua anak. Kondisi lingkungan yang memburuk membuat anak-anak mengalami gangguan kesehatan berulang dalam jangka waktu singkat.
"Masa sakit mereka sudah dua hari, tetapi sebelum itu mereka juga sempat sakit selama tiga hari, lalu sakit lagi. Jadi, dalam satu bulan ini, mereka sudah tiga kali sakit karena asap, abu, kekeringan, dan kebakaran," ujar Siti Zahra. Penumpukan abu pembakaran di pemukiman warga memerlukan pembersihan terus-menerus setiap hari.
"Semuanya tertutup abu, jadi saya harus menyapu setiap hari. Tidak hanya sekali sehari – bahkan setelah saya menyapu, ada lebih banyak abu di bagian belakang rumah. Saya menyapunya, dan kemudian ada lagi.
Saya lelah menyapu," tutur Siti Zahra.
Kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang membuat sebagian warga memilih untuk mengurung diri di rumah.
"Saya sangat khawatir hal ini akan berdampak jangka panjang pada kesehatan mereka," kata Siti Zahra. Ancaman bahaya kesehatan berpotensi meningkat jika paparan abu dan kabut asap terus berlanjut. "Dalam jangka panjang, kesehatan mereka bisa menjadi lebih buruk," ujar Siti Zahra.
Pemerintah sektor pendidikan mengonfirmasi bahwa penutupan sekolah dilakukan untuk melindungi keselamatan fisik para siswa.
"Hingga 2 September, sekitar 1,43 juta siswa dari 12.874 sekolah di enam provinsi yang paling terdampak kebakaran hutan dan lahan telah belajar secara daring," kata Gogot Suharwoto, pejabat Kementerian Pendidikan. Sebagian besar siswa yang terdampak pembelajaran jarak jauh terkonsentrasi di wilayah Kalimantan Barat.
"Dari 1,43 juta siswa tersebut, 1,1 juta berada di Kalimantan Barat," ujar Gogot Suharwoto. Kebijakan pembelajaran dari rumah ini diterapkan secara dinamis sesuai perkembangan kondisi udara lokal.
"Masa pembelajaran jarak jauh akan berlangsung dari 31 Agustus hingga 4 September dan akan terus dievaluasi setiap tiga hari," tutur Gogot Suharwoto. Ambang batas polusi udara menjadi tolok ukur utama dalam menetapkan status pembelajaran sekolah. "Keputusan untuk melaksanakan pembelajaran daring akan didasarkan pada Indeks Standar Pencemaran Udara di masing-masing wilayah," kata Gogot Suharwoto.
Penetapan status pembelajaran jarak jauh langsung berlaku ketika indikator kualitas udara memburuk secara signifikan.
"Pembelajaran jarak jauh akan diberlakukan ketika indeks melebihi angka 200 di lokasi tertentu," ujar Gogot Suharwoto. Pihak sekolah diberikan kewenangan penuh untuk mengambil tindakan cepat demi keselamatan para murid. "Kepala sekolah berwenang untuk mengambil tindakan segera dalam situasi mendesak. Mereka tidak perlu menunggu sampai kondisi memburuk atau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berkonsultasi dengan pihak berwenang lainnya," tutur Gogot Suharwoto.
Peneliti ekologi dan kebidangan iklim mengingatkan bahaya pelepasan karbon berskala besar dari tanah gambut yang terbakar.
"Lahan gambut adalah penyimpan karbon yang sangat efektif karena kondisinya yang tergenang air memperlambat pembusukan, memungkinkan karbon terakumulasi di bawah tanah selama ribuan tahun," kata Dr Nisa Novita, peneliti lahan gambut di Yayasan Konservasi Alam Nusantara. Kerusakan ekosistem gambut dapat berakibat fatal pada percepatan pelepasan emisi ke atmosfer.
"Namun ini juga berarti lahan tersebut dapat menjadi 'bom karbon' ketika dikeringkan atau dibakar, karena karbon tersebut dapat terlepas dengan cepat ke atmosfer," ujar Dr Nisa Novita. Pakar pemadam dan forensik kebakaran memprediksi perluasan area terbakar akibat kondisi cuaca ekstrem tahun ini.
"Tahun lalu, tanpa El Nino, kebakaran hutan di Indonesia menghanguskan area seluas 359.000 hektar," kata Profesor Bambang Hero Saharjo, pakar forensik kebakaran hutan dari Universitas Institut Pertanian Bogor. Ancaman potensi kebakaran tahun 2026 diperkirakan mendekati rekor krisis kebakaran terburuk dalam sejarah nasional. "El Nino tahun ini dapat membakar area hingga seluas 11 juta hektar – menyamai salah satu musim kebakaran hutan terburuk di Indonesia yang terjadi pada tahun 1997 hingga 1998," ujar Prof Bambang Hero Saharjo.
Pemerintah menegaskan bahwa upaya pemadaman kini memasuki fase paling krusial sepanjang tahun.
"Masalah kita belum selesai. September adalah puncak El Nino," kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Puncak kemarau pada bulan September menjadi pertaruhan utama bagi seluruh tim penanggulangan karhutla. "September adalah pertarungan utama bagi kita," ujar Raja Juli Antoni.
Suhu permukaan dan pengeringan tanah gambut memperumit penanganan karena titik api sering menyebar di bawah permukaan tanah.
"Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kerjanya, tetapi kita melihat aktivitas kebakaran melonjak tajam, mirip dengan tahun 2015," kata Robert Field, peneliti dari Columbia University. Penguatan kondisi El Nino terbukti memperpanjang durasi kekeringan di area rawan kebakaran.
"El Nino yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di bagian negara yang rawan kebakaran dan memperparah pembakaran – persis seperti yang kami perkirakan," ujar Robert Field. Ancaman terbesar bagi tim pemadam adalah keberadaan api yang menjalar di bawah lapisan tanah gambut.
"Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api masuk ke bawah tanah, api tersebut tidak akan berhenti," kata Robert Field. Penanganan api underground memerlukan curah hujan tinggi yang diperkirakan baru akan turun pada akhir tahun. "Api akan terus terbakar sampai hujan datang pada bulan Oktober atau November," tutur Robert Field.
Kondisi asap yang sangat pekat justru menjadi kendala teknis bagi sistem pemantauan satelit dalam mendeteksi titik api.
"Peristiwa asap terburuk, secara paradoks, justru merupakan hal yang paling sulit diamati dari ruang angkasa dengan MODIS dan VIIRS," kata Mark Cochrane, ekolog dari University of Maryland Center for Environmental Science. Pakar menilai penanganan masalah krisis kebakaran hutan membutuhkan komitmen jangka panjang yang konsisten dari seluruh pihak. "Orang-orang cenderung berfokus pada kebakaran ini selama El Nino dan kemudian melupakannya," kata Mark Cochrane.
Pencegahan krisis emisi masa depan menuntut perhatian berkelanjutan bahkan pada tahun-tahun dengan curah hujan normal.
"Kita membutuhkan fokus yang berkelanjutan, bahkan pada tahun-tahun ketika kondisi tidak terlalu buruk, untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Mark Cochrane. Pelepasan emisi akibat kebakaran gambut terus menjadi penyumbang terbesar degradasi kualitas udara regional.
"Kebakaran ini menghasilkan jumlah emisi yang sangat besar," tutur Mark Cochrane. Hingga awal September 2026, operasi pemadaman darat dan udara terus dikerahkan di sepanjang titik panas Kalimantan dan Sumatra untuk mencegah meluasnya krisis kesehatan masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow