Tim Forensik Nepal Identifikasi Jenazah Korban Banjir Bandang
Proses identifikasi terhadap jenazah korban banjir bandang dahsyat akibat runtuhnya gletser di dekat puncak Gunung Langtang Lirung terus digenjot oleh ahli forensik Nepal. Bencana tersebut telah merenggut lebih dari 1.270 jiwa, sementara lebih dari 4.700 orang lainnya masih dinyatakan hilang, seperti dikutip dari Detik iNET.
Kondisi jasad yang membusuk akibat terendam air dalam waktu lama membuat identifikasi visual tidak mungkin dilakukan. Otoritas setempat akhirnya mengandalkan pengujian DNA sebagai metode utama untuk mengenali ratusan jasad korban.
Pihak berwenang mengimbau keluarga inti korban hilang, seperti orang tua atau anak, untuk memberikan sampel darah guna pembuatan profil DNA. Warga negara asing yang menjadi korban juga dapat mengirimkan hasil tes DNA keluarga inti dari negara asal ke Kepolisian Nepal melalui email.
Seluruh sampel darah yang terkumpul langsung dikirim ke Laboratorium Sains Forensik Kepolisian Nepal serta Akademi Sains dan Teknologi Nepal. Selain jaringan lunak dan darah, materi DNA tetap dapat diekstrak dari tulang serta gigi korban meski tubuh telah mengalami pembusukan lanjut.
"Identifikasi visual bisa jadi mustahil dilakukan pada tahap awal, yang akhirnya hanya akan menimbulkan kebingungan," kata Kerstin Montelius, pakar biologi molekuler dari Dewan Kedokteran Forensik Nasional Swedia.
Penerapan Standar Interpol DVI
Prosedur penanganan jenazah ini menerapkan standar Disaster Victim Identification (DVI) milik Interpol. Metode utama yang digunakan dalam DVI meliputi pencocokan profil DNA, pemeriksaan sidik jari, serta catatan medis gigi.
"Terdapat tiga metode identifikasi utama yang terbukti tingkat probabilitasnya tinggi dan dapat berdiri sendiri dalam proses identifikasi: pencocokan DNA, sidik jari, dan catatan gigi," ujar Montelius.
Apabila sampel barang pribadi korban seperti sikat gigi tidak ditemukan, tim forensik sepenuhnya mengandalkan sampel darah dari kerabat terdekat. Data genetik tersebut kemudian dicocokkan menggunakan sistem komputer khusus, di mana identifikasi dianggap sah jika tingkat kecocokannya mencapai 100 persen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow