Tim SAR Gabungan Cari Lima Jurnalis Hilang di Gunung Anak Krakatau
Tim SAR gabungan bersama TNI AL mengerahkan belasan kapal untuk mencari lima jurnalis dan tiga kru kapal yang dilaporkan hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda sejak Senin (7/9/2026).
Rombongan media tersebut sebelumnya berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menggunakan kapal cepat yang dikemudikan kapten Warta, ABK Sukarman, serta pemandu Heriyanto. Empat dari lima jurnalis tersebut sempat menginap di sebuah hotel di kawasan Pantai Carita sebelum dijemput rekan lainnya menuju Dermaga Pagedongan pada Senin siang.
Mobil operasional bernomor polisi B-1772-WMF milik rombongan jurnalis serta sebagian barang bawaan dilaporkan masih terparkir dan tersimpan di area penginapan Pantai Carita.
"Minggu (6/9) malam datang, Senin siangnya berangkat meninggalkan hotel. Rencana menginap selama dua malam," kata penjaga hotel, Maman.
Maman menjelaskan bahwa para jurnalis berangkat dijemput oleh kendaraan lain sebelum menyeberang ke kawasan vulkanik tersebut.
"Yang menginap di sini empat orang, pas siang ada yang jemput bawa mobil juga," katanya.
Ia menambahkan bahwa kendaraan dan barang-barang milik jurnalis tersebut masih berada di area penginapan.
"Ini mobil milik mereka, tas di kamar hanya tinggal satu," katanya.
Pencarian skala besar langsung diinstruksikan oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sejak laporan hilang kontak diterima pada Senin malam. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa TNI AL telah menyiagakan dan mengerahkan 11 kapal gabungan ke titik koordinat penyisiran.
"Sejak rombongan 5 jurnalis bersama 3 kru kapal dilaporkan hilang kontak, sejak Senin malam Presiden Prabowo memang sudah langsung menginstruksikan KSAL untuk segera melakukan pencarian, di hari itu juga TNI-AL langsung mengirim kapal-kapalnya," kata Seskab Teddy Indra Wijaya.
Seskab berharap seluruh anggota rombongan dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat oleh tim penyelamat.
"Doa kita untuk keselamatan seluruh rombongan. Semoga segera ditemukan dalam keadaan selamat," katanya.
Di tengah proses operasi SAR, unsur Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banten menemukan sebuah rompi pelampung (life jacket) tanpa identitas dan satu botol tabung putih di perairan barat Anyer. Penemuan ini berjarak sekitar 7,05 mil laut dari garis pantai Anyer atau 10 hingga 12 mil laut dari titik kontak terakhir (last known position).
"Untuk temuan tim KAL Anyer saat ini masih akan dilaksanakan identifikasi terlebih dahulu. Jadi, untuk kejelasannya mohon dari rekan-rekan menunggu, mengingat posisinya penemuan tersebut cukup jauh dari lokasi kejadian," kata Komandan Lanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani.
Danlanal Banten menegaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan keterkaitan barang bukti tersebut dengan rombongan jurnalis yang hilang.
"Di lokasi yang ditemukan itu baru satu buah life jacket tanpa identitas dan satu buah botol tabung putih yang sepertinya hal itu masih umum digunakan oleh nelayan. Jadi, kita tidak bisa langsung mendeklarasikan bahwa itu barang-barang yang berkaitan dengan korban," katanya.
Pihak TNI AL akan mengumpulkan seluruh barang temuan di posko utama serta mencocokkan karakteristiknya dengan keterangan pihak penyewa kapal.
"Kepastiannya kita akan kumpulkan seluruh temuan dari rekan-rekan di lapangan di posko untuk identifikasi terlebih dahulu, sebelum kita merilis apakah itu benar temuan berkaitan barang milik korban atau bukan. Jadi, kita tidak akan membuat statement yang memicu keraguan atau spekulasi yang bersifat liar," katanya.
Sementara itu, pemantauan udara yang dilakukan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pada Kamis (10/9/2026) belum membuahkan hasil atau menemukan tanda-tanda keberadaan korban di pulau-pulau sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Kalau saya pribadi dengan pesawat tadi memang belum melihat. Tapi hasil operasi hari ini tentunya dari laporan enam sektor yang ada di lapangan dan itu nanti akan reported ke posko gabungan," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.
Basarnas memastikan operasi pencarian berjalan selama tujuh hari sesuai standar panduan IAMSAR dengan memperhatikan jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap dan potensi ancaman vulkanik.
"Kami memastikan bahwa proses pencarian di lapangan masih terus berjalan dan belum dihentikan. Operasi ini melibatkan koordinasi lintas sektoral yang ketat dengan instansi terkait, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)," katanya.
Evaluasi menyeluruh bersama PVMBG, BMKG, dan tim medis dijadwalkan berlangsung pada hari ketujuh pelaksanaan operasi pencarian.
"Sesuai standar, pada hari ketujuh nanti kita akan melaksanakan rapat evaluasi yang melibatkan semuanya, baik itu PVMBG, teman-teman BMKG, hingga tim medis untuk membahas kelanjutan operasi ini," kata Kepala Basarnas.
Secara terpisah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan adanya potensi risiko bahaya erupsi bagi siapapun yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Anak Krakatau.
“BNPB tentu turut memberikan rasa hormat, prihatin, dan juga empati kami terhadap hilang kontaknya wartawan atau jurnalis yang sedang mau mengambil beberapa gambar ataupun data terkait dengan Gunung Anak Krakatau,” kata Plt. Kapusdatinkom BNPB Berton Panjaitan.
Berton membeberkan tiga ancaman utama di kawasan gunung api aktif, yaitu paparan gas beracun yang tak kasat mata, lontaran batu pijar serta lahar letusan, hingga hujan abu vulkanik berukuran mikroskopis yang berisiko merusak organ pernapasan.
“Kemudian gas beracun, ini yang yang paling kita takuti sebenarnya. Ini kadang-kadang tidak terlihat atau tidak berasa tapi bisa kita hirup dan kita mati lemas ya, jadi korban. Dengan konsentrasi di atas ambang batas dapat tentu membunuh manusia, hewan yang ada di sekitarnya,” kata Berton Panjaitan.
Berton menjelaskan bahwa bahaya sekunder berupa lontaran material padat juga memicu ancaman fatal bagi keselamatan.
“Tentu ada beberapa bahaya kenapa gunung ini kita perlu waspadai. Yang pertama adalah lontaran eh batu pijar. Itu tentu ada batu yang namanya batu itu bisa terlontar sampai jauh, bisa besar sekali dan bisa juga sampai kecil-kecil,” katanya.
Ia menuturkan lahar letusan dari kawah aktif dapat tercipta secara mendadak sewaktu-waktu.
“Yang selanjutnya adalah lahar letusan. Lahar ini terbentuk akibat letusan gunung api yang ada di dalam kawah dan ini sangat berbahaya karena dapat terjadi sewaktu-waktu bersamaan dengan letusan gunung api,” katanya.
Selain ancaman langsung di area kawah, BNPB menyoroti bahaya sebaran abu vulkanik yang jangkauannya dapat meluas ke Banten, Jawa Barat, hingga Sumatra.
“Ada juga hujan abu yang kita rasakan di Jakarta dan sekitarnya, ada di Jawa Barat, Banten, dan Lampung bahkan sampai ke Sumatra bagian selatan. Ini juga tentu zat ini sangat berbahaya juga ketika kita hirup masuk paru-paru, ini bisa seperti kaca kecil mikroskopis yang dapat membuat iritasi kulit, bahkan alveoli di dalam paru-paru luka,” kata Berton.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow