Tim SAR dan Warga Banten Lanjutkan Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Smallest Font
Largest Font

Lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau masih belum ditemukan setelah sepekan pencarian intensif di Selat Sunda, kata Tim SAR dan pihak terkait pada Selasa (15/9).

Pencarian yang memasuki hari kedelapan melibatkan 18 kapal laut, satu helikopter, dan penyisiran darat di beberapa pulau sekitar seperti Pulau Sertung, Rakata Besar, dan Pulau Panjang dengan total area pencarian mencapai 6.649 nautical mile persegi, ujar Kasi Ops Basarnas Banten, Rizky Dwiyanto.

Rizky menambahkan 11 kapal difokuskan di sektor X, area yang sebelumnya ditemukan beberapa barang seperti terpal dan jaket pelampung, meski barang tersebut tidak terkait dengan korban.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa koordinasi dengan operator seluler terus dilakukan untuk memantau tanda sinyal terakhir para korban yang terdeteksi di Pulau Sebesi pada 7 September.

"Seperti kita ketahui terakhir data yang terima adalah kontak terakhir pada tanggal 7 September, berada di Pulau Sebesi, dengan demikian kita terus memantau terus mencari," ujar Nezar.

Tim SAR memperpanjang waktu pencarian selama tiga hari ke depan, berdasarkan evaluasi kondisi dan data dari BMKG dan PVMBG, kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.

Al Amrad juga menjelaskan bahwa pencarian terkendala kabut dan asap vulkanik yang menghambat operasi udara serta jarak pandang di area Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan laporan dari Basarnas Bengkulu, pencarian juga diperluas hingga wilayah perairan Bengkulu dengan keterlibatan sekitar 647 personel dan berbagai kapal serta kapal polisi.

Kasi Ops Basarnas Banten, Riski Dwiyanto, menyebutkan prediksi cuaca cerah berawan dengan ombak sekitar 2,5 meter dan angin bergerak dari tenggara ke selatan mendukung pencarian hari ini.

Sejalan dengan pencarian, warga di sekitar Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, menggelar tradisi larung kerbau di laut sebagai bentuk doa dan harapan agar para jurnalis dan kru kapal bisa ditemukan dalam keadaan selamat.

Abah Sihin, pemimpin doa dalam upacara tersebut, mengatakan, "Ketemu dengan hakikat hanya Gusti Allah yang mengabulkan. Ini mah kita memohon bantu syariat kepada karuhun-karuhun kita." Ia menambahkan bahwa ritual ini merupakan bagian dari doa yang dipanjatkan agar musibah dan bencana alam dari Krakatau dapat dihilangkan.

"Kalau tradisi memang sudah setiap tahun, setiap bulan Muharam diadakan pesta laut, yaitu ruwatan laut. Itu tradisi, sudah budaya," ujar Sihin.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed