Tim Estafet Canutillo Raih Medali Perunggu di Kejuaraan UIL Texas
Tim estafet 4x400 meter putra Canutillo High School berhasil mematahkan prediksi dengan merebut medali perunggu dalam Kejuaraan Atletik UIL State Kelas 5A di Austin pada Jumat malam, 15 Mei 2026. Keberhasilan ini menjadi pencapaian bersejarah karena sekolah tersebut belum pernah mengirimkan tim estafet ke kompetisi tingkat negara bagian sebelumnya.
Dilansir dari El Paso Times, tim yang terdiri dari Giovannia Vaquera, Adrian Lopez, Shane Christiansen, dan David Rivas ini awalnya menempati peringkat kelima dari sembilan tim yang bertanding. Canutillo bahkan berada di posisi ketujuh pada paruh pertama perlombaan sebelum akhirnya bangkit mengejar ketertinggalan.
Perubahan posisi terjadi saat pelari ketiga, Shane Christiansen, menerima tongkat estafet dan berhasil menyalip para pesaing hingga menembus posisi ketiga. David Rivas yang menjadi pelari terakhir sukses mempertahankan posisi tersebut dari kejaran tim lawan di 150 meter terakhir menuju garis finis.
"It's not what was expected, we were supposed to get sixth," kata David Rivas, pelari jangkar Canutillo.
Rivas menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kepercayaan terhadap latihan rutin dan kerja sama antaranggota tim. Suasana stadion yang riuh dan lampu yang terang memberikan pengalaman baru bagi mereka yang tidak menyangka bisa mencapai titik ini.
"It was about trusting in our training and believing in our teammates. I've never been in a stadium like this, the crowd was roaring, the lights were bright. But we competed. It's kind of unreal. We never thought we'd be here," ujar Rivas.
Peningkatan performa para atlet ini sebenarnya sudah diantisipasi oleh asisten pelatih John Erfort yang mendampingi kepala pelatih Ruben Galaviz. Menurut Erfort, tim asuhannya mulai menunjukkan kemampuan ekstra sejak satu minggu sebelum kompetisi tingkat distrik.
"About the week before district they started to show something extra," ucap John Erfort.
Erfort menjelaskan bahwa timnya terus berkembang setiap minggu dan tidak terlihat gugup meski berstatus sebagai tim yang tidak diunggulkan di kejuaraan tersebut. Status underdog tersebut justru memberikan motivasi tambahan bagi para pelari.
"They've been getting better and better every week. The moment wasn't too big for them, they looked good," kata Erfort.
Asisten pelatih tersebut merasa bangga karena para atlet bisa bertanding lepas tanpa tekanan walaupun nama sekolah mereka sering tidak dikenali oleh pihak luar.
"They weren't nervous, they always feel like underdogs because no one knows who we are, they've never heard of us, they say our name wrong. That's fine, whatever. We're thrilled the boys were able to go out and run like that," tutur Erfort.
Keberhasilan menembus posisi tiga besar ini diakui para pelari sebagai momen yang membutuhkan kerja keras luar biasa di lintasan balap.
"I was in sixth or seventh, but I knew I had it in me, I knew I could get there," ungkap Shane Christiansen.
Christiansen menyatakan rasa terima kasih yang mendalam kepada rekan-rekan setimnya atas pencapaian yang masih sulit ia percayai tersebut.
"It's going to take me a long time (to soak this in), and I'm so grateful, I'm grateful for my brothers, my teammates, that we made it this far," sebut Christiansen.
Apresiasi besar juga dirasakan oleh anggota tim lainnya yang melihat kompetisi ini sebagai pencapaian tertinggi sekolah sejak satu dekade terakhir.
"This was a big moment for us," kata Giovannia Vaquera.
Vaquera menjelaskan bahwa ini merupakan pertama kalinya Canutillo kembali mengirimkan perwakilan ke tingkat negara bagian sejak tahun 2016.
"The first time we've been to state since 2016 (the last time the Eagles had a qualifier). This is a feeling of appreciation, appreciation for family and friends and everyone there when I needed it the most," kata Vaquera.
Rasa kebersamaan yang kuat di dalam tim diakui menjadi faktor utama yang meningkatkan rasa percaya diri para atlet saat bertanding di Austin.
"It was amazing, I give the glory to my teammates, God and my family," ujar Adrian Lopez.
Lopez menegaskan bahwa hubungan antar-atlet yang sudah seperti keluarga menciptakan rasa saling percaya yang krusial di atas lintasan.
"It was believing in each other, we all love one another, it's like a family. It gave me confidence," pungkas Lopez.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow